Di tengah tantangan keberagaman dan kerusakan lingkungan, muncul sebuah inisiatif yang menjembatani kedua isu penting ini dengan pendekatan yang inovatif dan inklusif. Para pemuda-pemudi di Kalbar ini mengambil langkah-langkah konkrit untuk mengintegrasikan pelestarian lingkungan dengan kerukunan antar pemeluk agama, etnis dan budaya.
Oleh : Siti Sulbiyah
Pura Giri Kertha Bhuwana Kalimas, Kubu Raya, Minggu (4/8) pagi tampak dihadiri belasan oleh pemuda lintas agama. Mereka datang untuk membawa misi lingkungan sekaligus nilai-nilai keberagaman.
Acara ini dihadiri oleh berbagai masyarakat hindu, termasuk pengurus pura dan tokoh masyarakat. Inisiator dari kegiatan dengan nama Jumpa BinaKu ini adalah Sahabat Eco Bhinneka yang memiliki komitmen yang kuat terhadap pelestarian lingkungan dan semangat keberagaman.
Lokasi acara yang dipilih adalah lingkungan pura, yang selama ini dikenal sebagai pusat kegiatan budaya dan spiritual di daerah tersebut. Pura ini tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi simbol kehidupan sosial dan kebersamaan bagi masyarakat.
Kegiatan yang diselenggarakan di bulan kemerdekaan ini diisi dengan penyerahan tumbuhan bunga dan bibit buah yang dilanjutkan dengan dialog interaktif yang mengundang partisipasi aktif dari semua peserta. Diskusi ini membahas berbagai isu lingkungan yang sedang dihadapi oleh masyarakat, serta bagaimana solusi yang dapat diimplementasikan secara bersama-sama.
Acara diakhiri dengan ramah tamah bersama anak-anak Sekolah Minggu di Pura Giri Kertha Bhuwana Kalimas. Momen ini menjadi sangat berarti, di mana generasi muda diajak untuk terlibat dalam diskusi mengenai pentingnya pelestarian lingkungan sejak dini. Anak-anak terlihat antusias mendengarkan penjelasan tentang flora dan fauna lokal serta cara-cara sederhana yang dapat mereka lakukan untuk menjaga lingkungan.
Octavia Shinta Aryani, Regional Manager Eco Bhinneka Kalbar mengatakan kegiatan ini adalah salah satu upaya organisasi ini untuk membangun kesadaran dan menanamkan nilai-nilai positif tentang lingkungan dan keberagaman.
Shinta memberikan perhatian pada isu keberagaman dan lingkungan. Upaya itu dilakukan salah satunya lewat Eco Bhinneka Kalbar yang kemudian membentuk komunitas bernama Sahabat Eco Bhinneka.
Eco Bhinneka merupakan program dari organisasi Muhammadiyah yang beroperasi sejak tahun 2021. Program ini lantas menginisiasi komunitas Sahabat Eco Bhinneka yang mulai berdiri tahun 2022. “Saat ini anggota Sahabat Eco Bhinneka ada 32 orang,” katanya.
Shinta mengatakan ia memiliki pengalaman pahit menghadapi konflik etnis di Kalimantan Barat. Itulah sebabnya ia fokus dengan isu tersebut agar tidak kembali terjadi di masa mendatang.
“Saya punya trauma dari tahun 1999 ketika konflik etnis melanda. Waktu itu saya sudah SMA dan sangat mengerti situasi yang terjadi,” ungkapnya.
Suasana mencekam yang dirasakannya saat itu meninggalkan kesan mendalam, sehingga Shinta sangat peka terhadap potensi konflik yang dapat muncul kembali. “Mendengar suara sirine saja, takut dan tidak berani keluar rumah,” tambahnya.
Trauma tersebut masih melekat di masyarakat Kalbar hingga saat ini. Itulah mengapa ketika ada percikan kecil, bisa memunculkan potensi bahaya. Konflik yang terjadi pada masa lalu menyebabkan dampak yang membekas bertahun-tahun hingga saat ini.
Itulah alasan lahirnya pergerakan yang mengusung isu keberagaman menyasar kalangan pemuda lintas agama. Dengan pendekatan lingkungan, nilai-nilai keberagaman dapat ditumbuhkan.
Melalui Eco Bhinneka, kampanye untuk melestarikan lingkungan dan merajut keberagaman, dilakukan dengan pendekatan para tokoh lintas agama. “Kami pernah melakukan studi, orang Kota Pontianak masih percaya apa yang dikatakan tokoh agama, lalu kemudian percaya pada platform media sosial,” terangnya.
