Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Ketika Pasangan Mengabaikan Anak Usai Bercerai: Pentingnya Menjaga Hak Anak

Miftahul Khair • Sabtu, 11 Januari 2025 | 14:07 WIB
Ilustrasi anak di antara orang tua yang bercerai.
Ilustrasi anak di antara orang tua yang bercerai.

Menghadapi mantan pasangan yang melupakan dan meninggalkan anak bisa menjadi pengalaman yang sangat emosional dan sulit. Situasi ini menjadi permasalahan serius, mengingat hubungan antara orang tua dan anak adalah ikatan yang seharusnya tetap terjaga meski telah berpisah.

Oleh : Siti Sulbiyah

Hubungan antara orang tua dan anak adalah ikatan yang seharusnya tetap kuat meski kedua orang tua telah bercerai. Namun, ada kalanya seorang mantan pasangan memilih untuk menjauh atau bahkan memutus kontak dengan anak-anaknya.

Apapun alasannya, langkah semacam ini tidak dapat dibenarkan. Anak memiliki hak untuk menjalin hubungan dengan kedua orang tuanya, mendapatkan kasih sayang dan nafkah yang cukup dari kedua orang tua, terlepas dari status hubungan mereka.

Dosen IAIN Pontianak, Dr. Fitri Sukmawati, M.Psi, Psikolog menilai bahwa permasalahan orang dewasa sering kali tidak dipahami oleh anak. "Ketika sudah terjadi perpisahan, yang hilang adalah hak anak. Secara psikologis, anak perlu perlindungan dan kasih sayang," ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa dalam kebanyakan kasus, hak asuh anak biasanya jatuh kepada ibu, sehingga anak mungkin kehilangan kedekatan atau kasih sayang dari ayahnya. Dalam hal ini, orang tua kandung sebenarnya berhak untuk menemui anaknya, begitu pula sebaliknya. Anak juga berhak bertemu orang tuanya. 

“Dan mungkin ada aturan yang disepakati oleh kedua orang tua yang telah bercerai tersebut,” tuturnya. 

Meski demikian, dalam beberapa kali ditemukan kasus di mana mantan pasangan memilih untuk memulai hidup baru dan menghindari kontak dengan anak kandungnya.

Bagi anak-anak, perpisahan orang tua adalah pengalaman yang paling menyakitkan. Mereka harus menghadapi kehilangan bukan hanya dalam arti fisik, tetapi juga secara emosional. Sementara orang tua yang telah berpisah barangkali bisa mengejar kebahagiaan baru. Namun, anak-anak justru dapat menjadi korban yang terlupakan.

Lantas, apa sebab mantan pasangan meninggalkan anak? Fitri mengungkapkan banyak alasan yang melatarbelakangi hal ini. Mulai dari keengganan untuk bertanggung jawab, pernikahan baru, hingga pengaruh dari pasangan barunya yang melarang hubungan dengan anak. Bahkan, bisa juga karena seseorang  menyimpan kebencian terhadap mantan suami atau istrinya.

"Saya pernah dapat kasus itu, seorang ayah sebenarnya sayang sama anaknya. Namun ketika si ayah menikah, anak tidak disapanya. Kita bingung, apakah segitu bencinya,” imbuhnya.

Bila pada proses perpisahan terjadi pemutusan kontak sementara, Fitri menilai situasi ini barangkali bisa dimaklumi. Dalam posisi ini, orang tua yang bercerai mungkin perlu waktu untuk cooling down hingga meredakan ego masing-masing. 

“Tapi ego itu harus segera diturunkan, karena anak perlu kasih sayang," ujarnya.

Fitri menekankan pentingnya menjaga hubungan yang sehat dengan mantan pasangan, memastikan anak tetap bisa bertemu kedua orang tuanya, menjaga hak asuh, dan memenuhi kewajiban nafkah anak. 

Usahakan untuk tidak terjebak dalam perasaan negatif atau marah yang berlarut-larut. Mempertahankan sikap positif dapat membantu menjaga ketenangan hati. Hal ini juga dapat membantu anak merasakan kenyamanan dalam menjalani hidup mereka.

Mantan pasangan memiliki kewajiban hukum terhadap anak, seperti kewajiban untuk memberikan nafkah atau hak asuh. Apabila mengabaikan kewajiban tersebut, maka bisa mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan ahli hukum guna mencari tahu langkah-langkah hukum yang bisa diambil. 

“Ada pengadilan, kita negara hukum. Boleh mengajukan atau menuntut (mantan pasangan, red) nafkah untuk anak,” tuturnya.

Utamakan Kesejahteraan Anak

Dosen IAIN Pontianak, Dr. Fitri Sukmawati, M.Psi, Psikolog menekankan pentingnya menjaga hubungan yang sehat dengan mantan, serta memastikan anak tetap bisa bertemu dengan kedua orang tuanya, menjaga hak asuh anak, dan menjaga nafkah anak.

Jika memungkinkan dan dalam keadaan yang tidak emosional, mencoba untuk berkomunikasi dengan mantan pasangan barangkali bisa ditempuh.  “Bagaimanapun anak memiliki hak mendapatkan nafkah,” tegasnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa konflik antara orang tua yang telah bercerai perlu diminimalisir bahkan dihindari. Kondisi yang memunculkan pertikaian semacam ini lagi-lagi akan berdampak negatif pada anak. 

Penting pula untuk mengedepankan kesejahteraan anak. Anak perlu merasakan kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya. Meskipun mantan pasangan memilih untuk tidak terlibat dalam kehidupan anak, berusahalah untuk memberi anak rasa aman.

Fitri juga mengingatkan bahwa ayah atau ibu yang bercerai lalu meninggalkan dan memutuskan kontak dengan buah hatinya akan mencederai hak anak. Hal ini dapat menimbulkan kebencian, trauma, dan dampak psikologis lainnya bagi anak. (**)

Editor : Miftahul Khair
#cerai #hak anak