Di balik prosesi pengukuhan, sembilan profesor baru Untan memikul tanggung jawab menghadirkan ilmu yang menjawab kebutuhan masyarakat.
HARYADI, Pontianak
TEPUK tangan panjang bergema di Auditorium Universitas Tanjungpura (Untan), Selasa (30/6). Satu per satu dosen melangkah ke depan mengenakan toga hitam dan kalung jabatan, disaksikan keluarga, kolega, dan sivitas akademika yang memenuhi ruangan. Momen itu menjadi puncak perjalanan panjang mereka di dunia akademik setelah resmi dikukuhkan sebagai guru besar.
Sebanyak sembilan dosen Untan dikukuhkan sebagai profesor dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Tanjungpura. Pengukuhan tersebut menambah jumlah guru besar di Untan menjadi 86 orang dari sekitar 1.200 dosen yang dimiliki perguruan tinggi terbesar di Kalimantan Barat itu.
Sembilan guru besar yang dikukuhkan masing-masing Prof. Dr. Masriani, S.Si., M.Si., Apt., Guru Besar bidang Biokimia; Prof. Dr. Rusdiono, M.Si., Guru Besar bidang Administrasi Publik; Prof. Dr. Rizky Fauzan, S.E., M.M., Guru Besar bidang Manajemen Sumber Daya Manusia; Prof. Dr. Ir. Edy Syaputra, M.Si., dan sssGuru Besar bidang Proteksi Tanaman (Entomologi Pertanian); Prof. Dr. Ir. Hanna Artuti Ekamawati, M.Si..
Kemudian ada Guru Besar bidang Silvikultur Tropika; Prof. Dr. Eng. Ferry Hadari, S.T., M.Eng., Guru Besar bidang Rekayasa Sistem serta Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol; Prof. Dr. Ahmad Yani T., M.Pd., Guru Besar bidang Literasi Matematika; Prof. Dr. Sy. Hasim Azizurrahman, S.H., M.Hum., Guru Besar bidang Hukum dengan kepakaran Kebijakan Kriminal dan Tindak Pidana Perdagangan Orang; serta Prof. Berlian Sitorus, S.Si., M.Si., M.Sc., Ph.D., Guru Besar bidang Kimia Fisik Material.
Bagi seorang akademisi, gelar profesor bukanlah capaian yang diraih dalam waktu singkat. Di balik toga dan prosesi pengukuhan, ada puluhan tahun pengabdian, penelitian, publikasi ilmiah, hingga berbagai proses akademik yang harus dilalui. Karena itu, pengukuhan sembilan guru besar sekaligus menjadi momentum istimewa bagi Untan.
Rektor Untan, Garuda Wiko, mengatakan bertambahnya jumlah guru besar merupakan capaian yang patut disyukuri dan diharapkan menjadi inspirasi bagi para dosen lain untuk terus meningkatkan jenjang akademiknya.
"Hal ini tentu patut disyukuri dan menjadi inspirasi bagi seluruh dosen untuk mencapai jabatan akademik guru besar," ujarnya.
Menurut dia, Untan masih memiliki potensi besar untuk menambah jumlah profesor. Saat ini terdapat 249 dosen yang telah berstatus lektor kepala dan berpeluang melanjutkan ke jenjang guru besar.
Ia berharap kehadiran para profesor baru semakin memperkuat atmosfer akademik di lingkungan kampus. Tidak hanya meningkatkan kapasitas pendidikan dan penelitian, para guru besar juga diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi yang menjawab berbagai persoalan masyarakat.
Baca Juga: Perundungan, Tekanan Akademik, hingga Konflik Keluarga Picu Anak Akhiri Hidup
"Semoga kehadiran guru besar ini semakin memperkuat atmosfer akademik, mendorong riset dan inovasi, serta memberikan dampak yang lebih besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pemecahan berbagai persoalan di masyarakat," katanya.
Garuda Wiko menambahkan, momentum pengukuhan guru besar kali ini berlangsung di tengah upaya pemerintah mengakselerasi transformasi pendidikan tinggi melalui kebijakan Dikti Saintek Berdampak. Menurutnya, keberhasilan perguruan tinggi pada masa kini tidak lagi semata-mata diukur dari jumlah publikasi ilmiah atau capaian akademik, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat, memperkuat daya saing bangsa, dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan.
Karena itu, para guru besar yang baru dikukuhkan diharapkan tidak berhenti pada capaian akademik semata. Kepakaran yang dimiliki harus diwujudkan melalui langkah-langkah kolaboratif dan inovatif, sekaligus menjadi penggerak transformasi sosial yang berpihak pada keberlanjutan lingkungan dan keadilan sosial.
"Para guru besar yang dikukuhkan diharapkan dapat mengambil bagian dalam menawarkan berbagai solusi atas tantangan dan permasalahan yang dihadapi masyarakat. Kepakaran yang dimiliki harus diwujudkan melalui langkah-langkah yang kolaboratif dan inovatif," tutupnya. (**)
Editor : Hanif