Di balik megahnya kampus Universitas Indonesia, tersimpan harapan besar yang dirajut. Memanfaatkan program Kepala Desa Masuk Kampus, Dharma Wira bertukar pikiran dengan ratusan kepala desa untuk mempertajam inovasi. Langkah ini jadi bekal ilmu dan optimisme baru membangun daerahnya di pesisir.
HARYADI, Pontianak
DARI pesisir terluar Kabupaten Kubu Raya, langkah Dharma Wira berayun mantap memasuki pelataran Universitas Indonesia (UI) di Depok, Jawa Barat.
Bagi Kepala Desa Medan Mas ini, perjalanan tersebut bukan sekadar urusan dinas biasa. Ini adalah perjalanan menjemput cakrawala baru, sebuah momen langka di mana "orang desa" menduduki bangku salah satu kampus terbaik di negeri ini.
Baca Juga: Kemenkum Kalbar Selesaikan Harmonisasi Raperbup Bengkayang tentang Sewa Kendaraan Dinas
Program Kepala Desa Masuk Kampus yang berlangsung dari 29 Juni hingga 2 Juli lalu, itu menorehkan sejarah baru. Untuk pertama kalinya di Indonesia, sebanyak 434 kepala desa dari berbagai pelosok nusantara dikumpulkan di satu ruang akademis.
Tujuannya satu, menempa Sumber Daya Manusia para pemimpin akar rumput agar lebih inovatif dalam membangun daerahnya.
Bagi Dharma Wira, kesempatan ini bak durian runtuh. Dari sekian banyak desa di Kubu Raya, hanya Desa Medan Mas dan Desa Jeruju Besar yang beruntung mendapat undangan kuliah singkat eksklusif ini.
"Kegiatan ini merupakan inisiatif kolaboratif antara Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa kementerian Dalam Negeri dan Universitas Tanjungpura. Program ini menjadi ruang berharga untuk saling bertukar pikiran dan berbagi pengalaman tentang bagaimana mengurus sebuah desa secara nyata," ungkap Dharma Wira kepada Pontianak Post.
Baca Juga: Sekda Harisson Dorong ASN Kalbar Adaptif dan Berintegritas Hadapi Birokrasi Modern
Membicarakan Desa Medan Mas adalah menceritakan ketangguhan berbalut potensi alam. Desa yang terletak sekitar 100 kilometer dari pusat ibu kota provinsi ini bukanlah wilayah yang mudah diakses.
Jalur darat bukanlah opsi. Siapa pun yang ingin berkunjung ke desa seluas 34,18 kilometer persegi ini harus siap mengarungi jalur sungai. Menggunakan speedboat atau motor kelotok, membelah riak air yang menjadi urat nadi transportasi warga.
Di atas tanah pesisir itu, hidup 1.048 jiwa penduduk yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai petani, pekebun, dan buruh serta hasil perikanan. Desa Medan Mas memiliki tipologi unik perpaduan antara kawasan pantai dan lahan pertanian.
Baca Juga: Lanang Dwi Kurniawan Tekankan Disiplin ASN dan Percepatan RKT Zona Integritas di Kalbar
Sejauh mata memandang, pohon-pohon kelapa berdiri kokoh menjulang. Kelapa inilah yang menjadi komoditas andalan dan potensi terbaik desa. Tak hanya itu, geliat budidaya ikan dan hamparan ekowisata mangrove yang hijau mulai dikembangkan untuk memikat dunia luar.
Namun, mengelola potensi besar dengan keterbatasan yang ada bukanlah perkara mudah. Dharma mengakui bahwa tantangan terbesar yang dihadapinya saat ini adalah bagaimana membangun sarana dan prasarana infrastruktur desa yang memadai di tengah keterbatasan anggaran dan akses.
"Efisiensi adalah kunci sekaligus tantangan tersendiri dalam mengelola roda pemerintahan desa kami," akunya jujur.
Di balik dinding-dinding ruang diskusi di Depok, Dharma Wira banyak menyerap ilmu dan perspektif baru. Ketika ditanya desa mana yang paling berkembang dan menarik perhatiannya selama diskusi, ia memberikan jawaban yang bijak.
"Semua desa yang diutus memiliki potensinya masing-masing. Tidak ada yang lebih unggul, yang ada adalah saling melengkapi," ujarnya.
Bagi Dharma, ajang silaturahmi nasional ini justru menjadi cermin. Alih-alih merasa minder, ia melihat peluang besar bagaimana karakteristik unik Desa Medan Mas sebagai kawasan pesisir dapat disesuaikan dan dikolaborasikan dengan inovasi dari desa-desa lain di Indonesia.
Pulang dari Universitas Indonesia, Dharma Wira tidak hanya membawa sertifikat atau kenang-kenangan. Ia membawa pulang secercah harapan baru yang siap disemai di sela-sela pohon kelapa dan hutan mangrove di desanya.
Dari ruang kelas di Depok, cakrawala baru telah dibuka. Membuktikan bahwa kemajuan Indonesia memang harus dimulai dari pinggiran pesisir, dari ketangguhan sebuah desa bernama Medan Mas. (*)
Editor : Hanif