Ujung Perjalanan Karir Paripurna Harisson, dari Dokter Kampung hingga Sekda dan Pj Gubernur Kalbar

Idil Aqsa Akbary • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 20:36 WIB
Sekda Kalbar, Harisson menandatangani berkas di ruang kerjanya pada hari terakhir menjalankan tugas sebagai ASN, Senin (31/8). Mulai 1 September 2026, Harisson resmi memasuki masa purnabakti setelah 30 tahun mengabdi di Kalbar. (IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST)
Sekda Kalbar, Harisson menandatangani berkas di ruang kerjanya pada hari terakhir menjalankan tugas sebagai ASN, Senin (31/8). Mulai 1 September 2026, Harisson resmi memasuki masa purnabakti setelah 30 tahun mengabdi di Kalbar. (IDIL AQSA AKBARY/PONTIANAK POST)

Tiga dekade mengabdi sebagai ASN membawa Harisson dari seorang dokter di pelosok Kalbar hingga menduduki dua posisi strategis, yakni Sekda dan Pj Gubernur. Di hari terakhirnya sebagai Sekda, ia menutup perjalanan panjang tersebut dengan berpamitan sekaligus menitipkan pesan kepada ASN untuk terus mengutamakan pelayanan kepada masyarakat.

IDIL AQSA AKBARY, Pontianak

Tidak ada yang benar-benar berbeda dari, Senin (31/8) pagi di Kantor Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar). Aktivitas pemerintahan tetap berjalan seperti biasa. Rapat digelar, kepala perangkat daerah datang dan pergi, urusan pemerintahan dibahas, dan agenda demi agenda tetap dijalankan.

Di tengah kesibukan itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Kalbar, Harisson masih menjalankan rutinitasnya seperti hari-hari sebelumnya. Ia sempat memimpin rapat di ruang kerjanya. Menerima sejumlah kepala perangkat daerah. Berkomunikasi dengan jajaran pemerintahan. Hingga menyempatkan diri menerima awak media yang datang untuk berbincang tentang perjalanan pengabdiannya.

Baca Juga: Perluas Jangkauan Program BPDP, Sekda Harisson Minta Hak Pekebun Sawit Kalbar Terpenuhi

Tidak ada tanda-tanda sebuah rutinitas besar sedang berakhir. Namun, bagi Harisson, Senin itu berbeda. Itulah hari terakhir dirinya menjalankan tugas sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Setelah tiga dekade mengabdi di Kalbar, mulai Selasa (1/9), dokter yang kemudian menjelma menjadi birokrat tersebut resmi memasuki masa purnabakti.

Hari terakhir itu pun diwarnai perpisahan. Di sela kesibukan sebagai Sekda, Harisson menerima ucapan, dan salam dari jajaran sejawat yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan panjang kariernya.

Barangkali justru karena berlangsung di tengah rutinitas itulah perpisahan tersebut terasa berbeda. Kantor tetap sibuk. Pemerintahan tetap berjalan. Tetapi orang yang selama bertahun-tahun berada di salah satu pusat kendali birokrasi Kalbar itu tidak lagi akan menjalankan rutinitas yang sama mulai keesokan harinya.

Harisson kemudian sedikit bercerita tentang perjalanan panjang tersebut. “Saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Kalbar yang telah mendukung kinerja saya sebagai ASN,” ujar Harisson.

Baca Juga: Harisson Dorong Birokrasi Kalbar yang Agile dan Berorientasi Hasil Lewat Sinergi dengan KemenPAN-RB

Tiga puluh tahun sebelumnya, tidak ada yang tahu bahwa perjalanan seorang dokter yang datang ke Kalbar pada 1994 itu kelak akan membawanya ke dua posisi penting di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalbar.

Harisson pertama kali datang, dan mengabdi di Kalbar pada 1994. Saat itu, ia bekerja sebagai dokter di lingkungan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Sanggau. Setahun kemudian, pada 1995, ia melanjutkan pengabdiannya sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Puskesmas Teluk Batang, Kabupaten Ketapang.

