Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Mengenal Budaya Ngalase di Bulan Syawal, Dari Doa Bersama Hingga Silaturahmi di Atas Kapal  

haryadi PP • Senin, 30 Maret 2026 | 11:40 WIB

 

TRADISI: Masyarakat yang melakukan ziarah ke Makam Kesultanan Pontianak di Batulayang saat bersandar di Dermaga Kapuas Besar untuk berbelanja.
TRADISI: Masyarakat yang melakukan ziarah ke Makam Kesultanan Pontianak di Batulayang saat bersandar di Dermaga Kapuas Besar untuk berbelanja.

PONTIANAK POST – Suara deru mesin kapal motor klotok memecah ketenangan riak Sungai Kapuas. Di atas geladak yang luas, ratusan warga dari berbagai desa di Kabupaten Kubu Raya tampak bersukacita. Bagi mereka, Lebaran bukan sekadar silaturahmi dari rumah ke rumah, melainkan perjalanan spiritual dan kultural menyusuri sungai menuju Makam Kesultanan Pontianak di Batu Layang.

Tradisi ini dikenal dengan istilah ngalase atau nyekar. Bagi masyarakat Desa Madu Sari, Pasak Tiang, hingga Terentang, ziarah ke makam pendiri Kota Pontianak adalah ritual wajib yang dimulai sejak hari ketiga hingga ketujuh Idulfitri.

Abdul Kholik, warga Desa Madu Sari, Kecamatan Sungai Raya, duduk santai saat kapalnya bersandar di Dermaga Kapuas Besar. Baginya, perjalanan ini adalah mesin waktu. Ia telah mengenal tradisi ini sejak kecil, tepatnya sekitar tahun 1998.

"Dahulu saya diajak orang tua menggunakan klotok. Sampai sekarang, tradisi ini rutin dilakukan setiap bulan Syawal," kenang Kholik.

Bagi Kholik dan warga desa lainnya, jalur air tetap menjadi pilihan utama meski akses darat kini sudah tersedia. Alasannya sederhana biaya dan kebersamaan. Dengan merogoh kocek Rp30.000 untuk biaya pulang-pergi, warga sudah bisa menikmati perjalanan tanpa perlu berhadapan dengan kemacetan jalan raya. Satu kapal motor bahkan mampu menampung 200 hingga 300 orang sekaligus. Bahkan bila beruntung ada desa yang biaya transportasinya gratis, karena sudah dibayarkan oleh donatur di kampung tersebut.

"Selain praktis, momen di atas klotok ini mengobati kerinduan masa kecil. Ini menjadi ajang silaturahmi antar warga desa yang bertemu di atas kapal," tambahnya.

Tradisi ini nyatanya tidak luntur dimakan zaman. Arifin, seorang remaja kelas 1 SMA asal Desa Pasak, adalah bukti bahwa tongkat estafet tradisi ini terus bersambung. Sejak usia enam tahun, ia tak pernah absen mengikuti rombongan ziarah.

Meskipun laju motor air tergolong lambat, Arifin dan rekan sejawatnya tak ambil pusing. Bagi mereka, lambatnya perjalanan justru menjadi ruang untuk bercengkerama. Aktivitas di atas klotok telah menjadi "candu" yang ampuh mengusir jenuh.

"Orang tua selalu mengingatkan untuk terus melakukan ini. Kami tidak hanya berziarah ke makam Sultan, tetapi juga melakukan khataman Al-Qur'an di lokasi makam, setelah itu baru berwisata keliling lokasi pemakaman dan berfoto bersama." tutur Arifin.

Ritual ngalase memiliki alur yang khas. Usai melantunkan doa dan merapal ayat suci di Makam Batu Layang Siantan, rombongan biasanya akan merapat ke Dermaga Kapuas Besar. Di sana, suasana berubah menjadi riuh rendah pasar rakyat. Warga berbondong-bondong membeli pakaian atau sekadar berburu makanan untuk bekal pulang ke kampung halaman.

Jika waktu salat zuhur tiba, kapal akan bersandar di dermaga Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman. Usai menunaikan kewajiban, barulah mereka melanjutkan perjalanan pulang.

Bagi warga Kubu Raya dan sekitarnya, ziarah ini bukan sekadar mencari berkah, melainkan upaya menjaga kohesi sosial. Di atas kapal motor yang bergoyang pelan mengikuti arus Kapuas, sekat antara anak-anak, pemuda, dan tokoh masyarakat melebur dalam satu ikatan tradisi yang bernama kebersamaan. (yad)

Editor : Hanif
#kesultanan pontianak #Silaturahmi #makam #momen ziarah #kubu raya #tradisi #Lestari