Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mitos dan Fakta Penyakit Lupus

A'an • Jumat, 27 Desember 2024 | 10:00 WIB
Ilustrasi orang dengan penyakit lupus.
Ilustrasi orang dengan penyakit lupus.

Lupus adalah penyakit autoimun yang dapat mempengaruhi banyak bagian tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, dan organ-organ vital lainnya. Meskipun lupus telah dikenal sejak lama, masih banyak mitos yang beredar mengenai penyakit ini.

 

Oleh : Siti Sulbiyah 

 

Lupus Eritematosus Sistemik (LES) atau yang sering disebut dengan lupus, merupakan penyakit autoimun yang dapat memengaruhi berbagai organ tubuh. Penyakit ini dikenal dengan sebutan "penyakit seribu wajah" karena gejalanya yang sangat beragam. Dilaporkan, prevalensi LES di dunia dilaporkan sekitar 50-100 per 100.000 dewasa.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, dalam Media Briefing mengenai Lupus Eritematosus Sistemik yang diadakan pekan lalu.

Meskipun lupus menjadi masalah kesehatan global, prevalensinya di Indonesia belum memiliki data yang pasti. “Namun suatu studi yang dilakukan oleh Profesor Handono Kalim dkk, bahwa prevalensi daripada LES adalah sebesar 0,5 persen,” katanya.

Ia mengungkapkan, estimasi jumlah penderita lupus di Indonesia saat ini sekitar 1,3 juta orang. Ia juga menekankan bahwa lupus lebih sering ditemukan pada wanita dibandingkan pria.

Lupus merupakan penyakit autoimun yang menyerang sistem kekebalan tubuh, di mana tubuh menyerang jaringan sehatnya sendiri. Penyakit ini dapat menyerang berbagai organ tubuh, termasuk kulit, sendi, ginjal, dan bahkan sistem saraf.

Dalam kesempatan yang sama, dokter penyakit dalam Dr. dr. Alvina Widhani, Sp.PD,KAI, selaku narasumber mengatakan gejala lupus bisa berbeda antara satu individu dengan individu lainnya, bahkan dalam satu orang gejalanya bisa berubah-ubah.

"Kelainannya tidak hanya di kulit dan sendi tapi ada juga mungkin kenanya langsung ke ginjal atau bahkan ke saraf. Kadang-kadang gejalanya ini bisa mirip dengan penyakit lain," ujar Dr. Alvina.

Deteksi dini lupus sangat penting untuk memastikan pengobatan yang tepat dan mendukung proses pemulihan. Tantangan utama dalam menangani lupus adalah gejalanya yang bisa sangat mirip dengan penyakit lain, sehingga sering kali sulit untuk didiagnosa tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Untuk itu, lanjutnya, penting bagi masyarakat dan keluarga yang mengenal penderita lupus untuk mendukung proses pengobatan dan memahami penyakit ini. Mengenali gejala sejak dini bisa sangat membantu dalam proses penyembuhan. “Yang penting juga adalah mengurangi stigma. Kadang-kadang stigma ini bisa mempengaruhi proses pengobatan,” katanya.

Ada sejumlah mitos dan fakta tentang Lupus yang beredar di masyarakat. Seperti mitos bahwa Lupus merupakan penyakit yang bisa menular. Alvina mengatakan penyakit autoimun yang terjadi karena gangguan pada sistem kekebalan tubuh. 

Ia menjelaskan sistem kekebalan tubuh yang sehat seharusnya bisa membedakan antara sel tubuh sendiri dan zat asing, seperti bakteri atau virus. Namun, pada lupus, sistem kekebalan tubuh justru menyerang sel tubuh sendiri. 

Ia menekankan autoimun, alergi, dan infeksi adalah tiga hal yang berbeda. Alergi adalah reaksi tubuh terhadap benda asing atau alergen seperti makanan, obat-obatan, atau debu. Sementara itu, lupus adalah penyakit autoimun, yang berarti sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan dan menyerang jaringan tubuh yang sehat.

“Beda dengan penyakit infeksi yang bisa menular karena sistem kekebalan tubuh yang menurun,” tuturnya.

Mitos lainnya adalah bahwa lupus hanya menyerang perempuan. Meskipun lupus lebih sering ditemukan pada perempuan, penyakit ini tidak hanya menyerang wanita, melainkan juga pria. “Ada salah satu faktor yang berpengaruh yaitu faktor hormon estrogen yang memang berpengaruh pada perjalanan terjadinya Lupus,” tambahnya.

Lupus hingga saat ini belum dapat disembuhkan secara total. Penyakit ini sering kali terkait dengan faktor genetik yang tidak bisa diubah. Meskipun tidak dapat disembuhkan, pengobatan yang tepat dapat mengontrol gejala penyakit ini dan memperbaiki kualitas hidup penderita. Salah satu tujuan utama pengobatan lupus adalah mencapai remisi, yaitu suatu keadaan penyakit yang terkontrol dengan baik dengan atau sudah tanpa obat.

Bahkan odapus, sebutan untuk penderita penyakit lupus, bisa hidup normal dan aktif meskipun tidak dapat disembuhkan. Dengan pengobatan saat ini kesintasannya cukup baik bisa sampai 90 persen bahkan sampai 20 tahun setelah diagnosis.

“Jadi target pengobatan adalah mencapai remisi, penyakitnya bisa terkontrol dengan dosis obat yang minimal dengan efek samping yang minimal. Harapannya gejalanya bisa dikurangi mencegah kekambuhan, kerusakan organ, dan pada akhirnya yang diharapkan adalah kualitas hidup yang bisa lebih baik,” paparnya. **

Editor : A'an
#Lupus