Layanan pacar atau kekasih sewaan menawarkan hubungan tanpa komitmen, di mana seseorang dapat menyewa pacar untuk berbagai keperluan, mulai dari menemani pergi ke acara hingga mengatasi rasa kesepian. Namun, di balik kemudahan ini, terdapat sejumlah isu yang perlu dipertimbangkan.
Oleh : Siti Sulbiyah
DALAM beberapa tahun terakhir, fenomena pacar atau kekasih sewaan semakin menarik perhatian masyarakat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Layanan ini menawarkan hubungan tanpa komitmen, di mana seseorang dapat menyewa pacar untuk berbagai keperluan, mulai dari menemani pergi ke acara hingga mengatasi rasa kesepian.
Seperti namanya pacar sewaan, jasa yang satu ini menyediakan penyewaan seseorang untuk dijadikan kekasih atau pacar. Layanan jasa ini dikenakan tarif yang beragam, mulai dari puluhan hingga ratusan ribu.
Hingga kini, jasa penyediaan pacar sewaan mudah ditemukan di media sosial. Salah satunya adalah Pinjem Doi. Jasa ini mempromosikan diri melalui akun Instagram dengan jumlah pengikut hingga lebih dari 11 ribu.
Psikolog Klinis Dewasa, Syifa Zunuraina, M.Psi., Psikolog, menilai fenomena ini berangkat dari kebutuhan manusia untuk menjalin relasi dan merasakan afeksi dari orang lain. Pada fase transisi menuju dewasa, individu seringkali merasakan ketertarikan untuk menjalin hubungan romantis.
"Manusia itu butuh afeksi atau perasaan untuk disukai dan dicintai orang lain," ujarnya. Kebutuhan afeksi ini menjadi penting karena menyangkut perasaan hangat yang diharapkan dari orang lain, termasuk lawan jenis.
Namun, tidak semua orang mampu membangun hubungan yang dekat dengan mudah. Syifa menekankan perlunya usaha dan keterampilan sosial dalam mendekati orang lain untuk memenuhi kebutuhan afeksi.
“Pacar sewaan ini bikin seseorang dapat memenuhi kebutuhan afeksinya dengan cara yang instan, tidak perlu usaha dan tinggal bayar,” tuturnya.
Afeksi kadang kala tidak selalu didapatkan dari seseorang yang diharapkan, entah itu dari orang terdekat, teman, ataupun seseorang yang ingin didekati. Sementara afeksi dari pacar sewaan sudah pasti didapat karena dibayar. “Di jamin tanpa penolakan, karena sudah dibayar,” ucapnya.
Kondisi kesepian menjadi salah satu faktor utama di balik pencarian pacar sewaan. Individu yang merasa kesepian seringkali membutuhkan dukungan emosional, dan kehadiran pacar sewaan diharapkan dapat mengurangi perasaan tersebut. Selain itu, pacar sewaan juga berfungsi sebagai teman untuk berkencan atau menghadiri undangan sosial, terutama bagi mereka yang merasa tekanan untuk memiliki pasangan.
Syifa menambahkan bahwa banyak orang dewasa merasakan tekanan sosial untuk menunjukkan keberadaan pasangan. Jasa sewa pacar dipilih sebagai solusi untuk menutup rasa malu atau menjawab pertanyaan 'mana pacarnya?'.
Jasa sewa pacar umumnya hanya memberikan afeksi sebatas ucapan sapaan, maupun kata-kata cinta. Jasa sewa pacar berbeda dengan open booking (BO), friends with benefits (FWB), ataupun prostitusi online.
“Karena jasa ini umumnya sangat terbatas untuk hal-hal yang bersifat sentuhan fisik,” ujarnya.
Dia mengatakan, layanan yang menyediakan jasa sewa pacar ini biasanya sudah mencantumkan hal-hal yang menjadi batasan yang boleh dan tidak diperbolehkan. “Walaupun tidak menutup kemungkinan ada penyalahgunaan jasa ini (sewa pacar),” tambahnya.
Itulah sebabnya jasa ini juga rentan menimbulkan tindakan pelecehan baik itu yang dilakukan oleh si pemberi jasa maupun klien. Terlebih, jasa sewa pacar tidak memiliki perlindungan hukum yang pasti bila terjadi pelanggaran terhadap batasan yang ditetapkan.
Belum lagi, lanjutnya, jika tumbuh perasaan ketertarikan baik dari klien ke pacar sewaan maupun sebaliknya.
“Ini juga perlu diperhatikan gimana dampak kedepannya apakah akan menjadi hubungan yang sehat atau seperti apa,” ucapnya.
Pacar sewaan umumnya bisa menjadi tempat untuk berbagi pengalaman dan bercerita sehingga si klien bisa saja memberikan informasi-informasi pribadi pada pacar sewaan tersebut.
“Perlu diperhatikan juga informasi pribadi yang kita share ke pacar sewaan ini, karena mereka orang asing dan tidak ada jaminan mereka bisa menjaga informasi pribadi tersebut. Maka perlu hati-hati,” katanya. **
Editor : Miftahul Khair