Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Rokok Jadi Penyebab Utama Penyakit Paru Ostruksi Kronis

Miftahul Khair • Jumat, 29 November 2024 | 10:59 WIB

 

Ilustrasi seorang wanita menderita penyakit paru.
Ilustrasi seorang wanita menderita penyakit paru.

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) merupakan salah satu gangguan kesehatan serius yang ditandai dengan hambatan aliran udara di paru-paru. Penyebab utamanya adalah merokok. 

Oleh: Siti Sulbiyah

Hari Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) Sedunia diperingati setiap tanggal 17 November dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan pengobatan PPOK. PPOK merupakan suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-paru yang berlangsung lama. Penyakit ini menghalangi aliran udara sehingga menyebabkan penderita mengalami kesulitan dalam bernafas.

Dalam acara Temu Media: Hari Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) yang digelar secara daring oleh Kementerian Kesehatan pekan lalu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, memaparkan data terkini terkait prevalensi penyakit paru di Indonesia. 

"Saat ini, prevalensi asma mencapai 29,6 juta kasus, sementara PPOK tercatat sebanyak 16 juta kasus,” katanya.

Mayoritas pasien baik asma maupun PPOK adalah laki-laki, dengan rasio 60 persen pada asma dan 57 persen pada PPOK. Menurut Siti Nadia, tingginya angka PPOK pada laki-laki erat kaitannya dengan kebiasaan merokok yang masih dominan. “Mengapa laki-laki? dikarenakan faktor risiko dari kebiasaan merokok yang masih tinggi yang menjadi penyebab utama daripada PPOK,” tuturnya.

Faktor utama penyebab PPOK adalah perilaku merokok. Selain itu, paparan di tempat kerja juga menjadi risiko besar. Gangguan fungsi paru pada pekerja banyak ditemukan akibat paparan lingkungan kerja, seperti listrik, gas, uap air, suhu panas, dan udara dingin. Sektor yang paling terdampak meliputi pertambangan, penggalian, konstruksi, dan industri pengolahan.

Arto Yuwono Soeroto dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (Papdi) mengatakan PPOK masih menjadi salah satu penyebab kematian utama di dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), PPOK menduduki peringkat keempat sebagai penyebab kematian global, dengan angka kematian mencapai 3,5 juta jiwa pada tahun 2021, atau sekitar 5 persen dari seluruh kematian di dunia.

Rokok tembakau menjadi faktor utama penyebab PPOK, menyumbang 70 persen kasus di negara berpenghasilan tinggi. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, kontribusi rokok tembakau terhadap PPOK berkisar antara 30 hingga 40 persen. Namun, polusi rumah tangga, seperti asap dari pembakaran bahan bakar padat untuk memasak dan pemanas, juga menjadi penyebab signifikan.

"Memang yang paling banyak berperan adalah merokok tembakau, tetapi bukan hanya itu. Polusi, baik di dalam rumah tangga maupun di luar lingkungan, juga berkontribusi besar," jelasnya.

PPOK merupakan kondisi serius pada paru-paru yang disebabkan oleh kerusakan saluran napas atau bagian lain dari jaringan paru-paru, seperti gelembung udara atau jaringannya. Kerusakan ini mengakibatkan hambatan aliran napas, sehingga penderitanya mengalami kesulitan bernapas atau sesak napas yang kronis.

Menurutnya, perubahan struktur pada paru-paru ini disebabkan oleh peradangan kronis akibat paparan gas atau partikel berbahaya. 

“Paling sering adalah asap rokok. Sampai dengan sekarang dogma keilmuan kita bilang bahwa asap rokok yang paling menyebabkan masalah untuk terjadinya PPOK,” katanya. 

Pada penderita PPOK, saluran napas yang menyempit dan kerusakan pada daya pegas paru-paru menjadi dua masalah utama. Penyempitan saluran napas menyebabkan udara sulit mengalir dengan lancar, sedangkan berkurangnya daya pegas paru-paru membuat proses mengeluarkan udara menjadi kurang efektif.

"Udara yang masuk menjadi sulit keluar karena saluran napas yang sempit, ditambah daya dorong udara dari paru-paru yang melemah. Hal ini menyebabkan keluhan seperti sesak napas dan suara mengi," jelasnya. 

Selain kebiasaan merokok, PPOK juga bisa disebabkan oleh polusi udara yang bersumber dari aktivitas rumah tangga maupun lingkungan kerja. "Polusi udara di dalam rumah, seperti memasak dengan kayu bakar tanpa ventilasi yang memadai, menjadi salah satu faktor risiko utama PPOK. Sedangkan di luar ruangan, polusi udara dari lingkungan perkotaan atau tempat kerja seperti pabrik juga dapat memicu penyakit ini," ungkapnya.

Penyebab lain yang berkontribusi terhadap PPOK juga meliputi perokok pasif, perubahan cuaca, serta. defisiensi alfa-1 antitrypsin. **

Editor : Miftahul Khair
#penyakit paru #penyebab #rokok