Bantuan 17 kendaraan roda tiga menjadi penyemangat baru bagi para pejuang kebersihan di Pontianak. Dari gang-gang permukiman, warga mulai membangun budaya memilah sampah demi kota yang lebih bersih.
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
Setiap pagi, sebelum sebagian besar warga memulai aktivitas, Suryanto sudah lebih dulu bergelut dengan tumpukan sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Bertahun-tahun ia bersama warga mengangkut sampah menggunakan karung yang diikat di atas sepeda motor. Cara sederhana itu menjadi bukti bahwa menjaga kebersihan kota tidak selalu dimulai dengan fasilitas yang mewah.
Kini perjuangan mereka mendapat tenaga baru. Pemerintah Kota Pontianak menyerahkan 17 unit kendaraan roda tiga kepada kelompok pengelola sampah sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan pengurangan sampah berbasis masyarakat.
Baca Juga: Kanwil Kemenkum Kalbar Libatkan 74 Mahasiswa FH UPB Tingkatkan Akses Bantuan Hukum di Desa Landak
Bagi Suryanto (34), pengurus Organisasi Masyarakat Pencinta Lingkungan di Jalan Karet, Gang Angin Timur, bantuan tersebut bukan sekadar kendaraan, melainkan simbol kepercayaan bahwa kerja-kerja kecil di tingkat lingkungan memiliki arti besar bagi masa depan kota.
"Alhamdulillah kita dapat bantuan dari Pemerintah Kota Pontianak, sebuah kendaraan roda tiga yang sangat bermanfaat buat masyarakat lingkungan di Jalan Karet," ujarnya usai menerima bantuan secara simbolis dari Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono di halaman Kantor Wali Kota Pontianak, Jumat (10/7).
Ia mengenang bagaimana selama ini warga harus mengangkut sampah secara manual menuju lokasi pengelolaan. Perjalanan yang melelahkan itu kerap menjadi tantangan, terutama ketika volume sampah meningkat.
Dengan kendaraan roda tiga, proses pengangkutan residu sampah diyakini menjadi jauh lebih mudah. Warga pun dapat lebih fokus memilah sampah yang masih memiliki nilai guna sebelum sisanya dibawa ke tempat pembuangan sementara.
Di sisi lain, Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono mengingatkan bahwa persoalan sampah masih menjadi pekerjaan besar yang harus diselesaikan bersama. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Tahun 2025, timbulan sampah Kota Pontianak mencapai 480,213 ton per hari, sementara pengurangannya baru 18,87 persen. Artinya, sekitar 377,83 ton sampah masih berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) setiap hari.
"Permasalahan sampah hingga saat ini masih menjadi tantangan besar yang dihadapi seluruh daerah, termasuk Kota Pontianak," kata Edi.
Menurutnya, arah kebijakan nasional juga menuntut perubahan besar. Pemerintah pusat menargetkan tidak ada lagi pembangunan TPA baru pada 2030 sehingga daerah harus semakin serius mengurangi sampah sejak dari sumbernya.
Karena itu, ia mengajak masyarakat mengubah kebiasaan lama. Sampah tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang langsung dibuang, melainkan harus dipilah, dimanfaatkan kembali, dan hanya menyisakan residu yang benar-benar harus diangkut ke TPA.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Usmulyono menjelaskan, bantuan kendaraan diberikan kepada kelompok masyarakat yang selama ini telah aktif mengelola sampah. Selain mengangkut residu, kelompok tersebut juga diminta mendata volume sampah yang berhasil dipilah dan dikurangi sehingga manfaat pengelolaan sampah dapat terukur.
Saat ini terdapat 23 bank sampah binaan DLH Kota Pontianak. Dengan bertambahnya kelompok penerima bantuan, pemerintah berharap semakin banyak warga terlibat dalam gerakan pengurangan sampah. Dari gang-gang kecil tempat para relawan bekerja setiap hari, harapan menuju Pontianak yang lebih bersih perlahan terus bergerak, satu roda tiga dalam satu langkah perubahan. (*)
Editor : Hanif