Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Panduan Menumbuhkan Sikap Asertif si Kecil, Bangun Kepercayaan Diri Anak untuk Hadapi Bullying

Miftahul Khair • Rabu, 4 Desember 2024 | 14:21 WIB
Ilustrasi membangun sikap asertif pada anak agar bisa menghadapi bullying.
Ilustrasi membangun sikap asertif pada anak agar bisa menghadapi bullying.

Anak-anak barangkali menghadapi perlakuan buruk dari teman-temannya, seperti perundungan atau pengucilan. Saat anak mengungkapkan hal tersebut, peran orang tua sangat penting dalam memberikan dukungan. Di sisi lain, anak perlu dibekali dengan sikap asertif dan tegas ketika mendapat perlakuan buruk.

Oleh : Siti Sulbiyah

DALAM dunia anak-anak, hubungan sosial dengan teman sebaya sangat mempengaruhi perkembangan mereka. Tidak jarang, anak-anak menghadapi perlakuan buruk dari teman-temannya, seperti perundungan atau pengucilan. Ketika hal ini terjadi, peran orang tua penting dalam mendukung dan membantu anak menghadapinya.

Dosen Psikologi IAIN Pontianak, Isyatul Mardiyati, M.Psi, Psikolog, menyampaikan bahwa saat anak mengungkapkan bahwa dirinya diperlakukan buruk, orang tua sebaiknya merespons dengan cara yang tenang dan penuh empati. 

“Ketika anak kita menyampaikan informasi bahwa dia diperlakukan buruk, maka yang dapat dilakukan orang adalah mendengarkan, tunjukkan empati dan sebisa mungkin tenang dan tidak menyalahkan," ujar Isyatul.

Kebanyakan orang tua cenderung panik atau bahkan marah ketika mendengar anak mereka diperlakukan buruk. Reaksi ini seringkali tidak membantu dan justru dapat memperburuk situasi. Oleh karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan orang tua adalah mencari informasi secara komprehensif mengenai apa yang sebenarnya terjadi.

"Usahakan untuk mencari tahu kebenaran dari berbagai sumber. Ini bisa dilakukan dengan bertanya langsung kepada anak, atau jika perlu, mengonfirmasi dengan pihak sekolah seperti guru atau teman-teman anak," lanjutnya. 

Selain itu, sangat penting bagi orang tua untuk menghindari sikap menghakimi anak. Tindakan seperti menyalahkan atau menganggap anak sebagai ‘anak nakal’ hanya akan memperburuk suasana. Sebaliknya, orang tua harus lebih memfokuskan pada validasi perasaan anak dan menggali apa yang sebenarnya anak rasakan.

“Tapi tunjukkan empati, gali apa perasaan anak, lebih memvalidasi dulu perasaan anak, dan jangan menyalahkan dulu,” katanya.

Menumbuhkan sikap asertif pada anak sejak dini merupakan langkah penting dalam membekali mereka dengan keterampilan sosial yang baik. Isyatul menekankan pentingnya mengajarkan nilai-nilai berteman yang baik, seperti bagaimana bersikap asertif, menolak perlakuan buruk, dan melaporkan tindakan yang tidak baik.

“Sejak kecil, dari usia TK sudah diajarkan nilai-nilai berteman yang baik, bagaimana bersikap asertif. Ajarkan anak cara menolak atau menghindar,” jelas Isyatul.

Salah satu cara yang dapat diajarkan adalah mengungkapkan ketidaknyamanan dengan kata-kata yang tegas, seperti "setop, aku tidak suka" atau "berhenti mengganggu saya".

Selain mengajarkan anak untuk melindungi dirinya, ia juga menekankan pentingnya mengenalkan sikap empati kepada anak. Boleh pula mengajarkan anak untuk melapor kepada orang dewasa terdekat, seperti guru ketika itu terjadi di sekolah.

Penting untuk dicatat bahwa sikap asertif tidak hanya berguna ketika anak menjadi korban perlakuan buruk. Orang tua juga perlu mengajarkan anak bagaimana bersikap ketika menjadi saksi dari perundungan atau ketika melihat teman yang disakiti. Anak perlu didorong untuk melaporkan kejadian tersebut.

Isyatul menegaskan tindakan kekerasan yang dialami anak dapat meninggalkan bekas yang mendalam dalam bentuk trauma, yang dapat mempengaruhi perilaku, hingga prestasi akademik mereka. Karena itulah, ia mengingatkan bahwa jika anak menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan setelah mengalami kekerasan maka bisa menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami trauma.

