Lari kini telah berubah menjadi kegiatan yang tidak lagi dilakukan sendirian. Berbagai komunitas lari bermunculan di berbagai kota, termasuk Pontianak. Salah satu yang menarik perhatian adalah Agak Telat Lari (ATL) Running Club, komunitas menghadirkan konsep unik dan santai dalam kegiatan lari bersama.
Oleh : Siti Sulbiyah
KEGIATAN ATL Running Club Goes to Tugu Khatulistiwa baru-baru ini sukses digelar oleh komunitas lari satu ini. Mengawali tahun 2025 dengan kegiatan sehat, acara tersebut diikuti oleh puluhan pelari, baik anggota ATL maupun dari komunitas lain.
Perjalanan menuju Tugu Khatulistiwa memberikan pengalaman yang tak terlupakan, terutama ketika para pelari harus pulang menggunakan kapal menyeberangi Sungai Kapuas.
“Kami pulang menggunakan kapal menyeberangi sungai Kapuas. Di antar sampai alun-alun,” kata Adit, salah satu perintis komunitas ini kepada Pontianak Post, beberapa waktu yang lalu.
Kepada Pontianak Post, Adit, bersama Eki, Guntur, Udin, dan Agung membagikan cerita tentang eksistensi komunitas mereka. Menurut mereka, komunitas ini ingin menghadirkan pengalaman lari yang menyenangkan.
Berawal dari keinginan sederhana untuk berlari bersama, Adit menginisiasi komunitas ini pada tahun 2023. "Awalnya saya ingin lari, sudah ada beberapa kawan yang suka lari, tapi masing-masing. Akhirnya saya ajak beberapa teman untuk lari bareng. Waktu itu cuma ada tiga orang," cerita pria yang disapa Adit Tengah Malam itu.
Seiring waktu, komunitas ini berkembang secara organik. Dari mulut ke mulut, teman mengajak teman, dan jumlah anggota pun bertambah. Hingga akhirnya, ATL resmi menjadi komunitas lari dengan identitas yang unik.
Awalnya, ATL merupakan singkatan dari Adventures, Training, dan Laugh. Namun, lambat laun, nama itu berubah makna menjadi "Agak Telat Lari" karena kebiasaan para anggotanya yang sering terlambat datang dari jadwal yang ditetapkan. "Kalau janjian jam setengah enam pagi, pasti mulainya jam enam. Akhirnya kami pakai nama itu saja," ujarnya sambil tertawa.
Berbeda dari komunitas lari yang mengutamakan target kecepatan atau jarak tempuh, ATL menawarkan pengalaman berlari yang santai dan menyenangkan. "Kita yang penting lari, tidak harus cepat. Komunitas yang serius sudah banyak, jadi kita buat yang lebih santai dan fun," tambahnya.
ATL memiliki jadwal rutin yang fleksibel, menyesuaikan dengan waktu kerja anggotanya. Selasa, Rabu, dan Jumat adalah jadwal lari masing-masing, dengan dua titik kumpul. Pada Akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu, menjadi momen spesial untuk lari bersama, di mana partisipasi lebih besar karena banyak anggota yang memiliki waktu luang.
Eki, salah satu anggota komunitas, menambahkan bahwa sebagian besar anggota ATL adalah laki-laki. "Member perempuan yang benar-benar rutin, memang tidak ada. Tapi kalau ada kegiatan lari bareng, kadang-kadang perempuan dari komunitas lain ikut bergabung," tuturnya.
Berbeda dari komunitas lari pada umumnya, ATL menawarkan konsep santai dan penuh hiburan. Mereka tidak mematok kecepatan atau target tertentu. "Kalau mau lari pagi, tapi susah bangun, masih bisa ikut karena kami kadang turun agak siang. Mungkin ada yang habis lembur atau tidurnya kurang," jelas Eki.
Setiap hari Minggu, ATL mengadakan kegiatan yang mereka sebut Lari Bergurau. Dalam kegiatan ini, para pelari mengenakan kostum unik seperti baju tidur, kemeja pantai, atau bahkan baju kerja. "Gimmick seperti ini bikin kegiatan lari jadi lebih menyenangkan," imbuhnya.
Sementara itu, hari Sabtu menjadi agenda untuk lari yang lebih serius dengan jarak tempuh antara lima hingga 15 kilometer. Lokasi start seringkali berbeda satu sama lain sesuai kebutuhan masing-masing pelari. Tetapi biasanya semua peserta berkumpul kembali di satu titik untuk menutup kegiatan dengan ngopi bersama.
Udin, salah satu anggota ATL, merasakan manfaat besar dari keikutsertaannya. Banyak yang dulunya memiliki postur tubuh yang berlebih, sekarang semakin menuju ke ideal. Mereka juga terbiasa untuk bangun pagi dan mengawali hari dengan lebih semangat.
“Intinya kami jadi lebih sehat,” tutur Udin.
Namun, tantangan yang kerap dialami para anggota, yakni menahan hasrat untuk berbelanja perlengkapan lari yang harganya tidak murah. Outfit atau aksesori lari seperti sepatu, baju, jam, dan lain sebagainya dianggap penting karena selain memberikan kenyaman juga dapat meningkatkan suasana gembira saat berlari.**
Editor : A'an