Di rumah kecil yang nyaris roboh itu, Rohani terus menyimpan harapan mulia. Sederhana saja, ingin menjadi tamu Allah sebelum akhir hayatnya tiba.
Wahyu Ismir, Sungai Pinyuh
Langit masih gelap ketika Rohani mulai melangkahkan kaki menuju tempatnya bekerja. Jarum jam baru menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Di usia yang sudah menginjak 77 tahun, perempuan renta itu masih harus mengayuh tenaga demi menyambung hidup.
Tangannya yang mulai keriput tak pernah berhenti bekerja. Selama bertahun-tahun, Rohani menjalani pekerjaan sebagai asisten rumah tangga dengan upah Rp15 ribu per hari. Ia bekerja hingga pukul 06.00 pagi, lalu kembali menjalani rutinitas sederhana di rumah kecilnya di Gang Sepakat Dalam, RT 16 RW 06, Kelurahan Sungai Pinyuh.
Namun di balik penghasilan yang nyaris tak cukup itu, tersimpan sebuah mimpi besar yang terus ia peluk erat, yaitu pergi ke Baitullah untuk menunaikan ibadah umrah.
Baca Juga: Sekda Kalbar Harisson Ingatkan Jemaah Haji Singkawang Pentingnya Menjaga Kesehatan di Tanah Suci
“Keinginan saya dari dulu cuma satu, ingin melihat Ka’bah dan beribadah di Tanah Suci sebelum meninggal dunia,” ucap Rohani dengan mata berkaca-kaca.
Perempuan asal Bandung, Jawa Barat itu hidup seorang diri di rumah sederhana yang kondisinya memprihatinkan. Lantai papan rumahnya sudah banyak yang patah. Atap rumah bocor saat hujan turun. Dinding kayu tampak kusam dimakan usia.
Alih-alih memperbaiki rumahnya, Rohani memilih menahan segala kekurangan demi satu tujuan: menabung biaya perjalanan ke Tanah Suci.
“Sebenarnya rumah ini sudah lama rusak. Kalau hujan bocor di mana-mana. Tapi saya pikir rumah masih bisa ditahan, sedangkan kesempatan pergi umrah belum tentu datang dua kali,” katanya pelan.
Untuk menambah penghasilan, ibu empat anak tersebut juga bekerja membersihkan masjid tiga kali dalam sepekan. Dari pekerjaan itu, ia memperoleh upah Rp300 ribu per bulan. Uang itulah yang sedikit demi sedikit disisihkan untuk mewujudkan impiannya.
Baca Juga: Menata Kuota Haji: Dari Logika Pasar Menuju Integritas Ibadah
Perjalanan Rohani menuju Baitullah ternyata tak mudah. Pada 2023 lalu, ia pernah mengalami pengalaman pahit setelah menjadi korban dugaan penipuan travel umrah. Uang yang telah ia setorkan lenyap begitu saja tanpa ada pengembalian.
“Waktu itu saya sedih sekali. Uang hasil kerja bertahun-tahun habis. Sampai sempat bingung harus bagaimana lagi,” kenangnya.
Bagi sebagian orang, kejadian itu mungkin cukup untuk mematahkan harapan. Namun tidak bagi Rohani.
Ia memilih bangkit. Dengan sisa semangat yang dimilikinya, Rohani kembali menabung. Bahkan ia rela menjual emas yang selama ini dikumpulkannya demi melanjutkan niat sucinya.
“Tapi saya percaya, kalau niat kita baik karena Allah, pasti ada jalan. Saya tidak mau menyerah,” ujarnya.
Kini, harapan baru mulai tumbuh. Rohani mempercayakan rencana keberangkatannya kepada Aulia Wisata Travel cabang Sungai Pinyuh. Ia mengaku memilih travel tersebut setelah mendengar informasi dari masyarakat bahwa banyak jemaah umrah telah diberangkatkan setiap bulan.
“Saya dapat cerita dari orang-orang kalau travel ini sering memberangkatkan jemaah. Jadi saya kembali memberanikan diri mendaftar,” katanya.
Jika tak ada hambatan, Rohani dijadwalkan berangkat pada September mendatang.
“Saya hanya ingin bisa sujud di depan Ka’bah. Mudah-mudahan Allah masih memberi kesehatan dan umur sampai hari keberangkatan nanti,” tuturnya penuh harap.
Menjelang keberangkatannya, perempuan lanjut usia itu mulai mempersiapkan diri. Di tengah keterbatasan ekonomi dan kondisi rumah yang jauh dari kata layak, wajah Rohani tetap memancarkan keteguhan.
"Ibadah ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan. Itu adalah cita-cita panjang yang sayab perjuangkan dengan air mata, tenaga, dan pengorbanan selama bertahun-tahun," tuturnya. (*)
Editor : Hanif