Panen lidah buaya bersama Wakil Menteri Pertanian Sudaryono di Pontianak Utara menjadi simbol optimisme pertanian perkotaan. Lahan gambut yang terbatas terus dijaga sebagai penopang hortikultura, ekonomi petani, dan ketahanan pangan daerah.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
HAMPARAN daun lidah buaya yang hijau membentang di kawasan Pontianak Utara menjadi pemandangan yang berbeda di tengah geliat Kota Pontianak sebagai kota jasa dan perdagangan.
Dari lahan gambut yang selama puluhan tahun dipertahankan, harapan petani kembali tumbuh ketika Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mendampingi Wakil Menteri Pertanian RI Sudaryono memanen aloe vera, Minggu (28/6).
Baca Juga: Pemerintah Pusat Targetkan Lidah Buaya Pontianak Kembali Berjaya, Hilirisasi Jadi Prioritas
Panen bersama itu bukan sekadar seremoni. Di balik setiap helai lidah buaya yang dipetik, tersimpan pesan bahwa pertanian perkotaan masih memiliki ruang untuk berkembang meski dihimpit pesatnya pembangunan kota.
Bagi Edi Rusdi Kamtono, kehadiran Wakil Menteri Pertanian menjadi suntikan semangat bagi para petani. Selain ikut memanen, Sudaryono juga menyerahkan bantuan peralatan pertanian sekaligus memberikan motivasi agar para petani tetap optimistis mengembangkan komoditas unggulan Pontianak.
"Kita terbatas, karena lahan pertanian di kota ini sudah banyak terbangun. Tapi yang ada di utara ini tetap kita jaga," ujar Edi.
Pontianak Utara memang memiliki karakter lahan gambut yang berbeda dengan wilayah lain. Kondisi tersebut justru menjadi keunggulan karena cocok untuk budidaya berbagai tanaman hortikultura, termasuk lidah buaya yang telah lama menjadi salah satu identitas Kota Pontianak.
Baca Juga: Kementan Dorong Hilirisasi, Yakin Lidah Buaya Pontianak Kembali Berjaya
Saat ini sekitar 12 hektare lahan dimanfaatkan untuk budidaya aloe vera, sementara luas kawasan hortikultura di Kota Pontianak mencapai sekitar 370 hektare. Di tengah keterbatasan ruang, kawasan tersebut tetap dipertahankan sebagai salah satu penyangga produksi pertanian perkotaan.
Menurut Edi, menjaga lahan produktif bukan hanya soal mempertahankan hasil panen, tetapi juga menjaga keberlangsungan mata pencaharian petani sekaligus memastikan kota tetap memiliki sumber pangan lokal.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Menteri Pertanian Sudaryono. Ia melihat Kalimantan Barat memiliki potensi besar, tidak hanya pada sektor tanaman pangan seperti padi dan jagung, tetapi juga komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Baca Juga: Lidah Buaya hingga Kamomila, Herbal Efektif Redakan Gejala GERD Ringan
"Di Kota Pontianak ini ada kebun aloe vera atau lidah buaya. Ini saya kira bagus, tinggal kita cek nanti pasarnya ke mana," katanya.
Menurut Sudaryono, keberhasilan budidaya harus diikuti kepastian pasar agar produk petani memberikan nilai tambah yang berkelanjutan. Karena itu, pemerintah pusat berkomitmen mendukung pengembangan sektor pertanian di Kalimantan Barat.
"Intinya titip kawan-kawan petani semua di Kalimantan Barat. Kalau perlu apa pun, kita siapkan. Visi Presiden jelas, bagaimana swasembada, punya stok produksi pangan yang cukup, dan petani harus sejahtera," tegasnya.
Kunjungan tersebut menjadi penanda bahwa di tengah derasnya pembangunan kota, Pontianak masih menyimpan ruang hijau yang terus berproduksi. Dari lahan gambut di utara kota, lidah buaya bukan hanya tumbuh sebagai tanaman hortikultura, tetapi juga menjadi simbol ketahanan, harapan, dan masa depan pertanian perkotaan yang terus dijaga.(*)
Editor : Hanif