Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Esie Terpilih Sebagai Anggota UNESCO di Berlin, Hanstein Bersatu Lestarikan Naskah Dunia Indonesia

Mirza Ahmad Muin • Selasa, 12 Mei 2026 | 12:03 WIB
Esie (samping kanan) ketika berkunjung ke UNESCO. (ISTIMEWA)
Esie (samping kanan) ketika berkunjung ke UNESCO. (ISTIMEWA)

Esie Hanstein dan Thoralf Hanstein dari Berlin, Jerman adalah pasangan suami istri yang menjadi aktor sekaligus multiplikator hubungan Indonesia-Jerman dalam bidang kerja sama, kemanusiaan, kesehatan, lingkungan, pendidikan dan pelestarian naskah Indonesia. Kini kedua suami istri itu juga menjadi Anggota Komite UNESCO cabang Berlin.

MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak

ESIE Hanstein bikin bangga Pontianak. Seorang dosen yang berkarir di Jerman kini turut mengemban tugas besar sebagai anggota Komite UNESCO cabang Berlin.  Organisasi dunia yang fokus pada bidang pendidikan, ilmu pengetahuan, kebudayaan dan komunikasi informasi diembannya sejak 2023.

Kabar baiknya lagi, baru-baru ini, belahan jiwanya Thoralf Hanstein juga terpilih menjadi Anggota Komite UNESCO Cabang Berlin. Pemilihan ini dilakukan berdasar kriteria, kerja keras dan sepak terjang Thoralf dalam menjaga, mendigitalisasi dan melestarikan naskah-naskah dunia yang deskripsinya disimpan di dalam sebuah portal database "raksasa" yang disebut Qalamos.

Thoralf Hanstein sendiri merupakan pegawai, kepala dan staf ahli bidang pernaskahan untuk Asia Tenggara, Arab dan Otoman Turki di Perpustakaan Nasional Berlin (Staatsbibliothek zu Berlin).

Baca Juga: Judi Online Jadi Ancaman, Polda Kalbar Perkuat Patroli Siber dan Pengawasan Transaksi

Belum lama ini, mereka berdua juga diberi kesempatan pergi ke kantor UNESCO di Paris. “Sesampainya kami disana, kami pun disambut oleh wakil duta besar Jerman di UNESCO,” ujar Esie kepada Pontianak Post kemarin.

Di sana, dia diajak mengelilingi bangunan UNESCO. Gedung ini kata Esie penuh sejarah dan penuh makna perjuangan demi kemaslahatan masyarakat dunia. Dia makin takjub setelah melihat lukisan Pablo Picasso yang terbesar di dunia yang dipajang di Gedung UNESCO.

Lukisan tersebut bercerita tentang Ikarus yang terlalu berani dan sombong, serta tidak mengindahkan nasehat bapaknya untuk tidak terbang terlalu dekat ke matahari. Karena tidak mengindahkan nasehat bapaknya inilah, akhirnya Icarus yang terbang memakai sayap yang dilem dengan waks (bahan utama pembuatan lilin) terjatuh ke dunia.

“Inti dari cerita ini adalah, bahwa sebagai manusia dan sebagai pegawai dan pekerja UNESCO, kira harus bekerja dengan rendah hati dan tidak boleh sombong dalam membantu setiap orang dan siapa saja,” ucap Esie.

Salah satu kalimat yang sangat membekas di telinga pasangan romantis ini hingga membuat sekujur badan Esie merinding saat mendengarkan Kepala Bagian Public Relations/PR) UNESCO, Niedermayer mengatakan, setelah bekerja bersama-sama di kantor  UNESCO ini, kewarganegaraan dihapus dan tidak dipandang sama sekali, karena semua harus netral di dalam melayani masyarakat dunia.

Baca Juga: Teknik Stek Mawar Dinilai Lebih Kokoh Dibanding Metode Okulasi Tanaman

“Kita ini pelayan bagi mereka yang membutuhkan dan mencari keadilan, kesetaraan dan keselamatan. Memperjuangkan kepentingan sosial kemanusiaan tidak boleh memandang kewarganegaraan, suku, ras, agama dan golongan,” tegasnya.

Karena UNESCO selalu mempunyai mata telinga dan selalu tahu, jika ada seseorang yang membantu, bergerak dan  berjuang untuk kemanusian dan memartabatkan manusia yang berkelanjutan dan tanpa pamrih (sukarela).

“Kerja keras saya demi lingkungan, pendidikan dan kesehatan yang sudah dilakukan selama ini termasuk dengan PSC di Pontianak (Kalimantan Barat) dan Makassar, Kaluppini dan Enrekang (Sulawesi Selatan) turut menjadi penilaian dan bisa membawa saya sebagai anggota UNESCO. Jam terbang saya dalam berpidato tentang SDGs, lagu-lagu saya dan juga penerapan Green Canteen dan Green Campus adalah bagian dari penilaian anggota UNESCO cabang Berlin dua tahun yang lalu,” tutupnya.(*)

Editor : Hanif
#Kerja sama #unesco #Berlin #kemanusiaan #pasangan