PONTIANAK POST - Perilaku narsistik ini sudah bisa muncul sejak usia anak-anak dan remaja.
Penyebabnya bisa jadi pola asuh yang terjadi antara orangtua dan anak.
Psikolog Klinis, Ghulbuddin Himamy, M.Psi, Psikolog mengatakan jika anak sudah menunjukan tanda-tanda narsisme secara berlebihan, maka langkah awal yang dapat dilakukan adalah melakukan pembicaraan anak tentang perilakunya tersebut.
Tak ada salahnya untuk memberikan arahan padanya bahwa hal tersebut harus diubah.
“Selain itu orang tua harus bersikap tegas, dan latih anak untuk belajar mendengarkan orang lain,” katanya.
Hal yang juga perlu dilakukan orang tua apabila anak menunjukkan tanda-tanda perilaku narsistik adalah melakukan pendekatan yang positif.
Tak ada juga salahnya meminta bantuan dari profesional untuk mengatasi hal ini.
Sebagai orang tua yang terus belajar, tak ada salahnya untuk mengenali pola narsistik manipulatif dan ciri-cirinya. Dalam DSM-V perilaku ini cenderung berasal dari rasa takut karena tidak ingin ketidaksempurnaan atau kekurangannya terekspos. Beberapa ciri NPD adalah merasakan sensasi ‘Pentingnya Diri-Sendiri’.
“Seperti menyombongkan bakat dan pencapaian, ingin dianggap superior meskipun tidak memiliki kemampuan dalam hal tersebut,” terangnya.
Ciri lain adalah pikirannya terpenuhi oleh fantasi bahwa dirinya sukses, memiliki kekuatan, kecerdasan, kecantikan maupun kegantengan, atau cinta ideal yang tiada batasnya. (sti)
Editor : Miftahul Khair