Membentak Anak Ternyata Berdampak Serius pada Emosi dan Kepercayaan Diri

PONTIANAK POST - Banyak orang tua mungkin pernah meninggikan suara saat anak tak kunjung menurut. Sekilas terasa wajar, namun kebiasaan ini menyimpan dampak yang tidak sederhana bagi tumbuh kembang anak.
Membentak sering kali dilakukan karena orang tua merasa perintahnya tidak didengar. Padahal, cara tersebut bukan solusi. Alih-alih membuat anak patuh, bentakan justru bisa meninggalkan luka emosional yang membekas hingga mereka dewasa.
Menurut Psikolog Anak dari Pusat Layanan Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), Agnes Maria Sumargi, membentak dapat membuat anak merasa takut, cemas, bahkan tidak dicintai.
’’Bentakan itu ibarat kekerasan yang tidak kelihatan. Anak bisa menyimpannya diam-diam, tapi efeknya panjang,’’ ujarnya, dikutip dari Jawapos.
Dampak lain yang kerap muncul adalah menurunnya rasa percaya diri. Anak yang terbiasa dibentak cenderung tumbuh menjadi pribadi tertutup dan sulit mengungkapkan perasaan. Hubungan dengan orang tua pun bisa menjadi renggang.
’’Mereka belajar bahwa menyampaikan emosi akan dibalas dengan teriakan, bukan pemahaman,’’ tambahnya.
Tidak hanya itu, kebiasaan dibentak juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam berkonsentrasi.
Anak menjadi sulit fokus saat belajar, mudah cemas di lingkungan sosial, dan sensitif terhadap suara keras. Kondisi ini bisa membuat mereka merasa terancam, bahkan dalam situasi yang sebenarnya aman.
Bentakan yang terjadi berulang kali juga berpotensi membentuk pola kecemasan sejak dini. Pola ini dapat terbawa hingga dewasa jika tidak disadari dan diatasi sejak awal.
Dalam beberapa kasus, anak bahkan bisa mengalami gangguan tidur, kehilangan nafsu makan, atau menunjukkan perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan emosi yang tidak tersalurkan dengan sehat.



