Oleh : Siti Sulbiyah
Tangan lincah Maya Noviza (45) begitu apik merangkai payet demi payet yang dijahit mengelilingi sebuah batu akik. Bagian merangkai payet inilah yang menurutnya paling menantang. Sebab, diperlukan kesabaran serta ketelitian.
“Karena payetnya itu kecil-kecil dan harus dijahit satu per satu,” ungkap Maya, perajin aksesoris berbahan dasar batu akik.
Membuat aksesoris dari batu bukan merupakan aktivitas yang mudah. Selain detail, payet jepang yang berukuran super mini tersebut, seringkali penglihatan menjadi lelah. Itu sebabnya banyak yang tidak betah.
“Saya banyak melatih orang tapi banyak yang tidak betah,” ujarnya.
Bagi Maya aktivitas membuat aksesoris batu kombinasi payet jepang tersebut merupakan hal yang menyenangkan. Selain menjadi hobi, membuat aksesoris dari batu juga menjadi ladang penghasilan.
Sejak lama, Maya memiliki hobi membuat aksesoris dari payet. Dia mencari inspirasi dari internet untuk menghasilkan kreasi yang menarik. Saat itu, ada kombinasi payet dan cabochon. Menurutnya aksesoris tersebut sangat cantik dan unik. Ia pun mencoba membuatnya.
Cabochon sendiri dapat diartikan sebagai bentuk/cutting batuan yang identik dengan permukaan yang cembung sementara bagian lainnya datar atau rata. Istilah cabochon ini pertama kali dikenal dari bahasa Prancis “Caboche”, yang berarti kenop atau kubah kecil.
Aksesoris kombinasi cabochon dan payet mulanya hanya untuk pemakaian pribadi. Namun karena unik, beberapa temannya justru tertarik. Berawal dari situlah, idenya untuk membuka usaha aksesoris batu akik dimulai. Tepatnya pada akhir tahun 2014 ia serius merintis usaha itu.
“Saya sebut ini hobi yang menghasilkan. Akhirnya saya ikut komunitas-komunitas pelaku usaha,” ucapnya.
Semula hanya bros yang dijual. Namun seiring berjalannya waktu, aneka aksesoris lainnya juga dihasilkan seperti kalung, anting, gelang, dan lain sebagainya. Bahkan, beberapa produknya bisa digunakan untuk dua fungsi yang berbeda.
“Ada satu produk yang bisa jadi bros sekaligus jadi mata kalung. Jadi bisa memiliki fungsi yang berbeda sesuai keinginan pemakai,” katanya.
Aksesoris batu juga dikreasikan dengan kain tenun corak insang. “Kalung bisa pakai syal corak insang, mata kalungnya bisa batu. Kalau tidak mau pakai corak insang bisa dilepas ganti dengan kain kulit biasa,” ucapnya.
Baginya, tantangan dalam membuat aksesoris adalah kreativitas. sementara kunci agar usaha kerajinan bisa berkelanjutan adalah produk yang kreatif dan inovatif. “Bagaimana membuat batu ini bisa terkesan menarik. Ini bukan batu perhiasan, tapi harus dikombinasikan sedemikian rupa agar tak kalah menarik,” jelasnya.
Di sisi lain, pangsa pasar aksesoris dari batu menurutnya cukup terbuka lebar. Sebab, aksesoris merupakan bagian penting dalam dunia fesyen. Tetapi, produk yang bagus pun harus didukung dengan pemasaran yang luas dan menyentuh segmen yang tepat.
“Untuk pemasarannya, saya berusaha untuk ikut pameran-pameran. Selain itu juga jual di marketplace,” ujarnya.
Lewat sarana itu, produknya banyak dikenal. Tak hanya lokal, konsumennya juga banyak berasal dari luar Kalbar. Dirinya berharap dapat memperluas pasar, terutama dari luar negeri. **
Editor : Siti