SEJAK - Awal Nircho Dwi berniat menikah dengan sederhana. Ia merasa cukup akad nikah di KUA yang dihadiri keluarga inti saja. Ongkos yang dinilai begitu besar dan kesibukan dalam mempersiapkan pesta pernikahan menurutnya akan merepotkan banyak pihak, terutama orang tua.
“Dari diri pribadi memang menginginkan konsep pernikahan sederhana, salah satunya cukup melakukan akad nikah di KUA saja tanpa ada resepsi yang berlebihan,” ucapnya.
Niatnya untuk menikah sederhana itu sudah ia utarakan jauh-jauh hari kepada orangtuanya. Diskusi dengan orang tua soal pernikahan dengan konsep sederhana ia lakukan bahkan sebelum ada rencana menikah. Beruntung, kedua orangtuanya tampak setuju dengan usulan tersebut dan tidak sama sekali menentang.
Pandemi Covid-19 membuat rencana Nircho untuk menikah di KUA terasa lebih mudah untuk diwujudkan. Saat proses perkenalan dengan calon pasangan dan keluarganya, keinginan itu ia utarakan. Bak gayung bersambut, keluarga dari pihak perempuan tidak mempermasalahkan apabila menggelar akad nikah di KUA dan tanpa resepsi.
“Ketika dikomunikasikan pasangan, alhamdulillah mereka menyetujui dan memaklumi keadaan saat itu. Tidak ada perbedaan pendapatan,” pungkasnya.
Pernikahan menjadi momen yang dinantikan oleh sebagian besar orang. Momen ini menjadi salah satu hal paling membahagiakan. Karena itulah tidak heran jika banyak pasangan dan keluarga ingin menggelar pesta pernikahan yang mewah.
Namun, sebagian pasangan lebih memilih pernikahan sederhana dengan hanya menggelar akad nikah di KUA. Psikolog Reni Nurhayati, S.Psi., M.Psi menilai, pernikahan merupakan momen penting penting bagi kedua pasangan maupun keluarga dari kedua belah pihak. Hal terpenting dari pernikahan adalah syarat terpenuhi, yakni akad nikah.
“Sehingga menikah sederhana di KUA itu dipandang sebagai hal yang wajar,” ucapnya.
Perayaan berupa pesta pernikahan sebenarnya hanya seremoni, yang jika tak diselenggarakan juga tidak akan menjadi masalah. Karena, esensi dari pernikahan adalah momen pada saat akad nikah tersebut.
Setiap pasangan yang memutuskan menikah di KUA tentu memiliki pertimbangan tersendiri. Entah itu alasan lebih mengutamakan esensi pernikahan itu sendiri, tidak ingin repot dan terbebani, hingga karena alasan biaya. Alasan-alasan tersebut bisa berkaitan satu sama lainnya.
Dalam hal pertimbangan biaya misalnya, pesta pernikahan tentu membutuhkan alokasi dana yang tidak sedikit. Sebut saja untuk hidangan, dekorasi, baju pengantin, seragam keluarga, undangan, souvenir, dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, barangkali akan merasa keberatan dan merasa perlu memprioritaskan hal lain yang dianggap lebih penting dan menjadi esensi pernikahan.
“Kedua calon pengantin mungkin merasa lebih penting untuk mengalokasikan uang tersebut sebagai modal bagi mereka dalam berumah tangga. Hal ini merupakan sesuatu yang realistis,” paparnya.
Menikah di KUA bagi pasangan yang menjalaninya akan memberikan dampak positif. Dia menilai, tren menikah di KUA menjadi angin segar bahwa menikah tidak membebani, meminimalisasi stres, dan tidak perlu mengikuti apa kata orang lain. Selain itu, tuntutan zaman membuat generasi muda lebih realistis dan membuang gengsi dalam menjalani kehidupan.
Terlebih, kehidupan pernikahan dimulai setelah hari H melangsungkan akad nikah. Ada banyak hal yang harus dipikirkan untuk kehidupan selanjutnya. “Bagi orang realistis yang merasa bahwa lebih efektif dan efisien menikah di KUA itu merupakan pilihan yang cukup baik. Uang dari ongkos menikah bisa digunakan lebih fungsional, entah untuk rumah, ataupun aset yang bisa digunakan dalam keluarga nantinya,” tuturnya.
Di sisi lain, keinginan untuk menikah secara sederhana di KUA ada baiknya untuk dibicarakan kepada keluarga sedini mungkin. Sebab, pernikahan bagaimanapun menyatukan dua keluarga, sehingga dalam keputusannya akan melibatkan keluarga kedua calon pasangan.
Tidak mudah melawan keinginan orang tua yang biasanya ingin menyelenggarakan resepsi pernikahan besar untuk anaknya. Karena itu butuh kelegowoan orang tua. Hal ini bisa dilakukan apabila sejak awal sudah dikomunikasikan dengan baik.() Editor : Misbahul Munir S