Bulan Ramadan identik dengan peningkatan pengeluaran. Dari kebutuhan berbuka puasa hingga persiapan Lebaran, banyak orang cenderung lebih boros dibanding bulan-bulan lainnya. Namun, apakah Ramadhan menjadi alasan untuk menunda investasi?
Oleh : Siti Sulbiyah
Sebagian masyarakat Indonesia mengalami perubahan pada pengeluaran selama Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Kebutuhan untuk berbelanja dan mempersiapkan perayaan Idul Fitri, pembayaran zakat dan sedekah, hingga keinginan untuk memberikan THR kepada karyawan dan saudara menjadi faktor pendorong meningkatnya pengeluaran.
Namun, bukan berarti pada momen ini tak bisa menambah aset. Justru, bulan suci ini bisa menjadi momentum yang tepat untuk tetap berinvestasi dan mengelola keuangan dengan lebih bijak. Dengan strategi yang tepat, Ramadhan dapat menjadi bulan penuh berkah, baik secara spiritual maupun finansial.
Hal ini pun dibahas dalam acara pembukaan Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2025 yang digelar oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar secara daring dan luring, Minggu (23/2). Dalam kesempatan tersebut, Frisca Devi, penggiat investasi sekaligus Founder @ngertisaham, menyoroti pentingnya pengelolaan keuangan selama Ramadan dan Idulfitri agar tetap seimbang dan tidak mengganggu kondisi finansial di bulan-bulan berikutnya.
Frisca menekankan bahwa pengeluaran di bulan Ramadan cenderung meningkat karena adanya kebutuhan tambahan seperti biaya mudik, tunjangan hari raya (THR), serta alokasi zakat dan sedekah yang biasanya lebih besar dibandingkan bulan lainnya. Oleh karena itu, mengelompokkan pengeluaran menjadi dua kategori, yaitu rutin dan tambahan, menjadi langkah awal dalam mengatur keuangan dengan lebih baik.
“Pengeluaran yang sudah pasti rutin, kebutuhan bulanan, biaya rutin seperti iuran asuransi, KPR, ataupun SPP anak,” tuturnya.
Sementara itu, pengeluaran tambahan mencakup biaya mudik, yang bisa lebih besar bagi mereka yang harus melakukan perjalanan terutama antarpulau.
Lebih lanjut, Frisca menyarankan agar masyarakat tetap berinvestasi meskipun pengeluaran meningkat selama Ramadan. Sumber pendapatan utama biasanya berasal dari gaji atau pendapatan usaha, ditambah dengan THR dan bonus tahunan. Jika tidak dikelola dengan baik, pendapatan tambahan tersebut berisiko langsung habis untuk konsumsi.
“Kalau tidak diimbangi dengan manage yang benar takutnya langsung habis,” tuturnya.
Frisca menambahkan bahwa investasi merupakan kendaraan penting untuk mencapai tujuan finansial, baik jangka panjang, menengah, maupun pendek. Kebiasaan berinvestasi tidak bisa dibangun secara instan, melainkan membutuhkan konsistensi dalam jangka waktu lama.
Sebagai contoh, Ramadan dan Idulfitri termasuk tujuan keuangan jangka pendek, sementara dana pensiun dan dana pendidikan anak termasuk tujuan jangka panjang. Oleh karena itu, strategi pemilihan jenis atau instrumen investasi harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
Sebagai solusi, Frisca memberikan gambaran alokasi dana yang ideal. Dari gaji bulanan atau pendapatan usaha, sebaiknya 5-10 persen dialokasikan untuk investasi, sementara kebutuhan pokok bulanan dan biaya rutin lainnya tetap menjadi prioritas. Jika dana darurat belum mencukupi 10 persen dari pendapatan, sebaiknya tetap dialokasikan berapapun itu.
Sedangkan untuk THR dan bonus tahunan, Frisca menyarankan untuk mengalokasikan investasi dalam porsi yang lebih besar, yakni 10-30 persen, sementara sisanya bisa digunakan untuk biaya mudik, THR, serta zakat dan sedekah. Setiap orang memiliki kondisi keuangan yang berbeda, sehingga persentase alokasi bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Terpenting adalah memastikan bahwa keuangan tetap sehat dan tidak hanya habis untuk konsumsi sesaat
“Persentase masing-masing orang berbeda sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing,” tuturnya. **
Editor : A'an