Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Kiat Sukses Meng-ASI-hi

A'an • Jumat, 1 November 2024 | 15:13 WIB
Ilustrasi Menyusui.
Ilustrasi Menyusui.

Proses menyusui, adalah pengalaman unik yang tidak hanya memberikan nutrisi terbaik bagi bayi, tetapi juga mempererat ikatan emosional antara ibu dan anak. Meski tampak alami, menyusui sering kali penuh dengan tantangan.

 

Oleh : Siti Sulbiyah

Menyusui adalah proses alami yang penuh manfaat bagi bayi, baik sebagai nutrisi, pelindung kesehatan, hingga penguat ikatan emosional antara ibu dan anak. Namun, di balik indahnya proses ini, banyak tantangan yang dihadapi ibu, mulai dari masalah produksi ASI (Air Susu Ibu), sumbatan, hingga rasa khawatir apakah ASI mencukupi.

Dokter Laktasi, dr. Yenniver Khoris menekankan bahwa ASI adalah nutrisi terbaik yang dapat diberikan ibu kepada bayinya, mulai dari usia 0 hari hingga 2 tahun atau lebih. Ia menjelaskan mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lainnya selama enam bulan pertama kehidupan bayi.

“Laktasi adalah proses di mana produksi ASI dan proses pengeluaran ASI,” ungkapnya. 

ASI bukan hanya sebagai makanan, tetapi juga berfungsi sebagai obat dan minuman bagi bayi. Ia menekankan betapa pentingnya nutrisi dalam ASI, yang mengandung protein, lemak, enzim lipase, vitamin, mineral, karbohidrat, dan sifat anti-infeksi.

“ASI mengandung antibiotik alami, sehingga ketika anak batuk atau pilek, pemberian ASI tetap harus dilanjutkan,” tuturnya.

Ia mengatakan ASI terdiri dari dua komponen utama: ASI Awal (foremilk) yang lebih bening dan kaya akan air serta protein, dan ASI Akhir (hindmilk) yang lebih kental dan kaya akan lemak. Ia mengingatkan agar ibu menyusui anaknya hingga payudara terasa kosong untuk memastikan bayi mendapatkan nutrisi yang optimal.

“Ketika payudara terasa kosong, itu berarti bayi telah mendapatkan ASI Akhir yang sangat penting untuk pertumbuhan berat badan,” tambahnya.

Salah satu tantangan yang dihadapi ibu menyusui adalah kebiasaan menyusui yang hanya sebentar. Karena itu, ia menyarankan agar anak boleh dibangunkan untuk menyusui agar proses ini tidak terhenti. “Menyusui membutuhkan effort, dan ASI Akhir yang mengandung lemak dikeluarkan di akhir sesi menyusui,” katanya.

Ia juga memperingatkan bahwa jika ASI tidak dikosongkan, lemak dapat menggumpal dan menyebabkan sumbatan pada payudara, yang dapat berujung pada demam, nyeri, atau bahkan mastitis. Menyusui juga harus dilakukan secara bergantian antara kanan dan kiri untuk mencegah sumbatan.

Apabila sudah terjadi sumbatan, dr. Yenniver mengingatkan bahwa hisapan bayi adalah cara terbaik untuk mengatasi masalah tersebut. “Hisapan bayi dapat membantu mengurangi sumbatan yang ada,”tuturnya.

Para ibu pejuang ASI diingatkan untuk tetap semangat dalam memberikan ASI eksklusif meskipun banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan tersebut sering kali berupa puting lecet, sumbatan, dan kekhawatiran akan jumlah ASI yang dianggap tidak cukup.

“Tantangan paling umum adalah perasaan ASI tidak cukup. Hal ini bisa menjadi salah satu penyebab stres bagi ibu menyusui,” jelasnya. Ia menekankan pentingnya keyakinan bahwa "ASI saya cukup untuk bayi saya."

Lalu, bagaimana cara mengetahui bahwa ASI yang diberikan cukup? Dokter di RS Kharitas Bhakti ini menyarankan agar setiap bulan ibu memantau pertumbuhan anak melalui layanan kesehatan. Indikatornya antara lain kenaikan berat badan, frekuensi buang air kecil lebih dari empat kali dalam sehari, serta bayi yang aktif dan tidak lemas. 

“Lihat juga pada Buku KMS, apakah grafik pertumbuhannya meningkat,” tuturnya.

Meskipun menyusui penuh tantangan, ia mengingatkan bahwa proses ini dapat menjadi momen berharga untuk membangun bonding antara ibu dan anak. “Menyusui sambil diajak ngobrol dapat menciptakan ikatan emosional. Anak yang mendapatkan ASI eksklusif cenderung tumbuh menjadi sosok yang penuh kasih sayang,” katanya.

Ia juga menekankan bahwa tidak ada istilah ibu yang tidak memiliki ASI. Sejak kehamilan, tubuh ibu sudah mulai memproduksi ASI berkat hormon prolaktin. Rangsangan dari hisapan bayi akan memicu hormon oksitosin untuk mengeluarkan ASI.**

Editor : A'an
#asi #Menyusui