M. Zafir Al Fathan, bayi laki-laki berusia 8 bulan, asal Desa Rengas Kapuas, Kubu Raya itu didiagnosis jantung bocor. Ia sedang menjalani pengobatan di RSJPD Harapan Kita, Jakarta. Zafir harus segera dioperasi,tapi terhalang biaya. Ada alat yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan.
MARSITA RIANDINI, Pontianak
KEPANIKAN terpancar di wajah Mutiatul Rahmaniyah dan suaminya hari itu. Kondisi kesehatan anaknya menurun. Mereka tak punya banyak pilihan. Harus segera membawa buah hatinya ke RSJPD Harapan Kita. "Kondisi Zafir drop. Masuk ICU," ucap Mutiatul yang saat itu sudah berada di Rumah Singgah.
Ia bersyukur, anaknya bisa melewati masa kritis meski harus menjalani tranfusi darah sebanyak tiga kantong. "Darah Zafir Golongan AB yang termasuk sulit. Syukurnya ada," ungkapnya.
Kini, hampir tiga bulan Zafir dan orang tuanya berada di rumah singgah untuk menjalani rangkaian pengobatan. Keluarga mengaku terkendala biaya. Ada beberapa obat dan tindakan medis yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan. Setidaknya membutuhkan dana Rp40 juta.
Baca Juga: Iduladha 2026, Pemprov Kalbar Pastikan Bantuan Kurban Menjangkau Wilayah Terpencil
Ayahnya, Achmad Sahal bekerja sebagai buruh harian lepas. Sedangkan saat ini, mesti menemani Zafir selama menjalani serangkaian pengobatan di Jakarta.
"Sekarang di rumah singgah karena tidak bisa melanjutkan pengobatan atau operasi karena terhalang alat. Ada alat yang tidak di-cover BPJS," ucap Mutiatul.
Penyakit Zafir diketahui sejak berusia 5 bulan, setelah dibawa berobat karena sering sesak napas dan berat badan yang sulit naik. Jika menangis terlalu kencang badannya kerap membiru. "Pembuluh darahnya tertukar sehingga jantungnya mengalami kebocoran. Penyakit Zafir di ketahui pas dia berumur 5 bulan," ungkapnya.
Zafir harus menjalani perawatan intensif dan pemberian obat rutin untuk menjaga stabilitas tubuhnya. Beberapa kali ia dilarikan ke UGD karena kondisinya yang tak stabil. Penjagaan pun harus ekstra karena tiba-tiba sesak. Tempat tinggalnya pun mesti dingin, nyaman dan bersih. Berada di tempat yang panas dan pengap, ia gampang sesak dan terkena virus.
"Tidak bisa lengah di sini. Saya menyiapkan alat oksigen dan alat uap seketika dia sesak untuk pertolongan pertama. Jika makin turun, saya langsung membawanya ke IGD," ujarnya.
Baca Juga: Rapergub Beasiswa PAUD Non-ASN Diharmonisasi, Kemenkum Kalbar Dorong Pendidikan Berkualitas
Pihak keluarga berharap ada bantuan dan dukungan dari masyarakat agar proses pengobatan bisa berjalan lancar. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari bahkan untuk biaya berobat Zafir, mereka harus meminjam ke sanak saudara.
"Kami lagi cari-cari pinjaman kemana-mana tapi belom cukup. Itu alat untuk tindakan operasi nanti. Persiapan jika nanti ada keadaan yang darurat," pungkasnya. (*)
Editor : Hanif