*Alarm Bahaya Resistensi Antibiotik
Kondisi resistensi antibiotik tak bisa dianggap enteng. Selain meningkatkan risiko silent pandemi, ia juga menyumbang angka kematian tinggi di seluruh dunia.
Oleh: Siti Sulbiyah
Resistensi antibiotik menjadi masalah serius yang tidak bisa dianggap remeh. Kekebalan terhadap antibiotik ini adalah kemampuan bakteri untuk menahan efek dari obat. Akibatnya bakteri tidak mati setelah pemberian antibiotik dan fungsi obat tersebut tidak bekerja sama sekali pada tubuh.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa resistensi antibiotik menyebabkan sekitar 700.000 kematian setiap tahunnya di seluruh dunia. Lebih mengkhawatirkan lagi, diperkirakan pada tahun 2050, jumlah kematian akibat resistensi antibiotik akan melonjak drastis menjadi 70 juta per tahun jika tidak ada tindakan preventif yang efektif.
Menanggapi hal ini, Apoteker sekaligus Sekretaris Dewan Pengawas PD Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kalimantan Barat, Apt. Indah Puspasari, S.Si, MPH, mengingatkan pentingnya penggunaan antibiotik secara bijak untuk mencegah terjadinya resistensi bakteri. Menurutnya, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat meningkatkan risiko resistensi terhadap antibiotik, yang dapat berdampak fatal pada kesehatan.
"Kalau untuk obat antibiotik, masuk daftar obat G atau golongan keras. Yang masuk daftar kategori ini harus dengan menggunakan resep dokter," ungkapnya.
Indah menjelaskan bahwa antibiotik adalah obat yang digunakan untuk mengatasi penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri. Cara kerja antibiotik adalah dengan menghambat pertumbuhan atau membunuh sel bakteri penyebab infeksi.
Menurut apoteker di Apotek Gaby ini, banyak masyarakat yang salah kaprah dengan mengonsumsi antibiotik tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Padahal, tidak semua penyakit yang disebabkan oleh infeksi perlu diobati dengan antibiotik. Penyakit yang berasal dari infeksi virus atau jamur, misalnya, tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik.
“Masyarakat kalau sudah batuk sedikit, demam sedikit, belinya antibiotik. Padahal tidak semua infeksi harus disembuhkan dengan antibiotik. Penyakit yang berasal dari infeksi virus dan jamur tidak bisa menggunakan antibiotik,” katanya.
Indah juga mengingatkan bahwa resistensi antibiotik bisa memiliki konsekuensi yang sangat serius. Bakteri yang kebal terhadap antibiotik akan semakin sulit diobati dan dapat menyebabkan infeksi yang lebih lama, bahkan berisiko meningkatkan angka kematian.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan antibiotik, agar pengobatan yang diberikan sesuai dengan kondisi medis yang dialami.
Resistensi antibiotik terhadap bakteri menurutnya dapat menyebabkan akibat yang cukup fatal. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang kebal terhadap pengobatan mengakibatkan bertambah lamanya seseorang menderita suatu penyakit dan membuat pasien punya masa rawat inap di rumah sakit yang lebih lama, bahkan meningkat resiko kematian.
Antibiotik umumnya aman jika dikonsumsi sesuai petunjuk dan resep dokter. Agar antibiotik bisa bekerja dengan efektif dan lebih aman, dia menilai, dokter akan mempertimbangkan beberapa hal sebelum meresepkan antibiotik, yaitu jenis kuman atau bakteri penyebab infeksi, kondisi pasien, jenis antibiotik, serta dosis dan lama penggunaan antibiotik.
“Penggunaan antibiotika (yang diresepkan dokter) ini harus habis tidak boleh tersisa, karena dokter telah memperhitungkan lamanya terapi yang dibutuhkan,” katanya.
Di Kalbar sendiri, kata dia, Pemerintah sudah mengeluarkan Surat Edaran tentang Pencegahan Resistensi Antibiotik. Melalui edaran ini, apotek diimbau untuk tidak menjual antibiotik apabila tidak ada resep dokter.
“Masyarakat juga tidak membeli obat antibiotik sendiri tanpa resep dokter,” katanya.
Obat antibiotik yang diresepkan oleh dokter biasa sudah sesuai dengan lamanya terapi yang dibutuhkan oleh si pasien. Karena itu, konsumsi obat antibiotik harus diminum secara teratur dan dihabiskan.
“Jangan simpan antibiotik dalam rumah karena obat ini bukan obat yang sediaan yang harus ada di rumah seperti obat anti nyeri,” ungkapnya.
Pentingnya pemahaman tentang cara penyimpanan antibiotik yang benar juga diimbangi dengan kewaspadaan terhadap efek samping yang dapat ditimbulkan dari penggunaan obat ini. Konsumsi antibiotik memberikan efek samping terhadap penggunaannya. Efek samping dari penggunaan antibiotik bisa berbeda-beda, tergantung pada jenis dan dosis obat, juga pada respons tubuh pasien terhadap obat.
“Ada beberapa efek samping umum yang mungkin seperti diare, ruam, gatal, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Ia juga menyarankan agar pasien selalu mencari informasi mengenai jenis antibiotik yang diresepkan oleh dokter, termasuk kemungkinan efek samping yang mungkin terjadi. Dengan memahami hal ini, pasien dapat lebih siap menghadapinya jika efek samping muncul dan dapat segera melakukan tindakan yang diperlukan untuk mengurangi dampaknya.
Simpan dalam Suhu Aman
Selain mematuhi konsumsi yang sesuai dengan anjuran dokter, penyimpanan antibiotik juga harus menjadi perhatian. Sekretaris Dewan Pengawas PD Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Kalbar, apt. Indah Puspasari, S.Si,MPH menjelaskan, ada beberapa antibiotik yang harus disimpan dalam suhu 2-8 derajat celcius, misalnya asam asam klavulanat-amoksisilin yang harus disimpan di dalam lemari pendingin. Ada juga yang harus disimpan di suhu ruangan kamar.
“Untuk antibiotik sirup, kadang-kadang ada yang suka simpan di kulkas agar awet, padahal itu tidak diperbolehkan. Cukup simpan suhu kamar biasa di suhu 25 derajat,” jelasnya.
Di sisi lain, lanjutnya, antibiotik memberikan efek samping terhadap penggunaannya. Efek samping dari penggunaan antibiotik bisa berbeda-beda, tergantung pada jenis dan dosis obat, juga pada respons tubuh pasien terhadap obat.
“Ada beberapa efek samping umum yang mungkin seperti diare, ruam, gatal, dan lain sebagainya,” ujarnya. **
Indah menyarankan, ketika dokter meresepkan antibiotik, pasien semestinya mencari jenis obat yang diresepkan tersebut, serta efek samping apa yang barangkali akan timbul. Apabila timbul efek samping, mengonsumsi banyak air putih juga dapat meminimalisir hal tersebut. Konsumsi air putih secara umum memang bisa mengurangi efek samping penggunaan obat.
Editor : Miftahul Khair