Perjalanan sebagai dokter kemudian berlanjut ke Kabupaten Kapuas Hulu. Harisson bertugas di RSUD dr. A. Diponegoro Putussibau pada 1998 hingga 2000. Setelah itu, ia menjalankan tugas di sejumlah puskesmas di Kapuas Hulu. Mulai dari Puskesmas Bunut Hilir pada 2000–2001, Puskesmas Semitau pada 2001–2003, hingga Puskesmas Kedamin pada 2003–2006.

Tahun-tahun tersebut membuat Harisson bersentuhan langsung dengan masyarakat. Bukan dari balik meja birokrasi, melainkan sebagai dokter yang memberikan pelayanan kesehatan di berbagai wilayah, termasuk daerah pedalaman.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya memasuki jenjang kepemimpinan pemerintahan. Pada 2006, Harisson dipercaya menjadi Direktur RSUD dr. A. Diponegoro Putussibau. Jabatan itu diembannya hingga 2010.

Baca Juga: Sekda Kalbar Harisson Dorong Bapenda Kabupaten dan Kota Maksimalkan PAD Melalui Optimalisasi Pajak Daerah

Kariernya kemudian berlanjut ke pemerintahan Kabupaten Kapuas Hulu. Pada 2010, ia dipercaya menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu. Jabatan tersebut dijalankannya selama kurang lebih sembilan tahun.

Pada 2019, Harisson naik ke tingkat Pemprov Kalbar. Ia dipercaya menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kalbar. Pengalaman sebagai dokter sekaligus birokrat membuat Harisson berada di posisi penting ketika berbagai persoalan kesehatan dihadapi Kalbar, termasuk saat pandemi Covid-19 melanda.

Perjalanan kariernya pun tak terhenti sampai di situ. Pada 14 Januari 2022, Harisson dilantik sebagai Sekda Kalbar. Posisi tersebut menempatkannya sebagai salah satu figur sentral dalam roda pemerintahan provinsi. Sebab setahun lebih kemudian, kariernya memasuki babak yang tidak biasa.

Pada 5 September 2023, Harisson yang saat itu menjabat Sekda dipercaya menjadi Penjabat (Pj) Gubernur Kalbar. Ia mengisi kekosongan jabatan kepala daerah setelah berakhirnya masa jabatan Gubernur Sutarmidji, dan Wakil Gubernur (Wagub) Ria Norsan periode 2018–2023.

Baca Juga: Sekda Kalbar Harisson Praktikkan GAMAS, Ajak Ayah Lebih Aktif Dampingi Anak Sejak Hari Pertama Sekolah

Sebagai Pj Gubernur, Harisson menjalankan pemerintahan Kalbar dalam masa transisi hingga 20 Februari 2025. Setelah Ria Norsan, dan Krisantus Kurniawan dilantik sebagai Gubernur, dan Wagub Kalbar definitif, Harisson kembali menjalankan tugas sebagai Sekda Kalbar.

Dua jabatan itu membuat nama Harisson memiliki posisi yang cukup unik dalam sejarah birokrasi Pemprov Kalbar. Ia pernah berada di posisi tertinggi dalam birokrasi sebagai Sekda. Pada saat yang lain, ia juga pernah berada di posisi tertinggi sebagai kepala daerah, meski berstatus Pj Gubernur.

Jejak itu bahkan secara simbolis membuat wajah Harisson berada di dua tempat dalam lingkungan Kantor Gubernur Kalbar. Di ruang gubernur, terpajang jajaran foto kepala daerah terdahulu dari masa ke masa. Karena pernah menjabat sebagai Pj Gubernur, Harisson masuk dalam jajaran tersebut.

Sementara di ruang Sekda, foto para pejabat yang pernah menduduki jabatan Sekda juga ditampilkan. Sebagai mantan Sekda, wajah Harisson kembali berada dalam jajaran tersebut. Dengan demikian, satu wajah yang sama tercatat dalam dua perjalanan sejarah jabatan penting di Pemprov Kalbar, yakni jajaran kepala daerah, dan jajaran Sekda.

