Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mikroplastik ada dimana-mana, Berikut Bahayanya Bila Dikonsumsi

A'an • Sabtu, 27 Juli 2024 | 13:40 WIB

 

Ilustrasi sampah botol plastik di rumah tangga.
Ilustrasi sampah botol plastik di rumah tangga.

Mikroplastik, partikel plastik yang sangat kecil telah tersebar luas di lingkungan, termasuk dalam air minum, makanan laut, hingga udara. Meskipun tidak terlihat secara kasat mata, konsumsi mikroplastik akan berdampak serius terhadap kesehatan manusia.

Oleh : Siti Sulbiyah

Indonesia kini menempati posisi kedua di dunia dalam hal konsumsi mikroplastik oleh warganya, menurut sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Environmental Science & Technology. Studi ini mengungkap bahwa orang Indonesia menelan sekitar 13 gram mikroplastik setiap bulan. Angka ini hanya sedikit lebih rendah dibandingkan Malaysia, yang memimpin daftar dengan 15 gram per bulan.

Penelitian ini melibatkan analisis sampel makanan dan minuman dari berbagai negara di seluruh dunia oleh lembaga riset berbasis di Amerika Serikat. Selain Indonesia dan Malaysia, negara lain yang masuk dalam lima besar adalah Mesir, Filipina, Vietnam, dan Laos.

Dosen Poltekkes Pontianak, Malik Saepudin, SKM, M.Kes menilai penggunaan plastik memang memudahkan kehidupan masyarakat modern. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kontaminasi bahaya mikroplastik telah menjadi perhatian global. Ukuran dan massanya yang kecil mudah dibawa terbang oleh angin, sehingga bisa saja memasuki tubuh manusia.

“Mikroplastik, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter, sebagian besar masuk ke tubuh manusia melalui makanan laut,” ucapnya.

Ikan dan kerang yang hidup di perairan, kata dia, berpotensi terkontaminasi mikroplastik yang dapat mengakumulasi partikel tersebut dalam tubuh manusia. Penemuan mikroplastik dalam tubuh manusia tidak berhenti pada sistem pencernaan.

Dalam sebuah temuan, kata dia, mikroplastik juga telah ditemukan di testis manusia. Bahkan, studi terbaru mengungkapkan bahwa air minum dalam kemasan mengandung mikroplastik dalam jumlah jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan sebelumnya.

Malik menyebut mikroplastik telah ditemukan di mana-mana, mulai dari lapisan es di kutub hingga puncak gunung. Partikel-partikel ini menyebar melalui ekosistem dan masuk ke dalam air minum serta makanan yang dikonsumsi. Meski mikroplastik berukuran di bawah lima milimeter, nanoplastik yang berukuran di bawah satu mikrometer lebih mengkhawatirkan karena dapat masuk ke aliran darah dan mencapai organ vital.

“Masalah mikroplastik terus memburuk setiap tahun dan diprediksi akan terus meningkat. Paparan mikroplastik pada manusia dapat terjadi melalui proses pernapasan, konsumsi makanan atau minuman, dan menyerap ke dalam kulit,” papar Pemerhati Masalah Kesehatan Lingkungan

Dampak memakan makanan yang terkontaminasi plastik bagi kesehatan manusia belum sepenuhnya dipahami. Namun, kata dia, sudah ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa hal itu bisa berbahaya. Studi menunjukkan bahwa bahan kimia yang ditambahkan dalam produksi plastik bisa mengganggu sistem endokrin dan hormon yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan.

Selain itu, tambahnya, bahan kimia yang ditemukan dalam plastik telah dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan lainnya termasuk kanker, penyakit jantung, dan perkembangan janin yang buruk.

Dalam penelitian lainnya, menurut Malik mikroplastik tingkat tinggi yang tertelan juga dapat menyebabkan kerusakan sel yang memicu peradangan dan reaksi alergi

Malik menyebut sebuah studi tahun 2020 menemukan mikroplastik dan nanoplastik dalam buah dan sayuran yang dijual oleh supermarket serta produk yang dijual oleh pedagang lokal di Italia. Apel adalah buah yang paling terkontaminasi, dan wortel memiliki tingkat mikroplastik tertinggi di antara sampel sayuran.

Di Indonesia, mikroplastik dapat ditemukan di perairan laut, sedimen sungai, estuari, sedimen di lingkungan terumbu karang, bahkan dalam perut ikan. Fiber dan fragmen adalah jenis mikroplastik yang paling banyak ditemukan. Keduanya berasal dari pakaian dengan serat sintetis, alat pancing, dan jaring ikan. Keberadaan mikroplastik di dalam perut ikan dan sumber air tawar dapat menjadi jalan masuk ke tubuh manusia.

“Mikroplastik mengandung berbagai zat aditif yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu polusi udara juga mengandung mikroplastik berukuran 10 – 25 nm yang dapat terakumulasi di saluran pernafasan dan paru-paru sehingga akan mengganggu sistem pernapasan,” jelasnya.

Editor : A'an
#bahaya plastik #peduli kesehatan #plastik