Melihat lawan dengan postur tubuh lebih tinggi sempat membuat atlet Club Taekwondo Mujahidin Pontianak gugup. Namun, rasa gugup itu tidak boleh dibawa masuk ke arena. Empat bulan latihan menjadi bekal mereka untuk menghadapi pertandingan internasional di Malaysia.
Ramses Tobing, PONTIANAK
PENGALAMAN itu dirasakan para atlet Mujahidin ketika mengikuti MBW Internasional Taekwondo Championship di Negeri Sembilan, Kuala Lumpur, Malaysia, 31 Juli-2 Agustus 2026. Kejuaraan tersebut mempertemukan peserta dari sejumlah negara, di antaranya Brunei, China, Chinese Taipei, Filipina, Pakistan, India, Korea Selatan, dan Indonesia.
Pelatih kelas kyorugi Club Taekwondo Mujahidin, Muhammad Fahri Rizki Darmawan, mengatakan rasa gugup merupakan hal yang wajar, terutama ketika atlet harus menghadapi lawan yang belum dikenal dalam suasana pertandingan yang berbeda.
Baca Juga: Wawako Pontianak Lepas 58 Atlet Taekwondo ke Kejuaraan Internasional di Malaysia
Menurut Fahri, ketika tiba di stadion para atlet sebenarnya sudah siap bertanding. Namun, melihat peserta dari negara lain dengan postur tubuh yang lebih tinggi sempat membuat sebagian atlet merasa grogi.
Karena itu, mental menjadi bagian penting dalam persiapan. Fahri yang mulai menjadi pelatih sejak 2022 itu terus menanamkan keberanian kepada anak-anak didiknya. Menurutnya, kemampuan teknik dan fisik tidak cukup jika atlet tidak memiliki keberanian untuk menggunakannya ketika pertandingan dimulai.
“Jadi berani saja dulu,” ujar Fahri saat diwawancarai Pontianak Post di sela-sela latihan, Minggu (30/8) pagi.
Keberanian itu tidak dibentuk dalam satu atau dua kali latihan. Sekitar empat bulan sebelum pertandingan, para atlet menjalani persiapan secara konsisten. Latihan berlangsung dari pagi hingga sore, bahkan terkadang malam.
Baca Juga: 16 Atlet Taekwondo Kalbar Berlaga di Popnas 2025, Targetkan Medali Emas
Bagi Fahri, rasa lelah selama latihan merupakan bagian dari proses. Atlet perlu terbiasa menghadapi kondisi yang tidak selalu nyaman agar tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan tekanan pertandingan. Pesan itu selalu disampaikan kepada anak didiknya. “Setiap latihan pasti melelahkan. Meskipun berlatih belum tentu menang, apalagi tidak berlatih,” katanya.
Persiapan tersebut juga dilakukan dengan menggunakan PSS (Protector Scoring System). Teknologi ini digunakan untuk membiasakan atlet dengan sistem penilaian pertandingan sekaligus mengukur kemampuan serangan.
Memasuki dua bulan sebelum pertandingan, latihan menggunakan PSS mulai diperketat. Para atlet tidak lagi sekadar diarahkan untuk mengenai sasaran, tetapi dituntut menghasilkan tendangan dengan kekuatan yang cukup agar poin dapat terbaca oleh sistem. Dengan demikian, kemampuan setiap atlet dapat diukur dan dievaluasi selama latihan. Pelatih dapat melihat kekuatan serangan serta perkembangan kemampuan atlet sebelum pertandingan sebenarnya.
Sekitar sebulan menjelang pertandingan, penggunaan PSS juga diarahkan untuk membiasakan atlet dengan pola pertandingan dan akurasi serangan. Sistem tersebut menjadi bagian dari simulasi agar atlet terbiasa menempatkan tendangan pada sasaran yang tepat, sekaligus mengetahui kemampuan dan kekurangannya sebelum masuk ke arena sebenarnya.
Bagi Fahri, latihan menggunakan PSS menjadi salah satu bentuk keseriusan peserta dalam mempersiapkan diri menghadapi pertandingan. Atlet tidak hanya dituntut mampu melakukan teknik tendangan, tetapi juga memastikan teknik tersebut memiliki kekuatan, ketepatan, dan konsistensi yang dapat menghasilkan poin dalam pertandingan. Apalagi Club Taekwondo Mujahidin menjadi satu-satunya klub di Kota Pontianak yang memiliki teknologi tersebut, menurut Fahri.
