Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sukses Berbekal Teori dan Keberanian

A'an • Selasa, 5 November 2024 | 15:12 WIB
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Muhammad Fahmi
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Muhammad Fahmi

Banyak perempuan yang berhasil membangun usaha dan menciptakan lapangan kerja. Namun, untuk mencapai kesuksesan dalam berbisnis, diperlukan strategi, persiapan yang baik, hingga keberanian.

 

Oleh : Siti Sulbiyah

 

MENENUM sudah menjadi tradisi secara turun temurun di Desa Sumber Harapan Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Kegiatan menenun itu juga dilakukan Masnita, perempuan baya pemilik usaha Tenun Sambas Dinta, yang produknya telah menembus pasar global.

Usaha tersebut telah dilakukan secara turun temurun, dari nenek hingga orangtuanya. Namun di tangan Masnita, usaha ini semakin berkembang. Produksinya tak hanya kain tenun songket khas Sambas saja, tapi ada juga aksesoris lain seperti kopiah, tanjak, tas, baju. dekorasi dinding dan aksesoris lain, berciri khas lantaran berbalut kain tenun.

Masnita mengaku, semula dia hanya memproduksi sekitar 20 kain tenun saja, namun setelah mendapatkan bantuan pinjaman modal dari Bank Kalbar Syariah, produksinya melesat dua kali lipat.

"Masalah pelaku usaha seperti saya, adalah di permodalan. Saya tidak mampu memenuhi permintaan pasar yang banyak, karena tidak memiliki modal produksi. Untuk itu saya memberanikan diri melakukan pinjaman modal di Bank Kalbar Syariah,” katanya. 

Usaha Tenun Sambas Dinta berlokasi di Jalan Semberang Dusun Semberang 1, Desa Sumber Harapan Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas. Selain dipasarkan secara lisan, Masnita juga sudah memasuki dunia digital. Semua produknya juga dijual melalui medsos dan marketplace. Konsumennya berdatangan dari lokal dan nasional, juga dari berbagai negara, di antaranya Malaysia dan Brunei Darussalam.

Menjual donat aneka rasa dipilih Fini Yulita untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. Donat memiliki pasar potensi yang besar, lantaran roti berbentuk bulat nan empuk ini disukai oleh berbagai kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Fini membuka usahanya yang bernama Laa Fine Donat di Jalan Tanjung Raya 2, Komplek Mutiara Saigon Pontianak, Kalimantan Barat. Berbagai olahan kue donat buatan Fini Yulita mengalami perkembangan pesat, terutama setelah terutama setelah diperkuat permodalannya. Kini ia memproduksi banyak guna memenuhi pesanan, baik di sekolah-sekolah maupun pesanan dari rumah ke rumah hingga memenuhi pesanan reseller.

"Usaha ini sekarang menjadi andalan ekonomi keluarga kami," imbuhnya.

Masnita dan Fini adalah contoh perempuan yang berupaya meningkatkan taraf hidupnya dengan berdagang. Keduanya merupakan pelaku usaha mikro yang mengandalkan ilmu dan keberanian untuk menjalankan usaha.

Banyaknya perempuan yang terjun ke dunia wirausaha menjadi salah satu tren positif di Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tanjungpura, Muhammad Fahmi, menyampaikan bahwa sekitar 65 persen pelaku usaha di sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Indonesia adalah perempuan. Hal ini mencerminkan kontribusi signifikan wanita dalam perekonomian, khususnya dalam sektor UMKM di Kalimantan Barat yang kemungkinan besar mencerminkan tren nasional.

Menurutnya, berbagai tantangan yang dihadapi oleh pelaku usaha perempuan, terutama dalam mengelola peran ganda sebagai ibu dan pengusaha. "Perempuan sering kali harus menjalankan usaha sekaligus menjalankan tugas sebagai ibu, yang menjadi tantangan tersendiri dalam manajemen waktu dan energi," ujarnya.

Fahmi menjelaskan bahwa tantangan yang dihadapi perempuan wirausaha berkaitan dengan kemampuan, penguasaan teknologi, dan kapabilitas manajerial. "Ini semua juga menjadi tantangan bagi perempuan yang terjun ke dunia usaha," tambahnya. Dengan perkembangan teknologi yang pesat, perempuan dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi agar dapat bersaing di pasar.

Akses terhadap pembiayaan juga menjadi kendala yang sering dihadapi oleh pelaku usaha perempuan. Menurut Fahmi, meskipun terdapat berbagai sumber pembiayaan dari lembaga perbankan dan non-perbankan, masih ada yang kesulitan dalam mengaksesnya.

“Saya yakin banyak pelaku usaha perempuan, tinggal bagaimana kemudahan mengakses pembiayaan melalui lembaga jasa keuangan,” terangnya. 

Untuk mengatasi tantangan tersebut, dibutuhkan pengetahun sekaligus keberanian. Fahmi menekankan pentingnya bekal pengetahuan dan keberanian untuk memulai usaha. 

“Belajar berenang perlu kombinasi antara nekat dan teori. Hal yang sama berlaku dalam usaha,” tegasnya. 

Di sisi lain, ia menekankan pentingnya untuk tidak terjebak dalam teori yang berlebihan. “Jangan terlalu banyak teori. Mulai saja, sekecil apapun kita mulai, lalu persiapkan diri kita untuk belajar melalui berbagai kursus dan pelatihan,” tambahnya.

Memulai usaha, meski dalam skala kecil, adalah langkah krusial. Tanpa langkah awal, tidak ada kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena itu, keberanian untuk memulai adalah kunci. 

Selain itu, veberapa pelatihan yang dianjurkan antara lain, pelatihan manajemen keluarga, pelatihan digital marketing, hingga pelatihan untuk mendapatkan pembiayaan. “Sering ikut diskusi mengenai UMKM juga penting,” tegasnya. **

Editor : A'an
#Sukses #inovasi