Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Jangan Sepelekan, Ini Pentingnya Deteksi Dini Mata Silinder

Miftahul Khair • Jumat, 15 November 2024 | 14:43 WIB
Dokter di KMN EyeCare, Dr. Maria Magdalena Purba, SpM
Dokter di KMN EyeCare, Dr. Maria Magdalena Purba, SpM

Gangguan mata, seperti mata silinder dapat dialami oleh siapa saja tanpa terkecuali. Semakin cepat gangguan terdeteksi maka semakin cepat pula penanganan yang dapat diberikan. Perlu dilakukan pemeriksaan dan konsultasi mata secara rutin sebagai bentuk antisipasi. 

Oleh : Siti Sulbiyah

Indonesia merupakan negara dengan prevalensi kebutaan dan gangguan penglihatan tertinggi kedua di dunia setelah Ethiopia. Dikutip dari data Kemenkes RI tahun 2017 menyebutkan bahwa hasil survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) 2014-2016 melaporkan prevalensi kebutaan di 15 provinsi di Indonesia adalah sebesar 3 persen.

Gangguan refraksi adalah masalah mata yang paling umum terjadi. Menurut data infografis dari Kementerian Kesehatan RI, gangguan refraksi menempati urutan pertama sebagai gangguan mata yang paling banyak dialami oleh masyarakat dunia sejumlah 48,99 persen. Meski demikian, hal ini tidak dapat disepelekan sebab gangguan refraksi termasuk mata silinder dapat menyebabkan kebutaan. Secara global, kebutaan akibat gangguan ini berada pada urutan kedua setelah katarak yaitu sekitar 20.62 persen.

Mata Silinder (Astigmatisme) adalah gangguan refraksi mata seperti rabun jauh (miopia) dan rabun dekat (hiperopia) yang terjadi akibat ketidakmampuan mata membiaskan cahaya sehingga titik fokus jatuh tidak tepat di retina. Hal ini menyebabkan penglihatan menjadi kabur.

Dokter di KMN EyeCare, Dr. Maria Magdalena Purba, SpM menjelaskan mata silinder atau astigmatisme merupakan terjadinya bias pada mata akibat kesalahan kornea ketika memproses cahaya yang masuk. Kesalahan ini membuat cahaya jatuh tidak pada titik fokus retina, permukaan peka cahaya di belakang mata, sehingga objek yang dilihat menjadi kabur. 

“Pada mata silinder, hal ini disebabkan oleh kelengkungan kornea yang berbentuk lonjong, bukan kornea dengan bentuk bulat atau normal,” jelasnya. 

Ia menilai gangguan refraksi termasuk mata silinder dapat menyebabkan kebutaan. Namun, tidak perlu khawatir. Gangguan refraksi khususnya mata silinder dapat dideteksi gejalanya sejak dini sehingga bisa lebih waspada sebelum terlambat. 

“Adapun penanganan terhadap gangguan ini sudah semakin berkembang dan canggih sehingga risiko menjadi lebih rendah,” imbuhnya.

Mata silinder terjadi karena bentuk kornea yang tidak bulat sempurna melainkan lonjong. Penyebab perbedaan bentuk kornea masih menjadi perdebatan di kalangan dokter dan peneliti, namun ada beberapa kemungkinan yang diduga menjadi faktornya. Pertama, pertumbuhan yang tidak normal ini sudah muncul sejak lahir atau karena faktor keturunan. 

Kedua, mata silinder dapat juga berkembang setelah mengalami cedera mata atau melakukan operasi mata. Pada beberapa kasus langka, keratoconus atau kondisi dimana kornea semakin tipis dan berbentuk kerucut bisa menjadi faktor penyebabnya.

Kelengkungan pada kornea bisa berubah sewaktu-waktu sehingga mata silinder dapat bertambah atau berkurang mengikuti perubahan tersebut.

Menurutnya penting untuk mengenali gejala-gejalanya agar dapat segera melakukan langkah perawatan yang tepat. Ada sejumlah tanda-tanda mata silinder yang perlu diperhatikan. Maria menyebut gejala paling umum adalah penglihatan kabur atau terdistorsi, mata terasa tidak nyaman, hingga mata terasa tegang.

Tanda lainnya yang perlu diwaspadai adalah sulit melihat sesuatu dengan jelas sehingga perlu menyipitkan mata, merasa sakit kepala, terasa sangat sulit melihat saat cahaya redup atau saat malam, serta mata kesulitan untuk fokus saat membaca atau melihat komputer.

Ia menilai beberapa orang mungkin tidak memperhatikan bahwa ternyata mereka mengalami mata silinder sehingga membiarkannya dalam jangka waktu panjang dan bertambah parah. Padahal, mata yang bermasalah dapat mengganggu tugas dan aktivitas sehari-hari. 

“Untuk itu, penting memeriksakan mata secara teratur ke dokter atau fasilitas kesehatan mata yang profesional dan terpercaya agar dapat segera dideteksi sejak dini sehingga penanganan yang tepat dapat diberikan untuk memperbaiki penglihatan,” jelasnya. **

Editor : Miftahul Khair
#mata silinder #penting #deteksi dini