TBC (Tuberkulosis) adalah salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan global yang serius. Meskipun sudah banyak dikenal, banyak orang yang belum sepenuhnya menyadari bahwa TBC memiliki banyak faktor risiko yang dapat mempengaruhi kemungkinan seseorang untuk terinfeksi.
Oleh : Siti Sulbiyah
Pada tahun 2023 diperkirakan terdapat sekitar 10,8 juta orang di dunia yang menderita TBC, dengan 1 juta orang di antaranya meninggal akibat penyakit ini. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun upaya penanggulangan terus dilakukan, TBC masih menjadi tantangan besar di banyak negara, termasuk Indonesia.
Di Indonesia, angka kematian akibat TBC bahkan termasuk yang tertinggi di dunia, menempati posisi kedua setelah India. “Cina yang tadinya lebih tinggi kasus dari kita Nah sekarang jadinya posisi ketiga,” ungkap Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Ina Agustina Isturini, MKM, dalam kegiatan Temu Media, Selasa (21/1)
Ia menyampaikan bahwa dari tahun 2021 hingga 2024, terjadi peningkatan dalam penemuan kasus serta pengobatannya. Bahkan pada tahun 2024, angka penemuan kasus TBC diperkirakan lebih tinggi daripada tahun 2023.
Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan TBC adalah rendahnya tingkat pelaporan kasus. Banyak kasus TBC yang tidak dilaporkan, sehingga tidak ada investigasi lebih lanjut terhadap orang-orang yang mungkin telah melakukan kontak erat dengan pasien terinfeksi. Akibatnya, penyakit ini dapat menyebar lebih luas ke orang lain tanpa terdeteksi.
Tantangan lainnya adalah terlambatnya diagnosis. Banyak pasien yang baru terdeteksi TBC pada tahap yang sudah cukup lanjut, yang tentunya membuat proses pengobatan menjadi lebih sulit. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk mengenali gejala-gejala TBC sejak dini agar dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat.
TBC bisa menyerang siapa saja, namun beberapa kelompok pekerja memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi. Berdasarkan penelitian, pekerja yang bekerja di lingkungan dengan risiko tinggi, seperti tenaga kesehatan, tenaga laboratorium, dan pekerja tambang, lebih rentan terpapar TBC. Pekerja di sektor kesehatan, misalnya, berisiko tinggi karena mereka sering berinteraksi langsung dengan pasien TBC yang aktif.
Selain itu, pekerja buruh yang bekerja di tempat dengan jumlah orang yang padat juga memiliki potensi terpapar TBC. “Untuk pekerja buruh dia juga berisiko karena tempatnya banyak (orang) dan ventilasinya kurang,” tuturnya.
Pekerja tambang, khususnya yang terpapar silika, juga berada dalam kelompok berisiko tinggi karena debu silika dapat meningkatkan kerentanannya terhadap infeksi TBC. Hal ini karena debu silika dapat menurunkan fungsi paru, sehingga paru-paru lebih rentan terhadap infeksi TBC.
Risiko penularan penyakit TB juga bisa terjadi di transportasi umum, terutama dalam kondisi sirkulasi udara yang buruk. Selain TBC, penyakit menular lainnya seperti influenza, atau Covid-19.
Transportasi umum, terutama yang padat penumpang seperti bus dan kereta, merupakan lingkungan yang ideal bagi penyebaran kuman. Ketika seseorang batuk atau bersin tanpa masker, droplet yang mengandung bakteri atau virus dapat terhirup oleh orang lain. Selain itu, kontak dengan permukaan yang sering disentuh seperti pegangan tangan, pintu, dan kursi juga menjadi jalur penularan penyakit.
Ia menekankan, penanganan penyakit ini tidak hanya memerlukan pengobatan, tetapi juga membutuhkan pendekatan promotif dan preventif yang melibatkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Kunci utama dalam mencegah TBC adalah menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti rutin mencuci tangan, terutama sebelum makan atau setelah menyentuh permukaan yang sering digunakan bersama.
Selain itu, penggunaan masker sangat dianjurkan, terutama saat seseorang sedang sakit atau berada di kerumunan. Masker tidak hanya membantu mencegah penularan TB, tetapi juga mengurangi risiko terpapar penyakit menular lainnya seperti Covid-19.
“Selalu cuci tangan, kemudian kalau sakit pakai masker dan menghindari kerumunan. Kalaupun ada di kerumunan kita menggunakan masker,” tuturnya.
Bagi kelompok yang memiliki risiko tinggi, seperti mereka yang sering berada di lingkungan padat atau memiliki kontak langsung dengan penderita TBC, skrining kesehatan secara rutin sangat dianjurkan. Skrining ini bertujuan untuk mendeteksi TBC sejak dini, sehingga pengobatan dapat dilakukan segera dan risiko penularan dapat diminimalkan.
Hapus Stigma Negatif
Stigma negatif terhadap penderita tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan besar dalam upaya pencegahan dan pengobatan penyakit ini. Betty Nababan, perwakilan dari Komunitas Penabulu STPI, menegaskan bahwa stigma sering berujung pada diskriminasi, yang justru menghambat penanganan TBC secara efektif.
“Stigma itu kita mencap buruk negatif terhadap penyakit. Kalau sudah sampai pada perlakuan maka itu sudah masuk pada diskriminasi,” tuturnya dalam kegiatan Temu Media, Selasa (21/1).
Ia menjelaskan bahwa stigma terhadap TBC, seperti anggapan bahwa penyakit ini adalah kutukan, warisan genetik, atau hanya menyerang orang dengan status ekonomi rendah, tidak berdasarkan fakta ilmiah.
“Padahal ternyata TBC sendiri itu juga bukan penyakit kutukan karena dia penularannya lewat droplet yang muncul,” katanya.
Betty juga menyoroti kesalahpahaman lain yang sering muncul, seperti anggapan bahwa TBC adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Padahal, dengan pengobatan yang tepat dan disiplin, penderita TBC bisa sembuh sepenuhnya.
Stigma seperti ini, menurut Betty, dapat berdampak buruk pada penderita. Selain menghambat proses pengobatan, stigma juga dapat membuat penderita merasa terisolasi dan enggan mencari bantuan. Stigma dan diskriminasi hanya akan memperburuk keadaan. Adapun yang diperlukan oleh penderitanya adalah dukungan, bukan pengucilan.
Ia menjelaskan bahwa pembatasan aktivitas sosial penderita TBC hanya diperlukan pada tahap awal pengobatan. “Setelah dua minggu atau satu bulan pengobatan, risiko penularan akan sangat kecil. Penderita TBC bisa kembali beraktivitas dan bergabung dengan kegiatan sosial,” katanya. (**)
Editor : A'an