Micro cheating, perilaku selingkuh yang tergolong ringan dan cenderung melibatkan emosional saja tanpa adanya kontak fisik. Walau mungkin tampak sepele, tetapi dampaknya bisa besar bagi kesehatan sebuah hubungan.
Oleh : Siti Sulbiyah
Micro cheating adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku yang dianggap tidak setia dalam hubungan, meskipun tidak seintens atau sejelas perselingkuhan tradisional. Ini bisa melibatkan interaksi kecil yang mungkin tampak tidak signifikan.
Jakpat bersama Cabaca membuat survei bertajuk “Loving and (Then) Cheating”. Jakpat sendiri adalah singkatan dari Jejak Pendapat, yang merupakan platform survei terbuka. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa dari 231 responden, sebesar 66,23 persen merasa keberatan jika pasangannya melakukan micro cheating. Selain itu 35,93 persen responden berpendapat kalau seseorang melontarkan godaan kepada teman, sering membantu hingga intens berkomunikasi dengan lawan jenis selain pasangannya, adalah termasuk micro cheating.
Dalam hubungan asmara, istilah perselingkuhan sudah bukan hal asing lagi. Namun, di era digital seperti sekarang, muncul istilah baru yang sering diperbincangkan, yaitu micro cheating. Psikolog Klinis, Maria Nofaola, M.Psi., Psikolog menjelaskan bahwa micro cheating secara sederhana dapat diartikan sebagai selingkuh dalam skala kecil, atau perilaku selingkuh yang tergolong ringan.
Maria Nofaola menekankan bahwa perilaku selingkuh, termasuk micro cheating, tidak memiliki batasan yang tegas. Seseorang disebut melakukan perilaku selingkuh tentu tergantung budaya dan norma sosial yang berlaku di tempat itu.
“Satu perilaku dapat disebut perilaku selingkuh bagi budaya atau normal sosial tertentu, tetapi bisa saja dianggap normal oleh orang pada budaya dan norma yang lain,” ucapnya.
Perilaku selingkuh bisa diartikan berbeda, begitu pula dengan micro cheating. Contohnya, menanyakan “Apa kabar?” bisa saja diartikan sebagai micro cheating, bisa saja dianggap perilaku wajar.
Contoh lain adalah berbagi curahan hati (curhat) dengan lawan jenis. Bagi sebagian orang, perilaku ini bisa dianggap sebagai micro cheating karena adanya keterlibatan emosi dengan orang lain selain pasangan. Namun, bagi sebagian lainnya, hal ini mungkin dianggap wajar, terutama jika konteksnya adalah mencari pendapat kedua (second opinion) terkait masalah yang dihadapi.
“Ada juga yang menganggapnya wajar ketika teman meminta second opinion terkait masalah yang dihadapinya,” ucapnya.
Baca Juga: Pemisahan UU Ketenagakerjaan dan UU Ciptaker, DPR-Pemerintah Siap Patuhi Putusan MK
Dalam sebuah hubungan, baik micro cheating maupun perselingkuhan terbuka sering menjadi penyebab konflik yang tidak diinginkan. Namun, apa yang membedakan keduanya? Maria Nofaola menjelaskan perbedaan mendasarnya terletak pada skala perilaku dan intensitas keterlibatan dengan orang lain di luar hubungan utama, serta batasan emosional dan fisik yang dilanggar.
Beberapa contoh dari micro cheating bisa berupa mengirim pesan genit atau perhatian kepada orang lain, memikirkan atau memantau aktivitas media sosial seseorang yang dianggap menarik, atau sengaja menjaga hubungan emosional dengan orang lain tanpa sepengetahuan pasangan.
Salah satu perbedaan kunci dari micro cheating adalah pada aspek emosional yang lebih halus. “Micro cheating itu cenderung melibatkan emosional saja, bukan fisik,” katanya.
Sedangkan, tambahnya, perselingkuhan terbuka adalah bentuk perselingkuhan yang lebih jelas dan terang-terangan, melibatkan baik emosional maupun fisik. Ini bisa termasuk tindakan seperti berciuman, melakukan hubungan seksual, atau menjalin hubungan intim yang lebih dalam dengan orang lain di luar hubungan utama. Dalam hal ini, batasan emosional dan fisik yang dilanggar jauh lebih signifikan dan terlihat.
Salah satu dampak utama dari micro cheating adalah hilangnya rasa percaya dalam hubungan. Ketika seseorang merasa bahwa pasangannya terlibat dalam perilaku yang melanggar batas norma sosial atau emosional, meskipun tidak bersifat fisik, rasa aman dalam hubungan bisa terganggu. Orang yang menjadi korban micro cheating sering kali merasa cemas, tidak dihargai, dan bahkan mengalami stres psikologis.
“Situasi-situasi tidak nyaman di dalam hubungan tentu bisa membuat ketidakharmonisan, muncul masalah yang lebih kompleks lagi,” tegasnya.
Di sisi lain, menemukan tanda-tanda micro cheating pada pasangan bukanlah tugas yang mudah. Sering kali, perilaku ini berlangsung secara halus dan dapat dengan mudah disembunyikan, terutama jika pelaku terampil dalam menutupi aksinya.
Salah satu tanda yang paling jelas adalah perubahan sikap. Munculnya perilaku micro cheating dalam sebuah kehidupan berpasangan sebetulnya menunjukan adanya masalah di dalam hubungan itu. Bila pasangan peka, dia akan melihat perubahan sikap pasangannya.
“Misalnya apakah perilakunya berubah dari yang penyayang kari lebih cuek. Atau perasaannya yang biasanya hangat terasa agak gambar atau dingin,” ujarnya.
Sebagian orang mungkin lebih cepat menyadari adanya ketidaksesuaian dalam dinamika hubungan, sementara yang lain mungkin membutuhkan lebih banyak waktu. Dalam banyak kasus, tanda-tanda ini muncul seiring adanya masalah yang mendasar dalam hubungan itu sendiri.
“Tergantung kepekaan pasangannya dan apakah si pelaku itu terlatih menutupi perilakunya atau tidak. Perselingkuhan saja bisa ditutupi, apalagi micro cheating,” imbuhnya. **
Editor : Miftahul Khair