Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Memilih Jajanan Sehat untuk Anak

A'an • Jumat, 13 September 2024 | 12:40 WIB

 

Ilustrasi jajanan anak.
Ilustrasi jajanan anak.

Memilih jajanan yang sehat di sekolah adalah langkah penting untuk mendukung kesehatan anak. Namun, dengan banyaknya pilihan yang tersedia, memilih jajanan yang sehat bisa menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. 

 

Oleh : Siti Sulbiyah

 

JAJANAN di sekolah sering kali menjadi salah satu aspek penting dalam kehidupan sehari-hari anak-anak. Memilih jajanan tidak hanya bertujuan untuk memuaskan rasa lapar tetapi juga memberikan nutrisi yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. 

Namun, saat ini jajanan tidak sehat mudah untuk ditemui, termasuk di sekitar lingkungan sekolah. Mulai dari minuman bersoda, minuman mengandung gula tinggi, hingga makanan yang tinggi garam dan lemak. Bahkan, ada pula makanan dengan penggunaan pewarna yang tinggi. Jajanan semacam ini cukup menarik perhatian anak-anak dengan kemasan yang mencolok dan harga yang terjangkau.

“Jajanan anak-anak sekarang lebih banyak yang tersedia adalah jajanan orang dewasa, seperti makanan cepat saji, padahal kandungan makanan (cepat saji) itu tinggi gula, garam, dan lemak,” ucap dr. Iit Fitrianingrum, M. Biomed, dosen prodi S1 Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.

Menurutnya, konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) dalam jumlah berlebih dapat berdampak tidak baik untuk kesehatan anak, terutama dalam jangka waktu yang panjang.

Jajanan bagi anak merupakan pelengkap kebutuhan gizi mereka. Terlebih, usia anak yang cenderung aktif dan banyak bergerak sehingga membutuhkan energi yang besar. Kebutuhan energi yang besar ini semestinya membuat orang tua perlu memilih jajanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan energi buah hati.  

Iit juga menyoroti fenomena minuman manis dalam kemasan yang semakin diminati oleh masyarakat, tak terkecuali anak-anak. Ia menilai, minuman tinggi kandungan gula tersebut bila sering dikonsumsi dapat berdampak buruk pada anak, terutama dapat memicu diabetes melitus. 

“Minuman-minuman seperti itu sekarang banyak yang mengandung banyak pemanis, dan kadar gulanya melebihi kebutuhan harian anak,” terangnya. 

Ia menambahkan bahwa anak-anak di atas usia dua tahun hanya memerlukan sekitar 25 gram gula per hari, setara dengan enam sendok teh. Namun, beberapa minuman kemasan mengandung lebih dari 20 gram gula per sajian.

“Bayangkan sehari anak bisa minum berapa kali air kemasan itu, jadi berapa konsumsi gula harian yang sudah dikonsumsi oleh anak,” tuturnya.

Selain menyoroti bahaya gula berlebih, Ia juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kebutuhan gizi anak-anak, terutama dalam memilih jajanan. Jajanan yang sehat harus mencakup kandungan energi, karbohidrat, lemak, dan protein yang cukup untuk mendukung perkembangan dan pertumbuhan anak.

"Jajanan yang sehat berperan penting dalam memberikan asupan gizi yang diperlukan. Karbohidrat bisa diperoleh dari nasi atau kentang. Jika anak tidak menyukai nasi, kentang goreng bisa menjadi alternatif, meski kentang goreng yang diolah, apabila dikonsumsi secara berlebihan juga perlu diwaspadai," ujarnya.

Ia juga menekankan perlunya memberikan makanan "real food" atau makanan segar. Makanan yang bersumber dari umbi-umbian, telur, dan fillet ikan adalah beberapa contoh makanan yang bisa dikonsumsi.

Orang tua juga bisa menyediakan makanan yang enak namun tetap sehat bagi anak. Misalnya dengan membuatkan menu katsu. Menu ini relatif mudah dibuat, karena dengan membuat sendiri makanan tersebut maka akan lebih mudah mengontrol kualitasnya.

Jajanan sehat lainnya yang bisa menjadi pilihan adalah makanan yang mengandung mikronutrien seperti buah-buahan dan sayur-sayuran juga sangat penting untuk kesehatan anak. 

Memberikan makanan sehat bagi anak barangkali memiliki tantangan tersendiri. Agar anak lebih tertarik mengonsumsi makanan sehat, Iit menyarankan untuk menggunakan peralatan makan yang menarik atau membuat makanan dengan bentuk yang lucu.

“Seperti membuat nasi sehingga berbentuk boneka, ada matanya yang dibuat dari nori,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa saat anak berada di sekolah, orang tua tidak bisa selalu menjamin semua nutrisi yang diperlukan terpenuhi. Oleh karena itu, memberikan bekal dari rumah adalah solusi yang baik karena bisa lebih mudah mengontrol asupan gizinya anak. **

Editor : A'an
#Jajanan Sehat #kesehatan anak