Perselingkuhan seringkali dipandang sebagai pelanggaran terbesar yang bisa menghancurkan fondasi kepercayaan dalam sebuah hubungan. Namun, ada kalanya perselingkuhan justru dimaafkan dan hubungan tetap berlanjut.
Oleh: SITI SULBIYAH
SEBUAH survei yang dilakukan oleh aplikasi kencan Gleeden menyebut bahwa ada cukup banyak orang yang bisa memaafkan pasangan mereka yang berselingkuh. Mengutip Jawapos, survei ini dilakukan oleh 1.000 orang responden.
Hasilnya menyimpulkan bahwa 36,9 persen orang bersedia untuk memaafkan pasangannya usai perselingkuhan.
Dari angka tersebut, 40,1 persen orang mengklaim bahwa pengampunan mereka tergantung pada alasan perselingkuhan.
Selingkuh menurut KBBI adalah menyembunyikan sesuatu untuk kepentingan sendiri, tidak berterus terang, tidak jujur, curang, serong, dan suka menyeleweng. Menurut David J Moultrup dalam bukunya Husbands, Wives, and lovers : The Emotional System of the extramarital affair, perselingkuhan merupakan hubungan antara seseorang dengan orang lain yang bukan pasangannya yang berdampak pada tingkat keintiman, jarak emosional, dan keseluruhan keseimbangan dinamis dalam pernikahan.
Riskiyana Adi Putra, M.Psi., Psikolog mengatakan perselingkuhan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah hubungan. Tak sedikit pasangan yang mengalami perselingkuhan tetap bersama setelah mengatasi krisis tersebut.
Pemaafan atau forgiveness merupakan suatu sikap yang merubah seseorang menjadi berkurangnya keinginan untuk membalas dendam dan menjaga jarak dari pelaku, serta meningkatnya keinginan untuk berdamai.
“Suatu sikap mengganti pikiran, aksi, dan perasaan negatif menjadi lebih positif terhadap orang yang menyakitinya,” tuturnya.
Menurutnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi pemaafan diantaranya empati, ruminasi, kedekatan personal, respon dari pelaku, serta karakteristik pelanggaran sebagai pengatur dari pemaafan.
Dalam memberikan maaf khususnya dalam kasus perselingkuhan tentunya harus mempertimbangkan dampak negatif dan positif dari hal tersebut.
Ia menilai, dengan melibatkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemaafan tentunya seseorang akan memaafkan apabila lebih banyak dampak positifnya.
“Karena tentunya akan lebih berguna bagi kesejahteraan fisik dan psikologis karena perselingkuhan yang korban terima,” tuturnya.
Namun, kata dia, apabila lebih banyak dampak negatifnya tentu pemaafan malah akan menjadi bumerang yang malah akan menyakiti orang tersebut, seperti pelaku akan cenderung mengulangi perbuatannya.
Mengacu pada faktor-faktor forgiveness, tentunya karakteristik pelanggaran akan menjadi faktor yang berperan. Melihat seberapa parah masalah dan pelanggaran dalam sebuah hubungan yang dilakukan.
“Yang mana hal tersebut kembali kepada masing masing pasangan. Namun semakin ringan pelanggaran dan dampak negatifnya, maka pemaafan akan lebih mudah diberikan,” jelasnya.
Memaafkan perselingkuhan adalah keputusan yang sehat atau tidak sehat bisa dilihat dari kualitas hubungan yang membaik dan kesejahteraan mental dari pelaku dan korban sebagai dampak dari perselingkuhan yang pernah terjadi.
Lantas, strategi apa yang dapat digunakan pasangan untuk memperbaiki hubungan setelah perselingkuhan? Menurutnya, untuk kembali pada kondisi emosional sebelum diselingkuhi umumnya melalui beberapa tahap penyembuhan terlebih dahulu.
Pasangan bisa mengambil pelajaran dari pengalaman perselingkuhan dan diselingkuhi, berusaha untuk mengembalikan kepercayaan yang rusak karena khianat sebelumnya, membicarakan dan mengkomunikasikan hal-hal yang terjadi, kembali intim, dan mencoba memberikan maaf.
Jika memang diperlukan maka tidak ada salahnya dibantu oleh tenaga profesional seperti psikolog selama proses penyembuhan dan perbaikan hubungan. Hal ini karena tidak semua pasangan mampu mengkomunikasikan dengan jujur dan baik dalam hal ini.
“Dengan dibantu oleh tenaga profesional, maka proses pemulihan akan menjadi lebih terarah,” imbuhnya.(*)
Editor : Miftahul Khair