Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sariawan Tanda Penyakit Kronis?

Ari Aprianz • Jumat, 3 Juli 2020 | 10:47 WIB
Photo
Photo
Pasti tak nyaman rasanya ketika terjadi sariawan di mulut. Aktivitas makan, minum, bahkan berbicara menjadi terganggu. Seringkali dianggap sepele, ternyata banyak kasus sariawan berhubungan dengan penyakit sistemik.

Oleh: Ghea Lidyaza Safitri

Secara umum, masyarakat beranggapan setiap segala sesuatu berbentuk luka, benjolan atau hanya berupa pewarnaan pada jaringan lunak di dalam rongga mulut adalah sariawan. Tetapi, jika dilihat dari bahasa kedokteran kondisi tersebut tidak disebut sebagai sariawan, melainkan lebih dikenal dengan sebutan lesi.

Lesi sendiri bermacam-macam, ada yang bentuknya hanya berupa penebalan warna (putih, merah dan hitam, dan lainnya) berupa bejolan hingga berbentuk seperti luka atau ulserasi. Bentuk ulserasi sendiri terbagi lagi, dilihat dari tingkat kedalamannya, ukuran, asal kejadiannya dan lainnya. Hanya saja kembali lagi secara umum masyarakat mengetahuinya sebagai sariawan.

Sariawan ternyata juga berhubungan dengan penyakit sistemik, atau kondisi keseluruhan dari tubuh seseorang. Sariawan bisa menggambarkan adanya suatu penyakit di dalam tubuh yang oleh masyarakat umum sering disebut sebagai penyakit kronis, dimana kondisi kronis mengacu pada keadaan yang sudah berlangsung lama.

Dokter Gigi Spesialis Penyakit Mulut, Selvia, mengatakan penyakit kronis yang biasanya dikenal oleh masyarakat umum sebenarnya bermacam-macam. Ada penyakit kronis akibat infeksi. Contohnya, Tuberkulosis (TBC) dari bakteri dan HIV dari virus. Kedua gejala penyakit ini ada di dalam mulut. Bentuknya bisa beda dengan penyakit lain, tapi bisa juga sama.

“Termasuk pula penyakit sistemik degeneratif seperti diabetes melitus dan hipertensi, serta penyakit autoimune juga dapat menimbulkan kelainan dan memiliki keluhan di rongga mulut, dan dikeluhkan sebagai sariawan di dalam mulut,” ungkap Selvia.

Namun, ada beberapa penyakit yang manifestasi di rongga mulutnya (oral) memiliki bentuk yang sama, meski jenis penyakitnya berbeda.

Kondisi sariawan yang paling sering terjadi dan dikeluhkan adalah adanya lesi ulserasi seperti luka dangkal dengan bentuk bulat atau oval dan terasa sangat perih dan bisa sembuh sendiri dalam beberapa hari. Dalam ilmu kedokteran dikenal sebagai penyakit Stomatitis Aftosa Rekuren (SAR). Lantas, beda sariawan biasa dan yang berkaitan dengan penyakit sistemik? Dokter di RSUD Sultan Syarief Mohamad Alkadrie Pontianak ini menuturkan memang sulit jika dilihat secara awam. Biasanya dokter gigi umum akan mengkonsultasikan pada dokter gigi spesialis penyakit mulut. Dan, tidak semua sariawan langsung diketahui penyebabnya.

“Perlu dilakukan anamesis terlebih dulu untuk mengetahui riwayat penyakit pasien dan keluarganya. Karena ada beberapa penyakit yang sifatnya genetik,” kata Selvia.

Tahap berikutnya yang dilakukan adalah pemeriksaan klinis, melihat secara visual atau dengan perabaan, atau terkadang dokter juga menggunakan alat bantu sinar atau lainnya.

"Tidak lupa menanyakan keluhan pasien dan melihat bentuk lesi untuk mengetahui arah penyakitnya. Sebelum mendapatkan diagnosis akhir dokter harus menentukan diagnosis banding. Karena cukup rumit dan serigkali bentuk lesinya mirip," tutur Selvia.

Contohnya, yang terjadi pada penderita infeksi karena Virus Herpes dengan penderita SAR yang sering terjadi. Selvia menyatakan bentuk dan ukuran lesi keduanya dapat sama, tetapi lokasi lesinya terdapat perbedaan. Infeksi virus Herpes dapat mengenai bagian gusi dan di atas lidah atau di bagian lapisan yang ada keratin.

"SAR yang sering dikeluhkan tidak mengenai bagian gusi atau di atas lidah, karena tidak akan mengenai lapisan yang ada keratinnya," ujarnya.

Selain dilakukan anamesis dan pemeriksaan klinis, biasanya juga dilakukan pemeriksaan penunjang di laboratorium, seperti darah dan urine, atau pemeriksaan radiologi dan histopatologi. Selvia menyatakan selanjutnya diarahkan ke penentuan diagnosis kerja atau jenis penyakit.

"Baru setelah itu dihubungkan dengan tindakan dan terapi yang akan dilakukan untuk mengobati pasien tersebut," jelas Selvia.

Selvia mengungkapkan harus jujur, jika memiliki penyakit penyerta yang diderita.

“Hal ini penting, sebagai contoh, jika menderita penyakit degeneratif atau infeksi kronis maka harus bekerja sama dengan dokter spesialis penyakit dalam dan atau bidang spesialisasi lainnya,” pungkasnya. (*) Editor : Ari Aprianz
#sariawan #for her