Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Menyiapkan Remaja dengan Pengetahuan Seksual

A'an • Rabu, 4 September 2024 | 13:30 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Pendidikan seks sering kali dianggap sebagai topik tabu untuk diberikan kepada remaja. Namun, masa remaja adalah periode penuh rasa ingin tahu. Ketika informasi yang mereka butuhkan tidak tersedia, mereka cenderung mencari jawaban sendiri atau bertanya kepada teman, yang sering kali memberikan informasi yang tidak akurat atau menyesatkan.

 

Oleh : Siti Sulbiyah

 

Dalam Jurnal Vokasi Kesehatan berjudul Determinan Perilaku Seks Pranikah Remaja Di Kota Pontianak yang dirilis tahun 2019 menunjukkan bahwa sebagian besar siswa tidak mendapatkan pendidikan seksual dari orang tua.

Penelitian ini dilakukan pada siswa SMP dan SMA di Kecamatan Pontianak Barat Kota Pontianak sebanyak 281 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 53.4 persen responden menyatakan bahwa orangtua tidak pernah memberikan pendidikan seksual, 70.8 persen masih menganggap tabu dalam membicarakan tentang seks.

Dalam penelitian yang sama, juga diketahui bahwa responden yang pernah berpacaran sebanyak 59,1 persen dan terpapar pornografi 66,2 persen. Data mengejutkan lainnya adalah 27 persen responden mengakui melakukan onani/masturbasi, 48,8 persen berpengetahuan kurang baik tentang seksualitas, 23,8 persen berniat melakukan perilaku seks pranikah, dan 34,2 persen melakukan perilaku seks pranikah (kissing, necking, petting, intercourse).

Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 10 Pontianak, Endah Fitriani, M.Psi menilai pendidikan seks di Indonesia masih dianggap menjadi satu hal yang tabu untuk diberikan kepada anak-anak dan remaja. Orangtua dan orang dewasa merasa risih dan enggan saat anak-anak dan remaja menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan seks.

“Orang tua memilih untuk mengalihkan pembicaraan atau mengatakan pada mereka jika mereka akan tahu dengan sendirinya saat dewasa,” ucapnya. 

Dirinya mengingatkan betapa penting pendidikan seksual bagi remaja. Hal ini dikarenakan dengan diberikannya edukasi tentang seksualitas dapat membuat remaja mengetahui atau mengenal perubahan-perubahan yang terjadi di fase remaja dan secara seksual terutama berpengaruh terhadap bagaimana pola-pola pergaulan remaja dengan remaja lainnya. 

Dengan anak mengetahui pendidikan seksual dapat membuat anak lebih memahami tentang diri dan lingkunganya hal dapat membuat anak lebih bisa menjaga dirinya dari hal apapun. “Dalam hal memilih teman yang lawan jenis juga anak dapat lebih berhati-hati dan pergaulan di luar lingkungan rumahnya,” paparnya.

Ia menekankan, orangtua memiliki tanggung jawab yang besar untuk memberikan pemahaman kepada anaknya mengenai perilaku seksual. Peran orangtua dalam pendidikan seks antara lain peran kerjasama, evaluator, pendidik, pendamping, dan pemantau dalam persoalan seksual. 

Peran tua dalam menciptakan lingkungan yang mendukung dan terbuka untuk diskusi tentang hal ini juga penting. Hal yang paling utama, kata dia, adalah bagaimana orang tua bisa memposisikan dirinya sebagai teman bagi remajanya, karena fase remaja merupakan fase dimana anak akan menganggap sosok seorang temanlah yang bisa sangat dipercayainya.

“Jadi sekarang bagaimana orang tua dapat menciptakan lingkungan yang diinginkan oleh anak, tidak keras dan tidak menggunakan kata-kata yang kasar,” ucapnya.

Orang tua menurutnya dapat membantu mencegah pergaulan bebas dengan cara memberikan pengawasan dan pemantauan yang tepat terhadap aktivitas anak-anaknya. Selain itu, orang tua juga dapat memberikan pendidikan dan sosialisasi yang tepat mengenai bahaya pergaulan bebas dan dampak negatifnya pada pelajar.

Kurangnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan seksual anaknya yang remaja, dapat menjerumuskan anak pada pergaulan dan seks bebas. Sayangnya, masih banyak orang tua yang menganggap seks menjadi satu hal yang tabu untuk diberikan kepada anak-anak dan remaja

“Dengan tidak memberikan jawaban tentang seks secara baik, benar dan jelas kepada anak-anak dan remaja, hal ini akan menimbulkan masalah baru di masyarakat,” katanya. 

Ia menambahkan bahwa perubahan fisik dan hormonal pada remaja saat peralihan dari anak-anak menjadi remaja, membuat mereka merasa ingin tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi dengan tubuh mereka. Remaja yang dipenuhi dengan rasa ingin tahu, akhirnya akan mencari tahu sendiri atau bertanya ke teman yang tidak sedikit memberikan pengetahuan yang salah kepada mereka mengenai seks.**

Editor : A'an
#Pengetahuan Seksual #Remaja #peran orang tua