“Menarik diri dari lingkungan sosial, terlihat kehilangan minat, kegiatan yang dulu dia senangi jadi tidak senang, bisa menjadi tanda anak mengalami trauma. Bisa juga terlihat dari aktivitas akademiknya yang menurun,” jelas Isyatul.

Jika trauma sudah terlihat, penanganan yang tepat sangat dibutuhkan. Isyatul menyarankan orang tua untuk segera mencari bantuan dari ahli, seperti psikolog, yang dapat memberikan konseling atau terapi untuk membantu anak mengatasi trauma. 

Lebih jauh, ia juga mengungkapkan bahwa maraknya perilaku buruk yang dilakukan oleh teman, termasuk bullying, semakin memperburuk kondisi anak-anak saat ini. Perilaku bullying ini tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah, tetapi juga dapat dilihat dan ditiru oleh anak-anak melalui media sosial. 

"Perilaku bullying ini semakin marak karena pengaruh media sosial yang bisa ditonton anak-anak dan ditiru," jelasnya.

Penyebab munculnya perilaku bullying juga dapat terkait dengan kondisi lingkungan rumah yang tidak harmonis atau kurangnya perhatian dan kasih sayang. “Para orangtua perlu untuk memastikan menciptakan lingkungan yang aman. sehingga anak tidak menyalurkan dengan cara yang agresif,” tuturnya.

Selain itu, orang tua juga harus memberikan contoh perilaku yang baik. "nak sangat mudah meniru perilaku orang tua. Jika orang tua menunjukkan sikap agresif atau kasar, anak-anak cenderung akan meniru sikap tersebut.

Bolehkah Anak Membalas?

Ketika anak diperlakukan buruk oleh teman-temannya, seringkali mereka merasa ingin membalas atau melakukan tindakan serupa. Namun, Dosen Psikologi IAIN Pontianak, Isyatul Mardiyati, M.Psi, Psikolog, menilai bahwa membalas perbuatan buruk dengan cara yang sama tidaklah tepat. Balas dendam hanya akan memperpanjang siklus kekerasan dan mengajarkan anak untuk melanjutkan perilaku buruk.

“Itu sama saja kita membuat rantai kekerasan terus berjalan,” ujar Isyatul.

Sebaliknya, Isyatul menyarankan agar orang tua mengajarkan anak untuk membela diri dengan cara yang sehat. Anak perlu tahu bahwa mereka dapat mengatakan “tidak” atau menghindar ketika berada dalam situasi yang tidak aman atau nyaman, tanpa harus menyakiti teman yang berperilaku buruk. Menghindari atau menolak dengan tegas adalah langkah yang lebih efektif daripada membalas perbuatan buruk dengan kekerasan.

Isyatul juga menekankan bahwa mengajarkan anak bela diri boleh dilakukan, namun dengan penekanan pada pembelaan diri, bukan untuk menyerang. Anak perlu memahami bahwa keterampilan bela diri adalah alat untuk melindungi diri, bukan untuk mencari atau membalas kekerasan.

“Tanamkan pada anak bahwa bela diri itu hanya digunakan untuk membela diri, bukan untuk mengedepankan kekerasan,” jelasnya.

Ketika tindakan kekerasan yang diterima anak sudah terlalu parah dan mulai mengganggu perkembangan emosional serta mentalnya, orang tua perlu bertindak tegas untuk melindungi anak. Dalam situasi seperti ini, peran orang tua sangat penting untuk mengambil langkah yang tepat.

Jika tindakan kekerasan sudah cukup keterlaluan dan bisa mengganggu anak, orang tua perlu mengambil tindakan yang lebih serius, seperti menyampaikan masalah ini kepada orang tua pelaku kekerasan.

Namun, tidak semua orang tua merasa nyaman atau mampu untuk langsung berkomunikasi dengan orang tua pelaku. “Bekerja sama dengan mediasi dengan guru di sekolah,” tuturnya.

Dengan bantuan guru, permasalahan ini bisa diselesaikan dengan cara yang lebih konstruktif, dan anak-anak yang terlibat bisa belajar untuk memahami konsekuensi dari tindakan mereka serta mencari jalan keluar yang lebih baik. (**)

Editor : Miftahul Khair
#sikap asertif #bullying #anak #kepercayaan diri