Pihaknya menjalin komunikasi dengan tokoh agama tingkat provinsi seperti Matakin, Gereja, Keuskupan Agung, MUI, dan pimpinan tokoh agama lainnya.
Sahabat Eco Bhinneka kini memiliki anggota perwakilan dari enam agama di Indonesia, perwakilan organisasi budaya, serta perwakilan penggiat lingkungan. Isu keberagaman dan pelestarian alam dikolaborasikan dalam wadah ini.
“Karena kerusakan lingkungan tidak memandang dampaknya kepada siapa, korbannya dari berbagai suku dan agama,” ucapnya.
Kegiatan dari Eco Bhinneka antara lain menanam di rumah ibadah, gowes dari satu rumah ibadah ke rumah ibadah lain, pelayanan kesehatan, hingga diskusi persoalan toleransi dan lingkungan. Adapun kegiatan pembinaan seperti sekolah kader dan sekolah kepemimpinan.
“Seperti kegiatan bersepeda pernah diikuti biarawati. Kami bersepeda sambil membawa bibit ke gereja, vihara, klenteng, hingga ke pura,” ucapnya.
Kehadiran Eco Bhinneka tidak hanya untuk merayakan kemerdekaan dengan cara yang bermakna, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pelestarian lingkungan dan pengakuan terhadap keberagaman budaya.
Jarak Menimbulkan Prasangka
Titah Saputri, Regional Staff Eco Bhinneka Kalbar mengatakan gerakan pelestarian lingkungan sudah banyak. Gerakan yang membawa isu perdamaian dan keberagaman juga sudah cukup banyak. Namun, tidak banyak gerakan yang menjembatani kedua isu.
“Gerakan pelestarian lingkungan sudah banyak, begitu pula dengan gerakan yang membawa isu perdamaian dan keberagaman. Namun, sedikit yang menggabungkan kedua isu ini dalam satu wadah,” ujar Titah.
Ia percaya bahwa lingkungan bukan hanya masalah ekologis, tetapi juga bisa menjadi alat yang ampuh untuk mempererat kerukunan sosial. Eco Bhinneka Kalbar menjadi wadah yang menjembatani kedua isu tersebut.
Namun, tidak mudah untuk melibatkan individu dari berbagai latar belakang agama dan suku dalam satu gerakan pelestarian lingkungan “Ketika kita mengajak orang dari latar belakang yang berbeda untuk berkolaborasi, sering kali muncul jarak dalam komunikasi. Jarak ini bisa menimbulkan prasangka,” jelas Titah.
Meski demikian, ia melihat potensi besar dalam mengatasi tantangan tersebut. “Yang berbeda itu bukan untuk menjadikan semuanya sama, melainkan untuk menciptakan kehidupan yang harmonis.”
Titah menggarisbawahi pentingnya dialog dan pembelajaran dalam proses ini. Kecurigaan bisa diatasi dengan pengetahuan. Karena itu penting untuk terus belajar dan menggali informasi akan membuka jalan bagi dialog yang konstruktif. Dengan memahami satu sama lain secara mendalam, perbedaan bisa dijadikan sebagai kekuatan untuk membangun kerukunan yang lebih solid.
Titah berharap bahwa pergerakan ini akan berjalan dengan baik, membawa manfaat bagi lingkungan dan sekaligus memperkuat kerukunan antarumat. “Ilmu dan pemahaman adalah kunci untuk merajut kerukunan,” tutupnya.
Ryan, seorang penggiat lingkungan menceritakan kesannya berkecimpung dalam pergerakan yang mengusung isu lingkungan dan keberagaman melalui komunitas Sahabat Eco Bhinneka. Menurutnya, bergabung dengan Sahabat Eco Bhinneka memberikan sudut pandang baru tentang harmonisasi hidup.
“Saya mendapatkan pandangan bahwa kita sering terjebak dalam egosentrisme, merasa kelompok kita yang paling benar. Melalui wadah ini, saya melihat bahwa toleransi dan pelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan,” ujarnya.
Bergabung dengan Sahabat Eco Bhineka adalah momen berharga bagi Rian. Melalui komunitas ini, ia tidak hanya memperdalam kecintaannya pada pelestarian lingkungan, tetapi juga berkontribusi dalam merajut keberagaman dan persaudaraan. (sti)
Editor : A'an