Menyingkap Jejak Dakwah Asyraf: Menyibak Peradaban Islam di Tanah Kalimantan Barat

haryadi PP • Dipublikasikan Selasa, 4 Agustus 2026 | 15:45 WIB
Para narasumber menyampaikan pandangan dalam bedah buku Siyasah Dakwah Asyraf di Kalimantan Barat Era Kerajaan Islam di Pontianak, Senin (3/8). Buku tersebut merupakan hasil riset selama hampir 12 tahun mengenai sejarah dakwah kaum Asyraf di Kalimantan Barat. (HARYADI/PONTIANAK POST)
Para narasumber menyampaikan pandangan dalam bedah buku Siyasah Dakwah Asyraf di Kalimantan Barat Era Kerajaan Islam di Pontianak, Senin (3/8). Buku tersebut merupakan hasil riset selama hampir 12 tahun mengenai sejarah dakwah kaum Asyraf di Kalimantan Barat. (HARYADI/PONTIANAK POST)

Riset selama lebih dari satu dekade dituangkan dalam buku yang merekonstruksi penyebaran Islam dan strategi dakwah kaum Asyraf di berbagai kerajaan di Kalimantan Barat.

HARYADI, Pontianak

SUASANA Ballroom Hotel 95 Pontianak, Senin (3/8), terasa hangat dan penuh nuansa intelektual. Sekitar 71 peserta dari berbagai kalangan, mulai akademisi, guru sejarah, hingga ulama pondok pesantren, berkumpul dalam bedah buku Siyasah Dakwah Asyraf di Kalimantan Barat Era Kerajaan Islam yang digelar Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Rabithah Alawiyah Kalimantan Barat.

Sampul buku menampilkan lanskap Kota Pontianak dari tepian Sungai Kapuas pada dekade 1920, koleksi Tropenmuseum Amsterdam, seolah mengajak pembaca menelusuri lorong sejarah. Buku setebal 145 halaman ini merupakan hasil kolaborasi pasangan suami istri Abu Bakar dan Syarifah Fatimah, dosen IAIN Pontianak.

Baca Juga: Mahasiswa IAIN Pontianak Mengabdi 40 Hari di Mempawah, Pemkab Berharap Lahir Inovasi untuk Masyarakat

Kehadiran buku tersebut bukan sekadar menambah koleksi literatur, tetapi mengisi kekosongan kajian mengenai sejarah ulama dan perkembangan Islam di Kalimantan Barat.

"Perlu waktu hampir 12 tahun hingga akhirnya buku ini terbit pada Mei 2026," ujar Abu Bakar, dosen IAIN Pontianak yang mengajar sejak 2010.

Menurutnya, riset ini lahir dari keprihatinan atas minimnya kajian mengenai peran keturunan Arab atau Asyraf (Hadrami) dalam sejarah dakwah Islam di Kalimantan Barat. Padahal, kiprah mereka berakar dari perjalanan panjang migrasi dari Hadramaut, Irak, Madinah, hingga India sebelum akhirnya menetap di Asia Tenggara dan berperan dalam perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Kalimantan Barat.

Buku ini merekonstruksi perjalanan dakwah ulama Asyraf di sejumlah pusat peradaban Islam, seperti Matan, Mempawah, Kubu, Pontianak, Sanggau, dan Sintang.

Baca Juga: Terungkap, Begini Jejak Dakwah Soeharto di Papua yang Masih Dikenang hingga Kini

Tak hanya menyusun kronologi sejarah, penulis juga mengulas strategi (siyasah) dakwah yang dijalankan melalui pendekatan struktural dan kultural, mulai dari lingkungan kerajaan, kepemimpinan masyarakat, hingga tata kelola kesultanan sebagai pusat perkembangan Islam.

Pendekatan tersebut dinilai mampu menjadikan kaum Asyraf sebagai penghubung antara agama, kekuasaan, dan masyarakat. Mereka mewariskan tradisi Islam yang inklusif, toleran, serta berpijak pada kearifan lokal.

