Proses perkenalan saat dijodohkan adalah tahap yang sangat penting untuk saling mengenal lebih dalam sebelum melangkah ke jenjang pernikahan. Berbagai tantangan barangkali dihadapi individu dalam menjalani proses ini. Bagaimana cara agar dapat tetap merasa nyaman serta yakin dengan keputusan pernikahan yang diambil?
Oleh : Siti Sulbiyah
Pertemuan antara Suci Andini dan Rizky, ditempuh melalui proses perjodohan orang tua. Mulanya, orang tua laki-laki yang berinisiatif mencarikan jodoh untuk sang anak. Melalui perantara bibi dari Suci, keduanya diperkenalkan.
Kedekatan mereka terjalin melalui komunikasi daring atau online, meski dengan sedikit dorongan dari orang tua. “Tipikal suami adalah penurut dan patuh dengan ibunya. Jadi patuh ketika diminta kenalan, dipaksa untuk saling berbalasan chatting,” ungkap Suci menceritakan pengalamannya.
Ketika mengetahui arah dari perkenalan itu adalah sebuah pernikahan, Suci mencoba membuka diri dengan memberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh dan menggali lebih dalam keseriusan Rizky.
Setelah melalui perkenalan via daring atau online, Rizky memberanikan diri untuk mengunjungi orang tua Suci. Setelah pertemuan itu, Suci merasa ada keseriusan yang datang dari laki-laki yang kini menjadi suaminya itu. Seiring berjalannya waktu, kedekatan keduanya semakin erat, pun dengan kedua keluarga itu. Keduanya semakin yakin untuk melangkah ke jenjang pernikahan.
“Waktu itu, Suci yakin menikah karena sikapnya yang dewasa, agamanya bagus, penyayang dengan keluarga, dan pekerjaannya sudah mapan. Anaknya juga bertanggung jawab,” pungkas dia.
Proses perjodohan atau taaruf seringkali menjadi langkah yang diambil banyak orang, tak terkecuali di kalangan dewasa muda. Psikolog Viva Darma Putri, S.Psi., M.Psi., Psikolog, menilai biasanya perjodohan dimulai pada usia dewasa muda, bahkan sebelum seseorang menyelesaikan pendidikan tinggi. Beberapa orang mungkin sudah lulus kuliah atau bahkan masih kuliah ketika mereka memulai taaruf sebagai jalan untuk menikah.
Seiring bertambahnya usia, terutama ketika memasuki usia akhir 20-an hingga 30-an, mereka yang belum menikah sering kali merasa semakin 'didorong' untuk menjalani proses ini.
“Terus ditambah lagi dilangkahi dengan kakaknya sehingga mau tidak mau, dia mengikuti prosedur proses ta'aruf atau dijodohkan demi untuk menyanggupi ekspektasi dari lingkungan sekitar,” katanya.
Viva menekankan pentingnya kesiapan pribadi dalam menjalani pernikahan, baik itu melalui taaruf maupun cara lainnya. "Jika sudah yakin untuk menjalani proses perjodohan, yang terpenting adalah menanyakan kepada diri sendiri, apakah saya sudah siap dengan kehidupan pernikahan? Apakah saya siap menghadapi berbagai masalah yang mungkin timbul setelah menikah?" katanya.
Viva mengingatkan bahwa seseorang tidak boleh terjebak dalam tekanan sosial dan perasaan rendah diri. Jangan sampai, kata dia, menikah hanya karena takut dicap sebagai 'perawan tua' atau khawatir harga diri menurun.
“Jangan hanya karena takut dicap perawan tua atau segala macam sehingga menurunkan value atau menurunkan harga diri dan nilai kita,” katanya.
Bagi mereka yang menjalani proses taaruf, Viva menekankan pentingnya memahami kebutuhan pribadi dan mengetahui dengan jelas apa yang diinginkan dalam pasangan hidup. Proses taaruf bisa jadi berakhir dengan pernikahan atau tidak. Jika ada kecocokan, maka itu adalah hal yang baik, namun jika tidak cocok, seseorang harus siap untuk menerima penolakan.
“Tidak semua perjodohan berakhir dengan pernikahan,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan bahwa selama proses taaruf, seseorang harus dapat berbicara dengan jujur jika merasa hubungan tersebut tidak sehat atau tidak cocok. "Tanda-tanda ketidakcocokan sering kali sudah ada sejak awal, tetapi kita kadang menutup mata karena takut tidak ada lagi kesempatan di masa depan," ujar Viva.
Ia mengingatkan, jangan sampai memaksakan diri untuk tetap melanjutkan hubungan yang tidak sehat hanya karena takut kehilangan kesempatan.
Di sisi lain, rasa cemas atau takut saat menjalani proses taaruf adalah hal yang wajar. Namun kadang apa yang kita pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan “Yang perlu dilakukan adalah hadapi kalau ada rasa cemas, akui perasaan merasa cemas,” tuturnya.
Ia juga menyarankan untuk tidak langsung menghakimi atau menutup diri terhadap calon pasangan hanya karena adanya rasa takut atau cemas. Saat bertemu, ada baiknya untuk mendengarkan dengan baik dan terima apa yang ada. Jangan terburu-buru membuat keputusan berdasarkan asumsi atau pemikiran negatif.
“Mengapa? Karena khawatir kalau misalnya sudah terlalu negatif thinking maka negatif thinking itu akan menghambat proses perkenalan,” katanya.
Viva juga mengingatkan pentingnya meyakini bahwa segala sesuatunya sudah ada dalam takdir Tuhan. "Jika memang ini adalah takdir yang baik, maka akan dimudahkan. Namun, jika tidak, percayalah bahwa ada yang lebih baik lagi," tegasnya. **
Editor : Miftahul Khair