Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mewaspadai Jantung Koroner yang Tak Pandang Usia

Miftahul Khair • Jumat, 8 November 2024 | 13:55 WIB
Ilustrasi jantung.
Ilustrasi jantung.

Serangan jantung menyerang kapan saja dan tidak memandang usia. Namun, hal ini sering diabaikan oleh kalangan usia muda. Terlebih tanda-tandanya juga tak terdeteksi.

Oleh: Siti Sulbiyah 

PENYAKIT jantung koroner bukan hanya masalah bagi orang yang berusia lanjut, tetapi kini juga mulai menyerang individu yang lebih muda. Hal tersebut diungkapkan oleh dr. Dwi Wahyuningsih, dokter umum dari Klinik Prodia Pontianak, dalam Kegiatan Media & Community Gathering : Healthy Talk With Modena, yang digelar akhir Oktober 2024 lalu. 

Dalam momen tersebut, Dwi menjelaskan tentang pentingnya menjaga kesehatan jantung dan penerapan gaya hidup sehat. Ia mengatakan bahwa meskipun faktor usia menjadi salah satu risiko, orang yang berusia 25 tahun ke atas pun bisa terkena penyakit ini, terutama jika pola makan dan gaya hidup tidak terjaga dengan baik.

“Paling tinggi penyebabnya adalah Aterosklerosis,” ungkap. 

Aterosklerosis sendiri adalah kondisi penyempitan dan pengerasan pembuluh darah arteri akibat penumpukan plak.

Dwi menekankan bahwa orang yang memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi (tekanan darah tinggi) dan diabetes melitus (kencing manis) juga berisiko tinggi mengembangkan penyakit jantung koroner. 

Pada penderita diabetes, kadar gula darah yang tidak terkontrol dapat memperburuk kondisi pembuluh darah. Dwi menjelaskan gula sebenarnya ada di dalam tubuh sebagai cadangan energi ketika tubuh tidak bisa memproduksi protein. 

“Kalau orang kencing manis tidak terkontrol, lama-lama gula tidak terpakai akan menyebabkan terjadi lemak. Lemak itu yang akan merusak pembuluh darah, sehingga terjadi Aterosklerosis,” jelasnya.

Kegemukan atau obesitas juga berperan besar dalam peningkatan risiko penyakit jantung. Menurut Dwi, kelebihan lemak tubuh yang tidak terpakai dapat menumpuk dalam pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan arteri, yang pada akhirnya memengaruhi kesehatan jantung.

Gejala penyakit jantung koroner sering kali tidak terlihat atau dirasakan sampai kondisi sudah cukup parah. Pada banyak kasus, seseorang dengan penyakit jantung koroner tidak merasakan gejala sama sekali hingga tiba-tiba mengalami serangan jantung atau stroke.

“Ibaratnya di dalam selang yang isinya lemak tidak terlihat, pembuluh darahnya menyempit,” katanya.

Meskipun penyakit ini sering tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas, beberapa gejala dapat dirasakan oleh individu yang memiliki riwayat penyakit tertentu, seperti diabetes atau hipertensi. Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain nyeri dada di sebelah kiri.

“Biasanya menjalar ke lengan kiri, ke ulu hati, tembus ke belakang. Atau biasanya tidak di dada, tapi di ulu hatinya saja,” tuturnya.

Selain itu, seseorang yang memiliki penyakit jantung koroner mungkin merasa cepat lelah, bahkan setelah melakukan aktivitas ringan seperti berjalan kaki dalam jarak yang pendek. Kelelahan ini terjadi karena jantung tidak dapat memompa darah dengan efisien, sehingga organ tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen.

Pembengkakan pada kaki juga merupakan tanda yang sering diabaikan. Kondisi ini bisa terjadi karena penurunan fungsi jantung yang menyebabkan penumpukan cairan di tubuh, yang akhirnya menyebabkan pembengkakan, terutama di bagian kaki.

Lemak adalah salah satu komponen penting dalam tubuh, namun tidak semua jenis lemak itu baik. Dalam konteks kesehatan jantung, dikenal dua jenis lemak utama, yaitu LDL (Low-Density Lipoprotein) yang sering disebut sebagai lemak jahat, dan HDL (High-Density Lipoprotein), yang dikenal sebagai lemak baik. 

Ia mengatakan bahwa kadar LDL yang normal sebaiknya berada di bawah angka 100 mg/dL. “Kalau seandainya kadar LDL 105, maka nya jangan  buru-buru minum obat, tetapi perbaiki dulu pola makan, nanti bulan depan atau dua bulan kemudian dicek kembali,” katanya. 

Namun, jika setelah perbaikan pola makan kadar LDL tetap tinggi, misalnya mencapai angka 130 mg/dL atau bahkan 150 mg/dL, maka penggunaan obat untuk membantu menurunkan kadar LDL bisa dipertimbangkan. Hal ini untuk mempercepat proses penurunan kadar kolesterol yang berisiko bagi kesehatan jantung.

Sebaliknya, HDL atau High-Density Lipoprotein adalah lemak baik yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi tubuh. HDL berfungsi untuk "mengikis" LDL yang berlebih dari dalam pembuluh darah.

Bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit seperti hipertensi, diabetes atau obesitas, Dwi sangat menyarankan untuk melakukan medical check up secara rutin. Untuk mereka yang memiliki faktor risiko ini, sangat penting untuk melakukan tes darah dan rekam jantung minimal sebulan sekali.

“Karena sewaktu-waktu kita tidak tahu apa yang terjadi dalam tubuh walaupun tidak ada gejala sama sekali,” tuturnya.**

Editor : Miftahul Khair
#waspada #usia muda #jantung koroner