Bagi Abu Bakar, buku ini merupakan karya kelimanya yang mengangkat sejarah dakwah dan fikih siyasah, sekaligus kolaborasi kedua bersama sang istri. Ia mengaku masih memiliki sejumlah rencana penelitian.

Baca Juga: Di Balik Mitos Sangkar Besi, Kisah Sultan Utsmaniyah Bayezid I Ditawan Timur Lenk Setelah Pertempuran Ankara

"Ke depan saya tertarik menulis sejarah Makam Batu Layang. Harapannya dapat berkontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan masyarakat Pontianak dan Kalimantan Barat," katanya.

Melalui Siyasah Dakwah Asyraf, masyarakat tidak hanya diajak mengenal sejarah masa lalu, tetapi juga memahami bagaimana dakwah, politik, dan budaya berpadu membentuk peradaban Islam yang damai di Kalimantan Barat.

Catatan untuk Penyempurnaan

Diskusi berlangsung dinamis ketika tiga akademisi dari berbagai disiplin ilmu menyampaikan apresiasi sekaligus masukan terhadap isi buku.

Patmawati, dosen IAIN Pontianak yang mendalami Sejarah Peradaban Islam Borneo, menilai buku tersebut sebagai karya ilmiah yang penting. Namun, ia menyarankan agar edisi berikutnya dilengkapi peta persebaran dakwah diaspora Asyraf di Kalimantan Barat.

Baca Juga: Karantina Kalbar Tahan Kacang Tanah dan Kedelai Impor Tanpa Dokumen di Bandara Supadio

"Perlu disisipkan peta penyebaran dakwah diaspora ini, sekaligus pembahasan yang lebih mendalam mengenai konsep siyasah dakwah yang identik dengan pendekatan struktural," ujarnya.

Masukan juga disampaikan Kepala Pusat Moderasi Beragama IAIN Pontianak, Faisal Abdullah. Ia menilai pembahasan mengenai hubungan harmonis ulama Hadrami dengan komunitas lokal, termasuk masyarakat Dayak dan Tionghoa, perlu diperdalam karena menjadi bagian penting dari sejarah moderasi beragama di Kalimantan Barat.

Sementara itu, Guru Besar Ilmu Sosial dan Politik Universitas Tanjungpura, Syarif Ibrahim Alkadri, menilai buku tersebut berhasil menggambarkan sejarah sosial, politik, dan religiusitas kaum Ba'Alwi asal Yaman Selatan yang datang melalui jalur dakwah, perdagangan, hingga pemerintahan lokal.

Baca Juga: Benarkah Singapura Negara Tionghoa? Mengulas Sejarah Migrasi, Budaya Multikultural, dan Identitas Nasionalnya

Ia menyarankan agar penelitian lanjutan turut mengkaji Kawasan Pedalaman Jauh (KPJ).

"Langkah ini penting untuk melengkapi perspektif sejarah, karakter geografis, serta aspek sosial, psikologis, dan budaya masyarakat Kalimantan Barat secara utuh," kata Prof. Syarif Ibrahim Alkadri.

Merawat Ingatan Sejarah

Anggota DPR RI Syarief Abdullah Alkadrie yang membuka kegiatan tersebut menilai penerbitan buku ini merupakan langkah penting dalam merawat memori kolektif sejarah Islam di Kalimantan Barat.

Menurutnya, kajian ilmiah mengenai penyebaran Islam di Bumi Khatulistiwa diperlukan agar masyarakat memahami kontribusi para tokoh terdahulu, termasuk kaum Asyraf atau keturunan Hadramaut.

"Lewat kajian ilmiah seperti ini banyak pengetahuan dan wawasan baru yang lahir. Kalau tidak didokumentasikan dalam bentuk buku, dikhawatirkan sejarah yang kita miliki akan terlupakan," ujarnya.

Ia berharap tradisi mendokumentasikan sejarah lokal melalui riset ilmiah terus berkembang sehingga menjadi warisan literasi bagi generasi mendatang sekaligus menjaga akar sejarah Kalimantan Barat dari gerusan zaman. (**)

 

Editor : Rafael B. Junior
perkembangan islam sejarah dakwah buku Dosen IAIN Pontianak