PONTIANAK - Anak-anak usia 1 hingga 4 tahun sering mengalami tantrum sebagai bagian dari perkembangan emosi dan sosial mereka.
Menurut Cleveland Clinic, ada beberapa cara efektif untuk mengelola tantrum anak, tanpa menambah stres bagi orang tua maupun anak.
- Alihkan Perhatian Anak
Sebelum tantrum terjadi, cobalah mengalihkan perhatian anak ke hal lain. Namun, jika sudah terjadi, biarkan tantrum mereda tanpa mengintervensi langsung.
Menurut Dr. Svetlana Pomeranets, mengatasi penyebab di tengah-tengah tantrum justru memperpanjang durasinya.
Lebih baik, alihkan fokus anak secara verbal atau fisik, tanpa memicu emosi lebih lanjut.
- Tetap Tenang
Meski sulit, penting untuk tetap tenang saat anak tantrum.
Memberikan kehadiran fisik yang menenangkan, seperti menepuk lembut bahu anak, dapat membantu meredakan situasi.
Jika anak menunjukkan perilaku yang membahayakan, seperti memukul atau melempar barang, Anda harus bersikap tegas untuk menghentikannya.
Hindari berteriak, karena itu hanya memperburuk keadaan.
- Jangan Menyerah pada Keinginan Anak
Sangat menggoda untuk menyerah agar tantrum cepat berakhir, tetapi ini hanya akan membuat perilaku tantrum semakin sulit dihadapi di masa mendatang.
Dr. Pomeranets menjelaskan bahwa konsistensi sangat penting dalam menghadapi tantrum.
Jika Anda mengatakan “tidak,” pastikan untuk tidak mengubah keputusan hanya untuk menghentikan tantrum.
Ini akan mengajarkan anak bahwa mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan melalui perilaku tersebut.
- Diskusikan Emosi Setelah Tantrum Berakhir
Setelah tantrum reda, barulah Anda bisa berbicara dengan anak tentang perasaan mereka.
Bantu mereka mengekspresikan emosi dengan kata-kata yang sesuai, seperti, "Kamu merasa marah atau sedih."
Ini akan membantu anak memahami perasaan mereka dan belajar cara yang lebih baik untuk mengekspresikannya.
Pencegahan Tantrum
Cleveland Clinic juga merekomendasikan langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi frekuensi tantrum. Beberapa cara yang disarankan antara lain:
- Kenali Pemicu: Identifikasi situasi yang memicu tantrum, seperti rasa lapar atau lelah, dan hindari situasi tersebut sebisa mungkin.
- Beri Pilihan: Berikan anak opsi agar mereka merasa memiliki kendali, misalnya memilih antara dua makanan ringan atau dua pakaian.
- Antisipasi Transisi: Peringatkan anak jika akan ada perubahan, seperti keluar rumah atau tidur siang, sehingga mereka bisa lebih siap.
Dengan teknik yang tepat, Anda bisa menghadapi tantrum dengan lebih tenang dan membantu anak mengelola emosinya dengan lebih baik. (mif)
Editor : Miftahul Khair