PONTIANAK - Perbedaan pandangan tentang memiliki anak bisa menjadi isu besar dalam sebuah pernikahan.
Ketika salah satu pasangan baru mengetahui keinginan pasangannya untuk hidup childfree setelah menikah, situasi ini dapat menimbulkan kekecewaan bahkan ketegangan.
Dwi Surya Purwanti, M.Psi., Psikolog menilai idealnya keputusan untuk punya atau tidak punya keturunan sudah dilakukan jauh sebelum menikah. Sehingga sejak awal sudah diketahui apakah calon pasangan penganut childfree atau tidak.
"Apabila tujuan sebuah hubungan adalah pernikahan, pasti semuanya berencana untuk merancang masa depan bersama, termasuk membicarakan soal keturunan," katanya.
Apabila tidak didiskusikan sejak awal, hal itu akan menimbulkan penyesalan bagi kedua pasangan ketika telah sah menikah karena sulit untuk mewujudkan keinginan masing-masing.
Keinginan yang bertolakbelakang ini akan muncul masalah di kemudian hari. Apalagi jika keduanya bersikeras akan keinginannya dan sulit mengalah.
"Kalau kondisinya seperti ini pasti akan menimbulkan penyesalan bagi orang yang ingin punya anak," ucapnya.
Ia menilai hal yang bisa dilakukan ketika pasangan tidak ingin memiliki anak adalah terlebih dahulu mencari tahu apa yang membuat pasangan enggan memiliki anak.
Apabila penyebabnya dipicu trauma, ada baiknya dibantu untuk memulihkan trauma tersebut dengan meminta bantuan ahli. Harapannya, dengan pemulihan tersebut, pasangan bisa mengubah keputusannya.
"Kita harus lebih banyak bersabar. Jangan terburu-buru berharap pasangan segera berubah. Dan jangan buru-buru kecewa, bahkan mengambil keputusan untuk berpisah," katanya.
Langkah yang bisa dilakukan selanjutnya adalah melakukan komunikasi dengan baik, pelan-pelan dan tidak terburu-buru.
Bila belum sepakat, Dwi menyarankan untuk berlapang dada, dan ikhlas menerima keputusan tersebut apabila memang ingin mempertahankan pernikahan dan mencintai pasangan.(sti)
Editor : Miftahul Khair