Namun, latihan fisik dan teknik bukan satu-satunya persiapan. Menjelang pertandingan, para pelatih kembali menguatkan mental atlet melalui briefing dan motivasi. Sehari sebelum bertanding, para atlet kembali diingatkan bahwa suasana kejuaraan akan berbeda dengan latihan. Mereka harus siap menghadapi lawan, arena, dan lingkungan yang baru.
Ketika Latihan Diuji di Arena
Keikutsertaan dalam kejuaraan tersebut dilakukan secara mandiri. Sebagai open tournament, kesempatan terbuka bagi peserta yang ingin ikut bertanding. Namun, keinginan tersebut tetap melalui seleksi internal klub. Pelatih mempertimbangkan kemampuan bertanding dan kesiapan mental atlet sebelum memberikan rekomendasi. Orangtua yang anaknya ingin mengikuti kejuaraan juga dapat berkonsultasi dengan pelatih untuk mengetahui kondisi dan kesiapan anak.
Pada kejuaraan di Malaysia, Club Taekwondo Mujahidin mengirimkan 11 peserta yang turun dalam 11 nomor pertandingan. Mereka terdiri dari empat perempuan dan enam laki-laki, dengan rentang usia mulai dari siswa kelas V sekolah dasar hingga peserta yang sudah tidak bersekolah.
Para atlet bertanding pada kategori poomsae atau seni dan kyorugi atau pertarungan, dengan pembagian usia pra-cadet, cadet, dan junior. Peserta juga mengikuti kelas A dan B. Di arena itulah persiapan selama empat bulan bertemu dengan situasi pertandingan yang sebenarnya.
Baca Juga: Senang Dikunjungi Pj Gubernur, Tim Taekwondo Kalbar Siap Berikan yang Terbaik
Salah satu atlet yang merasakan langsung pengalaman tersebut adalah Hanif Gibran Al Farizi. Kejuaraan di Malaysia menjadi pengalaman pertamanya bertanding di luar Indonesia.
Hanif mengaku sempat gugup karena harus berlaga di negara orang dan tidak mengenal banyak orang. Namun, latihan yang telah dijalaninya membuatnya tetap siap menghadapi pertandingan.
“Waktu tanding sempat gugup karena berlaga di negara orang. Tidak kenal banyak orang. Tetapi mental harus siap karena sudah menjalani latihan untuk bertanding,” kata pelajar kelas V Sekolah Mujahidin itu.
Bagi Hanif, latihan taekwondo tidak hanya membentuk kemampuan bertanding, tetapi juga membangkitkan kepercayaan diri.
Kepercayaan diri itu kemudian berbuah emas. Sebelumnya, Hanif telah beberapa kali mengikuti pertandingan di Indonesia dan meraih juara kedua. Medali emas di Malaysia menjadi pencapaian berbeda karena diraih dalam kejuaraan internasional.
Prestasi tersebut juga menjadi salah satu modal bagi Hanif untuk masuk sekolah melalui jalur prestasi. Ia pun masih ingin mengikuti pertandingan lainnya.
“Nanti mau ikut lagi,” ujarnya.
Baca Juga: Senang Dikunjungi Pj Gubernur, Tim Taekwondo Kalbar Siap Berikan yang Terbaik
Hasil yang dibawa pulang Club Taekwondo Mujahidin dari Malaysia menunjukkan peningkatan dibandingkan keikutsertaan mereka pada ajang yang sama pada 2025. Tahun lalu, klub tersebut meraih dua medali emas, satu perak, dan dua perunggu. Tahun ini, jumlah emas meningkat menjadi 11 medali. Seluruh medali tersebut diraih dari kelas A.
Bagi Fahri, peningkatan itu bukan semata soal jumlah medali. Ada proses latihan yang harus dijalani para atlet, termasuk membangun keberanian untuk menghadapi lawan dari negara lain. Pengalaman bertanding di Malaysia juga menjadi modal bagi para atlet untuk menghadapi kompetisi berikutnya. Menurut Fahri, prestasi tersebut turut memotivasi peserta lain di klub untuk ikut bertanding. “Prestasi ini tentu memotivasi peserta yang lain dari klub untuk ikut juga,” katanya.
Bagi Fahri, membangun atlet bukan sekadar menyiapkan tubuh untuk bertanding. Ada keberanian yang harus dibentuk, rasa percaya diri yang harus dijaga, serta mental yang terus ditempa.
Sebab, sebelum seorang atlet mampu menghadapi lawannya di atas arena, ia harus lebih dulu berani menghadapi rasa gugupnya sendiri. Setelah Malaysia, tantangan berikutnya mulai dibidik. Club Taekwondo Mujahidin berencana membawa para atlet kembali merasakan atmosfer pertandingan internasional, kali ini dengan target tampil di Thailand tahun depan. (*)
Editor : Miftahul Khair