Harisson meninggalkan sebuah jejak unik yang tidak muncul dari satu lompatan karier, melainkan dari perjalanan tiga dekade sebagai ASN. Kini perjalanan itu sampai pada ujungnya.

Di hari terakhirnya sebagai Sekda, Harisson tak hanya berpamitan kepada jajaran pemerintahan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh ASN di Kalbar yang selama ini memberikan dukungan terhadap kinerjanya. “Saya juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh ASN yang ada di Kalbar yang telah banyak memberikan dukungan, dan juga kepada pimpinan saya, Bapak Gubernur Ria Norsan, dan Wagub Krisantus Kurniawan,” katanya.

Baca Juga: Pemprov Kalbar Matangkan Persiapan HUT Ke-81 RI, Harisson Tekankan Semangat Nasionalisme

Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama menjalankan tugas terdapat hal-hal yang belum dapat dipenuhi sesuai harapan pimpinan maupun masyarakat. “Saya memohon maaf apabila selama bekerja ada hal-hal yang tidak dapat saya penuhi sesuai ekspektasi dari pimpinan maupun masyarakat,” ucapnya.

Tidak berhenti pada ucapan perpisahan, Harisson juga meninggalkan pesan bagi ASN yang masih melanjutkan pengabdian. Ia meminta seluruh ASN terus meningkatkan pengabdian kepada masyarakat, dan menjadikan pelayanan publik sebagai orientasi utama dalam menjalankan tugas. “Saya berpesan kepada seluruh ASN di wilayah Kalbar untuk terus meningkatkan pengabdian kepada masyarakat, dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” tegasnya.

Menurut Harisson, ASN memiliki tanggung jawab besar karena memang direkrut, dan dibiayai pemerintah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. “ASN memang direkrut, dan dibiayai pemerintah dalam rangka kami memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.

Karena itu, kekompakan antar-ASN juga harus tetap dijaga. Seluruh jajaran diminta dia terus memberikan kontribusi terbaik bagi Kalbar. “Tetap kompak, tetap memberikan yang terbaik bagi pelayanan masyarakat di Kalbar,” pesannya.

Baca Juga: HUT Ke-67 Mempawah, Harisson Sebut Daerah Ini Siap Jadi Motor Ekonomi Kalbar

Senin sore itu, ketika aktivitas kantor perlahan bergeser menuju penghujung jam kerja, sebuah perjalanan panjang akhirnya benar-benar sampai pada batasnya.

Harisson datang ke Kalbar tiga dekade lalu sebagai seorang dokter. Ia melayani masyarakat di perkebunan, puskesmas, hingga rumah sakit. Kemudian dipercaya memimpin rumah sakit, menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kapuas Hulu, Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Sekda, dan akhirnya Pj Gubernur Kalbar dalam masa transisi pemerintahan.

Setelah itu, ia kembali ke kursi Sekda. Dan pada hari terakhirnya, rutinitas masih terlihat seperti biasa. Rapat tetap berjalan. Kepala perangkat daerah masih datang. Urusan pemerintahan tetap dibahas.

Satu hal yang kemudian berubah. Mulai 1 September 2026, kursi itu tidak lagi menjadi bagian dari rutinitas Harisson. Tiga puluh tahun pengabdian sebagai ASN di Kalbar resmi berakhir.

Dari ruang pelayanan kesehatan hingga ruang tertinggi di Pemprov Kalbar, perjalanan panjang itu meninggalkan jejak yang kini tersimpan bukan hanya dalam ingatan orang-orang yang pernah bekerja bersamanya, tetapi juga dalam dua jajaran foto pejabat yang menghiasi ruang Gubernur, dan Sekda Kalbar.**

Editor : Miftahul Khair
hari terakhir bertugas harisson perjalanan karier Sekda Kalbar