Musim panen di sentra-sentra produksi Kalimantan Barat membuat pasokan durian melimpah di Kotawaringin Timur. Harga yang murah dan pilihan buah yang beragam memicu antusiasme warga berburu durian.
MIFTAH, Sampit
Musim panen di Kalimantan Barat membuat durian membanjiri pasar di Sampit, Kalimantan Tengah, dengan harga mulai Rp10 ribu per buah. Pasokan yang melimpah menjadikan durian asal Kalbar semakin diburu karena menawarkan pilihan lebih banyak dengan harga yang lebih terjangkau.
Durian Kalimantan Barat membanjiri pasar di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, seiring musim panen yang tengah berlangsung di sejumlah daerah penghasil di Kalimantan Barat. Pasokan yang melimpah membuat harga raja buah turun hingga mulai Rp10 ribu per buah, sehingga menarik minat masyarakat untuk berburu durian.
Lapak-lapak penjual durian mulai bermunculan di sejumlah titik keramaian Kota Sampit, seperti kawasan Terowongan Nur Mentaya, Taman Kota, hingga Jalan Yos Sudarso. Kehadiran durian asal Kalbar menjadi daya tarik tersendiri karena menawarkan pilihan buah yang melimpah dengan harga lebih terjangkau.
Pedagang durian, Amat, mengatakan pasokan yang masuk ke Sampit saat ini meningkat karena daerah-daerah sentra durian di Kalimantan Barat sedang memasuki masa panen.
"Sekarang memang lagi musimnya. Dari sana banyak yang panen, jadi barang mudah didapat dan kami bisa jual dengan harga lebih terjangkau," ujarnya, Sabtu (20/6) dilansir dari Kalteng Pos (grup Pontianak Post).
Menurutnya, harga durian disesuaikan dengan ukuran dan kualitas buah. Durian berukuran kecil dijual mulai Rp10 ribu per buah, sementara paket beberapa buah dibanderol sekitar Rp50 ribu. Untuk ukuran besar, harganya mencapai Rp70 ribu per buah.
Baca Juga: Durian Musang King 1 Ringgit Ludes Lima Menit, Warga Rela Antre Demi Nikmati Raja Buah
Melimpahnya pasokan durian dari Kalimantan Barat tidak lepas dari besarnya produksi daerah tersebut. Data Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Barat mencatat luas pertanaman durian mencapai 9.525 hektare dengan produksi sekitar 37.188 ton. Daerah sentra produksi tersebar di Kabupaten Sanggau, Bengkayang, Mempawah, dan Sambas.
Sementara, Berdasarkan Statistik Pertanian Tanaman Sayuran dan Buah-buahan Provinsi Kalimantan Barat 2023 yang diterbitkan BPS Kalbar, Kabupaten Sanggau menjadi penghasil durian terbesar di Kalimantan Barat dengan produksi 22.323,10 ton atau berkontribusi 41,46 persen terhadap total produksi provinsi. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Bengkayang dengan produksi 7.132,30 ton dan Kabupaten Sintang sebesar 6.025,50 ton.
Harga Lebih Murah, Pembeli Punya Banyak Pilihan
Melimpahnya pasokan membuat masyarakat lebih leluasa memilih durian sesuai ukuran dan kualitas yang diinginkan.
Baca Juga: 6 Jenis Durian Paling Populer di Indonesia: dari Bawor hingga Musang King, Mana Favorit Kamu?
Tidak hanya warga yang membeli untuk dibawa pulang, banyak pengunjung sengaja datang menikmati suasana berburu durian di lokasi penjualan. Aroma khas raja buah yang memenuhi kawasan lapak menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat.
Salah seorang pembeli, Fajar, mengaku memanfaatkan musim panen karena harga durian jauh lebih murah dibandingkan saat pasokan terbatas. "Kalau sedang banyak seperti ini enak, selain harganya lebih murah, rasanya juga tetap bagus," katanya.
Bagi pedagang, musim panen durian menjadi momentum meningkatkan penjualan. Pasokan yang melimpah membuat transaksi berlangsung lebih cepat karena tingginya antusiasme masyarakat.
Menurut Amat, banyak pembeli datang sejak pagi hingga malam untuk mendapatkan durian dengan kualitas terbaik sebelum stok habis.
Baca Juga: Saat Harga Musang King Malaysia Anjlok, Petani Durian Lokal Kalbar Tetap Panen Berkah
Durian Kalbar Makin Diminati di Kalimantan Tengah
Masuknya durian dari Kalimantan Barat ke Kalimantan Tengah menunjukkan tingginya permintaan masyarakat terhadap buah musiman tersebut. Selain menawarkan cita rasa yang khas, pasokan yang stabil selama musim panen juga membuat harga menjadi lebih terjangkau sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Bagi masyarakat Sampit, musim panen bukan sekadar waktu menikmati durian, tetapi juga kesempatan memperoleh buah berkualitas dengan harga yang lebih bersahabat. (**)
Editor : Rafael B. Junior