Depresi pada anak memerlukan perhatian serius dari orang tua dan lingkungan sekitar, karena penyebabnya yang beragam. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenali tanda-tanda depresi pada anak sejak dini agar dapat memberikan penanganan yang tepat.
Oleh : Siti Sulbiyah
Survei kesehatan mental pada remaja Indonesia tahun 2022 menunjukkan bahwa 5,5 persen remaja usia 10-17 tahun mengalami gangguan mental, dengan satu persen di antaranya mengalami depresi. Selain itu, survei Kesehatan Jiwa Remaja Nasional (I-NAMHS) pada 2022 lalu disebutkan lebih dari 17 juta remaja Indonesia memiliki masalah kesehatan mental.
Angka-angka ini mengindikasikan bahwa sejumlah besar anak dan remaja di Indonesia tengah berjuang dengan masalah psikologis yang kurang mendapat perhatian. Fenomena ini menyoroti pentingnya upaya untuk meningkatkan pemahaman dan penanganan gangguan mental pada kalangan remaja.
Menanggapi hal ini, Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 10 Pontianak, Endah Fitriani, M.Psi mengatakan, depresi tidak hanya dialami oleh orang dewasa saja, anak atau remaja juga menunjukkan mengalami depresi yang sebenarnya penyakit yang dapat diobati. Depresi membutuhkan perhatian serius dari orang tua serta masyarakat.
Ia menilai penyebab depresi tidak diketahui secara pasti, tetapi pada umumnya seseorang menjadi depresi bisa disebabkan oleh beberapa faktor dan gejala. “Setelah memahami penyebab terjadinya depresi, orang tua harus memahami secara detail mengenai gangguan mental pada anak,” katanya.
Secara umum, terdapat beberapa gejala umum anak mengalami depresi, yakni perubahan suasana hati seperti sedih atau mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, pola tidur yang buruk seperti susah tidur/insomnia, serta perubahan nafsu makan, seperti berkurang berkeringat.
Penurunan maupun peningkatan berat badan tanpa alasan yang jelas, kelelahan yang terus menerus, keinginan untuk menyendiri, dan keinginan untuk mengakhiri hidup juga merupakan tanda yang bisa terlihat.
Perubahan perilaku yang tidak biasa pada anak, seperti menarik diri juga bisa jadi merupakan gejala depresi. Namun, perubahan perilaku tersebut juga bisa menjadi hal yang wajar dan normal. “Jika perubahan perilaku anak tidak kunjung membaik, atau bahkan memburuk, sebaiknya segera konsultasikan ke ahli psikiater anak,” sarannya.
Salah satu pertanyaan penting yang sering muncul adalah bagaimana cara membedakan antara depresi pada anak dengan anak yang hanya berperilaku sedih atau marah. Endah menilai, depresi pada anak berbeda dengan perasaan sedih atau marah yang biasanya bersifat sementara. Depresi dapat mempengaruhi pikiran, emosi, perilaku, dan persepsi anak secara menetap.
Sementara itu, sedih biasanya dipicu oleh peristiwa tidak menyenangkan seperti kematian orang terdekat atau perceraian. “Peristiwa sedih biasanya bersifat sementara dan akan hilang seiring waktu,” tuturnya.
Apa yang bisa menjadi pemicu utama depresi pada anak-anak? Endah menyebut, beberapa faktor pemicu depresi pada anak-anak antara lain peristiwa traumatis, seperti kematian orang terdekat, perceraian orang tua, kepindahan rumah, pelecehan fisik atau emosional, penyakit atau cacat tubuh, kelahiran yang sangat prematur, atau kondisi tunawisma.
Bahkan, orang tua dengan masalah kesehatan mental juga dapat meningkatkan risiko anak-anak mengalami gangguan kesehatan mental. Peristiwa-peristiwa traumatis ini seringkali berdampak panjang pada kondisi psikologis anak, dan jika tidak ditangani dengan baik, dapat berkembang menjadi depresi yang lebih serius.
Masalah kesehatan mental pada remaja, termasuk depresi, memerlukan perhatian yang lebih besar dari semua pihak, terutama orang tua dan keluarga. Endah memberikan beberapa langkah penting yang dapat diambil orang tua untuk mendukung kesehatan mental anak. Beberapa hal yang bisa dilakukan adalah dengan membangun kepercayaan diri anak, mendorong anak bersosialisasi, mendekatkan diri pada anak, serta mengajarkan anak mereduksi stres. **
Editor : A'an