Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sebab Anak-anak Menjadi Pembunuh

Syahriani Siregar • Selasa, 30 April 2024 | 14:13 WIB
Ilustrasi pembunuhan. (Jawa Pos)
Ilustrasi pembunuhan. (Jawa Pos)

Pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak kerap kali mengejutkan dan membingungkan banyak orang. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan anak melakukan tindakan kekerasan ekstrim, seperti pembunuhan. Mengapa demikian?

Oleh : Siti Sulbiyah

Hanya gara-gara game online Mobile Legends, Marsel (13), seorang bocah di Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas tega membunuh temannya sendiri. Pelaku yang berinisial AW sendiri adalah teman seumuran korban.

Dikutip dari pontianakpost.co.id, pembunuhan berawal dari sakit hati pelaku kepada korban, di mana pelaku mengaku bila Marsel berutang uang sebesar Rp200 ribu kepadanya.  Korban Marsel membeli akun gim Mobile Legends sebesar Rp120 ribu dan ditambah biaya jasa joki sebesar Rp80.000 kepada pelaku AW dengan cara berhutang. Pembelian tersebut sejak November 2023.

Namun ketika AW menagih utang tersebut pada Januari 2024, Marsel mengaku belum memiliki uang. Dari situ timbul sakit hati. Terlebih AW menemukan uang di balik casing handphone dan kantong celana korban.

Merasa kesal, AW lantas merencanakan untuk membunuh korban. Pembunuhan pun terjadi pada 27 Februari 2024 di kebun jeruk yang terletak di Desa Matang Segarau, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas.

Jasad Marsel kemudian dibuang di sebuah hutan kecil. Selang tujuh hari, warga baru menemukan jasad pelajar SMP Negeri 2 Tekarang tersebut. 

Dari hasil penyelidikan polisi, Marsel dibunuh AW, temannya sendiri karena kesal korban tak membayar utang Joki game online Mobile Legends.

Pembunuhan yang dilakukan oleh anak-anak seringkali mengejutkan dan menyayat hati. Namun, fenomena ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan seorang anak melakukan tindakan kekerasan ekstrim, termasuk pembunuhan.

Ghulbuddin Himamy, M.Psi, Psikolog mengatakan, siapapun bisa melakukan kejahatan, bahkan anak di bawah umur sekalipun. Anak remaja memang labil dan belum bisa menimbang konsekuensi atas perbuatan yang dilakukan, disamping itu kemampuan pengendalian emosi masih kurang. 

“Emosi remaja mudah bergejolak dan mengedepankan emosi ketimbang nalar,” ucapnya.

Banyak faktor yang menyebabkan anak di bawah umur melakukan tindak pidana bahkan bisa melakukan pembunuhan. Rendahnya tingkat pendidikan dan nilai-nilai spiritual, lingkungan yang tidak bersahabat yang meliputi keluarga, sekolah dan masyarakat, serta Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan kemampuan ekonomi yang rendah, ditengarai menjadi rentetan faktor yang membuat anak melakukan tindakan pidana. 

“Dalam kasus ini, atas dasar ego. Perasaan kesal dan ingin membalas tanpa memikirkan konsekuensi perbuatan yang dilakukan membuat si anak tidak berpikir jernih.” terangnya.

Setiap anak memiliki masa perkembangan yang berbeda termasuk saat ia mulai mengenal emosi. Saat memasuki masa remaja, setiap anak pasti akan mengalami hal tersebut. Emosi yang labil ini bisa jadi karena pengaruh hormon yang membuat anak belum bisa mengenali emosinya. 

Anak yang menjadi pembunuh bisa juga dipengaruhi oleh tonton di televisi maupun internet. Apalagi pada masa ini anak masih mencari jati dirinya. Dalam dunia remaja, melawan peraturan atau norma kerap dianggap keren. Apalagi jika tontonan yang dikonsumsi si anak tidak diawasi oleh orang tua. 

“Pola asuh orang tua atau wali, dan kemampuan ekonomi keluarga terutama dalam hal pendidikan sangat berpengaruh dalam menumbuhkan hal-hal yang baik pada perkembangan anak,” paparnya. 

Dia menilai keluarga merupakan tonggak pertama dalam pendidikan moral dan etika anaknya. Komunikasi yang baik antar anggota keluarga, saling rukun supaya anak memiliki perasaan aman dan nyaman adalah hal terpenting dalam membangun pribadi anak anti kekerasan. 

Menurutnya, banyak remaja yang mengalami kekerasan atau terlibat kenakalan karena tidak adanya komunikasi di dalam keluarga itu sendiri. Wallau secara finansial keluarganya cukup, namun ternyata secara psikis mereka tersebut tidak nyaman di keluarga sehingga mencari kenyamanannya di luar. 

“Saat di luar, bukan mencari ke arah yang benar tetapi masuk ke dalam hal-hal yang menjurus kekerasan,” tuturnya.

Oleh karena itu peran lingkungan pun tak kalah pentingnya. Salah pergaulan menyebabkan anak akan mulai berperilaku menyimpang dan agresif. Di samping itu, fungsi sekolah adalah tempat anak belajar untuk mengasah karakternya menjadi pribadi yang disiplin dan patuh pada peraturan. 

Kedisiplinan perlu digalakkan mendeteksi, mengidentifikasi, mencari solusi, dan memberi sanksi bagi remaja yang melanggar. Sekolah menurutnya harus bertindak keras, namun juga mampu mengayomi anak-anak didiknya yang masih remaja. 

“Upaya ini tentu saja membutuhkan kejelian, ketelitian, dan ketekunan secara konsisten, mengingat kenakalan remaja semakin memprihatinkan,” ujarnya.**

Editor : Syahriani Siregar
#pembunuhan anak #pembunuh anak