Di beberapa negara eropa, kebiasaan minum segelas kopi tidak melulu mengecap rasa pahit dan kebermanfaatan positif bagi tubuh. Kebiasaan ngopi justru bertumbuh sebagai kebiasaan yang membudaya. Mulai dari seteguk kopi tradisi pernikahan di Turki hingga sajian kualitas terbaik rasa kopi di Italia. Pengalaman itu dirangkum Syafaruddin Usman ketika berkunjung ke beberapa negara di benua biru
MIRZA AHMAD MUIN, Pontianak
BELUM lama ini, penulis sekaligus pegiat sejarah Kalimantan Barat Syafaruddin Daeng Usman bertandang ke beberapa negara di benua biru. Dari kunjungannya ke sana, dia mendapatkan banyak hal dan pengalaman baru. Terutama tentang kebiasaan dan budaya orang-orang di negara yang dikunjunginya. Salah satu hal menarik yang tak bisa dia lupa ketika bertandang ke berbagai negara Eropa Itu, adalah kebiasaan ngopi masyarakatnya.
Diceritakan dia, saat bertandang ke Turki, pandangannya budaya ngopi tidak sekedar duduk di atas meja dan bersosialisasi. Namun kopi juga bisa memainkan peranan penting dalam upacara pernikahan. Kata dia, di sana sebelum pesta pernikahan, keluarga laki-laki mengunjungi keluarga calon mempelai perempuan. Setelah itu calon pengantin perempuan menyajikan kopi Turki untuk tamunya.
Baca Juga: Indonesia City Expo 2026 di Medan: Bawa Keladi Air dan Cita Rasa Kopi Menjemput Pasar Lebih Luas
Bagi calon suami, kopinya akan dicampur dengan sesendok garam untuk menguji karakternya. Bila diminum tanpa meringis, itu adalah bukti kejantanan, kesabaran, dan kesiapannya sebagai calon suami.
Tak hanya itu, di Turki kopi juga bisa digunakan untuk meramal. Ritual ramalan itu dilakukan seusai minum kopi, dimana cangkir kopi dibalik dan ampas kopi yang tercipta itulah yang nanti digunakan untuk meramal. Saking cintanya pada kopi, warga Turki memiliki peribahasa populer yang menyatakan bahwa kopi haruslah sangat hitam, sekuat maut dan semanis cinta.
Di ibu kota Italia, Roma, kebiasaan ngopi beda lagi. Negara yang menjadi tempat lahirnya espresso ini sangat serius dalam menyajikan kopi kualitas terbaik. Itulah sebabnya sebagian besar istilah kopi, serupa latte, macchiato, cappuccino, berasal dari Italia. Namun, meski nama-nama minuman ini sudah tak asing lagi ditelinga, pelancong yang baru pertama kali mengunjungi negara tersebut belum tentu tahu cara minum kopi di Italia yang unik.
“Ketika mengunjungi Roma, jangan pernah memesan kopi untuk take away, karena jarang ada kafe yang menawarkan layanan tersebut,” kenangnya.
Baca Juga: Dzakiyyah Nur Hasyifah Alami Penyakit Jantung Bawaan: Tubuh Membiru, Berat Badan Sulit Naik
Cappuccino itu kata dia hanya diminum untuk sarapan atau tidak lebih dari pukul 11 siang. Setelah itu, terutama setelah makan, jenis kopi yang sebaiknya dipesan adalah caffe macchiato, yaitu satu shot espresso dengan sedikit buih susu. Atau caffe, yaitu satu shot espresso.
Jika cuaca terik, disarankan pesanlah cafe freddo, yaitu espresso dingin dengan tambahan gula, atau crema di cafe, yaitu espresso yang ditambah susu dan diblender. Jika hanya menyebut latte, hanya mendapatkan secangkir susu.
Sementara bila meminta cafe, pelayan bakal serta merta menyajikan espresso. Dan jangan harap bisa duduk sambil minum kopi. Karena cara paling populer untuk mengkonsumsinya adalah sambil berdiri di bar.
Lain lagi ketika di Reykjavik, Islandia. Pengalaman minum kopi juga berbeda. Uniknya lagi, tak akan mudah menemukan jaringan kedai kopi global di sana, semacam Starbuck atau Costa Coffee, di sana lebih banyak tumbuh gerai-gerai yang dimiliki sendiri dan dikelola secara independen oleh keluarga.
Mereka juga memiliki kata-kata khusus untuk kopi yang dikonsumsi di waktu berbeda dalam sehari. Seperti morgan kahfi yang memiliki arti kopi yang dinikmati di pagi hari, atau kvold kahfi untuk sajian kopi di malam hari.
Berkat komunitas kecil barista di Reykjavik yang saling bersaing dalam hal kualitas kopi mereka, pengunjung dapat mengharapkan standar tinggi di setiap kafe. Banyak dari mereka juga menawarkan isi ulang kopi secara gratis.
Baca Juga: Kisah-Kisah di Balik Sensus Ekonomi 2026: Ditolak Warga, Dikejar Anjing, hingga Disambut ODGJ
Kemudian ngopi di Wina, Austria tidak dilewatkannya. Kedai kopi di Wina seperti pub di London. Kedai kopi di sana benar-benar memiliki peranan penting dalam membentuk budaya. Saking pentingnya, budaya kedai kopi ini mendapat pengakuan dari dunia sebagai Warisan Budaya Tak Benda Internasional.
Budaya kedai kopi di Wina berawal pada 1683, setelah pertempuran Wina berakhir dan warga setempat menemukan banyak karung kopi di perkemahan pasukan Ottoman yang ditinggalkan. Menggunakan biji kopi ini, Jerzy Franciszek Kulczycki, seorang perwira militer yang telah menghabiskan waktu sebagai tahanan di Turki, mendirikan kedai kopi pertama di Wina dengan karakteristik khas kedai kopi gaya Wina sekarang ini.
Seorang pelayan menyajikan segelas air, secangkir kopi, dan sepiring kue-kue lezat, lengkap dengan koran dan bahkan permainan kartu. Pengunjung diperbolehkan berada di kedai kopi tersebut selama berjam-jam. Entah untuk mengobrol, menulis, membaca, atau memainkan kartu.
Seperti di Kota Pontianak. Konon, Mozart dan Beethoven pernah menggelar pertunjukan untuk publik pada 1788 di salah satu kafe tertua di Wina, Cafe Frauenhofer, yang masih beroperasi hingga hari ini. (*)
Editor : Miftahul Khair