Istilah bulldozer parenting saat ini semakin sering dibicarakan. Gaya pengasuhan ini menggambarkan orang tua yang berperan layaknya bulldozer, membersihkan setiap rintangan yang mungkin dihadapi anak-anak mereka. Gaya seperti dianggap dapat menghambat perkembangan kemandirian dan daya juang anak.
Oleh : Siti Sulbiyah
Nama Lady Aurellia Pramesti (LAP) tengah menjadi perbincangan di media sosial. Hal itu lantaran Lady diduga sebagai penyebab terjadinya pemukulan kepada Lutfi yang berstatus Chief koas mahasiswa kedokteran Universitas Sriwijaya.
Mengutip jawapos.com, kasus ini bermula dari beredarnya sebuah video viral berdurasi 66 detik di media sosial. Video itu memperlihatkan seorang pria berbaju merah tengah memukuli seorang dokter berseragam koas di sebuah cafe di Jalan Demang, Palembang.
Korban diketahui bernama Lutfi yang merupakan seorang chief koas mahasiswa Universitas Sriwijaya. Peristiwa penganiayaan itu terjadi dilatarbelakangi perselisihan tentang jadwal jaga koas pada malam tahun baru yang diatur oleh korban.
Lady diinformasikan memprotes jadwal jaga malamnya yang dibuat korban khususnya saat malam tahun baru. Padahal, jadwal tersebut telah dibuat berdasarkan persetujuan teman-teman koas yang lainnya.
Kemudian, Lady mengadu ke ibunya yang kemudian berlanjut kepada pemanggilan terhadap korban Lutfi dan dua teman lainnya. Ketiga orang itu dianggap tidak merespons atau menyepelekan apa yang dibicarakan. Kemudian, pria berbaju merah yang merupakan teman ibu Lady emosi hingga berujung pemukulan seperti video yang viral saat ini. Kasus ini pun tengah ditangani oleh Polda Sumatera Selatan
Di media sosial, warganet lantas mengomentari pola asuh Sri pada anak masuk dalam kategori Bulldozer Parenting. Apa itu Bulldozer Parenting?
Dosen di IAIN Pontianak, Dr. Randi Saputra, M.Pd., Kons, menjelaskan Bulldozer Parenting adalah di mana orang tua menghapus dan menghilangkan hambatan yang dihadapi anak mereka, sehingga anak tidak perlu berjuang atau menghadapi kesulitan sendiri.
“Orang tua yang bertindak seperti bulldozer ini yang meratakan jalan agar anaknya tidak perlu menghadapi tantangan, kegagalan, atau konsekuensi dari tindakan perilaku dari anak tersebut,” katanya.
Menurutnya, pola pengasuhan semacam ini mirip dengan cara kerja bulldozer, yakni meratakan jalan di depan anak. Orang tua berusaha menghilangkan rintangan yang seharusnya menjadi pembelajaran bagi anak dalam menghadapi tantangan hidup.
Terkait kasus Lady yang dituding mendapatkan gaya pengasuhan bulldozer, Randi menyoroti bahwa untuk menentukan apakah tindakan orang tua dapat dikategorikan sebagai bulldozer parenting, perlu dilihat apakah orang tua menghapus hambatan yang seharusnya dihadapi anak secara mandiri.
“Apakah orang tuanya menghapus hambatan yang seharusnya dihadapi Lady secara mandiri, seperti campur tangan berlebihan, dalam masalah baik itu sekolah, sosial, atau keseharian si Lady itu,” tuturnya.
Apabila orang tuanya menyelesaikan seluruh masalahnya, melindungi secara berlebihan, atau mencegah si Lady belajar dari kesalahan, maka menurutnya tindakan tersebut dikategorikan sebagai bulldozer parenting.
Terlepas dari kasus tersebut, Randi menegaskan bahwa gaya pengasuhan seperti ini berpotensi menghambat perkembangan kemandirian anak. Anak yang terus-menerus dilindungi dari tantangan akan kesulitan mengembangkan kemampuan menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, dan belajar dari kegagalan.
Beberapa contoh tindakan dari gaya parenting ini seperti orang tua mengerjakan PR anak karena takut nilainya buruk, menelpon guru atau sekolah untuk menyelesaikan konflik teman sebaya, serta membeli segala sesuatu kepada anak agar tidak merasa kecewa. Orang tua juga tidak sungkan untuk menyogok atau bernegosiasi dengan pihak lain agar anak mendapatkan keunggulan dalam kompetisi.
Gaya pengasuhan bulldozer parenting dapat menimbulkan berbagai dampak psikologis pada anak. Randi mengatakan, salah satunya adalah kurangnya kemandirian anak, dimana anak cenderung bergantung pada orang tua dan tidak memiliki keterampilan memecahkan masalah.
Selain itu, hal ini akan membuat ketahanan mental anak rendah, di mana anak sulit menghadapi kegagalan, kritik, atau tantangan dalam kehidupannya. Ini tentunya akan membuat anak menghadapi kecemasan dan stress.
“Kurangnya kemampuan mengelola emosi, anak cenderung mudah frustasi karena tidak mampu meregulasi masalahnya sendiri,” tuturnya.
Rendahnya rasa percaya diri juga akan berdampak lantaran anak merasa tidak kompeten karena selalu ditolong oleh orang tuanya. Di dunia nyata, mereka akan kesulitan bersaing atau berdiskusi dengan orang lain. Keterampilan sosial anak yang kurang membuat sulit berinteraksi dengan teman sebaya karena tidak terbiasa menyelesaikan konflik secara mandiri. Kurangnya keterampilan pemecahan masalah dan anak tidak belajar bagaimana menghadapi tantangan dalam hidupnya.
Mempengaruhi Hubungan Teman Sebaya
Bulldozer parenting memengaruhi hubungan anak dan teman sebayanya. Anak mungkin tidak berinteraksi secara sehat dengan teman sebaya karena terbiasa mendapat perlindungan dari orang tuanya.
“Anak mungkin mengalami kesulitan beradaptasi, serta anak mungkin tidak berinteraksi secara sehat dengan teman sebaya karena terbiasa terlindungi,” tuturnya.
Dalam membangun hubungan dengan teman-temannya yang membutuhkan team work anak juga bisa merasa kebingungan. Anak juga akan bergantung pada orang lain yang menyelesaikan masalah mereka.
“Anak cenderung akan bergantung pada temannya, entah nanti dia sulit mengambil keputusan, terserah apa teman, tidak menentukan pilihan, atau bisa ditampilkan dalam bentuk ketergantungan,” tuturnya.
Anak juga mungkin juga tidak disukai oleh teman. “Karena anak akan dianggap manja atau tidak mandiri," tuturnya.
Ciri-ciri Orang Tua Bulldozer Parenting
Dosen di IAIN Pontianak, Dr. Randi Saputra, M.Pd., Kons mengatakan ada beberapa ciri orang tua yang menerapkan Bulldozer Parenting, antara lain :
-
Menghilangkan hambatan untuk anak. Orang tua membersihkan rintangan sehingga anak tidak menghadapi kondisi yang menyulitkan atau memberatkan. “Inilah ciri utama dari bulldozer parenting,” tuturnya.
-
Menyelesaikan masalah anak. Orang tua ikut andil dalam menyelesaikan masalah anak, baik itu masalah sosial, pribadi, belajar, atau bahkan kariernya. “Dalam hal ini orang tua tidak memberikan kesempatan anak untuk mencoba menyelesaikannya,” katanya.
-
Melindungi anak secara berlebihan. Orang tua mencegah anak mengalami kekecewaan, kegagalan, atau kritik dengan bersikap overprotective.
-
Mengontrol lingkungan anak. Orang tua mengatur segala aspek lingkungan anak secara berlebihan demi memastikan kenyamanan anak.
-
Menghindari konflik. Orang tua cenderung menuruti semua keinginan anak agar anak tidak merasa kecewa atau marah.(sti)
Editor : A'an