Bagi sebagian orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, konsumsi obat secara rutin menjadi suatu keharusan. Hal ini sering menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap kesehatan ginjal.
Oleh : Siti Sulbiyah
Banyak penderita penyakit, seperti diabetes maupun hipertensi, harus mengonsumsi obat-obatan setiap hari untuk mengendalikan kondisi mereka. Kekhawatiran ini semakin besar karena beberapa obat memiliki potensi merusak ginjal jika dikonsumsi dalam jangka panjang, terutama tanpa pengawasan medis yang ketat.
Banyak pasien yang merasa dilema antara kebutuhan untuk menjaga kesehatannya dengan konsumsi obat, tetapi juga khawatir akan efek samping yang mungkin terjadi pada ginjal mereka. Terlebih, banyak informasi beredar yang menyebutkan bahwa konsumsi obat terus menerus dapat merusak ginjal.
Hal inilah yang diulas dalam Webinar Yakes Telkom bertajuk “Amankah Minum Obat Rutin Untuk Kesehatan Ginjal? Yuk Cek Faktanya!" yang digelar Kamis (13/3). Dokter Umum, dr.Meiliska Aulyanissa, MMRS, yang menjadi pembicara dalam kegiatan tersebut mengatakan fungsi ginjal adalah menyaring hasil metabolisme tubuh dan dikeluarkan melalui urine.
“Apapun yang dimakan atau diminum akan dimetabolisme di tubuh dan hasilnya akan dikeluarkan oleh urin,” katanya.
Ia mengatakan ginjal juga berfungsi menjaga kesimbangan cairan dan elektrolit, serta memproduksi sejumlah hormon. Ginjal juga memproduksi beberapa hormon penting, seperti hormon pembentukan sel darah merah, pengatur tekanan darah, dan hormon yang mengaktifkan vitamin D.
Terkait kekhawatiran akan konsumsi obat jangka panjang, dr. Meiliska menegaskan bahwa anggapan obat hipertensi dan diabetes dapat merusak ginjal adalah mitos. Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, obat antihipertensi golongan ACE inhibitor (Captopril) dan ARB (Candesartan) justru dapat memperlambat hilangnya fungsi ginjal pada penderita hipertensi.
Ia menekankan pentingnya konsumsi obat secara rutin sesuai anjuran dokter. Obat-obatan yang diberikan dokter menurutnya sudah sesuai dengan dosis yang diperlukan dan kemampuan tubuh pasien.
“Dokter juga sudah mempertimbangkan dari segi keamanan, manfaat, dan risiko dari obat tersebut apabila tidak diberikan kepada pasien,” katanya.
Menurutnya konsumsi obat antihipertensi secara rutin membantu ginjal mendapatkan nutrisi yang cukup. Sementara mengonsumsi obat antidiabetes dapat membantu mengontrol kadar gula darah yang dapat mencegah komplikasi gagal ginjal.
“Jika pasien diabetes mampu mengontrol kadar gula yang normal akan mencegah kerusakan pada ginjal,” katanya.
Di sisi lain, ia menyebut ada penggunaan obat yang dapat merusak ginjal. Salah satunya karena dilakukan jika dikonsumsi tanpa rekomendasi dokter. Beberapa obat seperti antinyeri dari golongan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS) seperti meloxicam, ibuprofen, dan asam mefenamat perlu mendapatkan perhatian dalam penggunaannya.
“Jika mengonsumsi obat tersebut dalam jangka panjang dan tanpa rekomendasi dari dokter maka bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal,” tuturnya.
Penggunaan antibiotik tanpa resep dokter juga berisiko bagi kesehatan ginjal. Banyak orang yang mengonsumsi antibiotik saat mengalami demam. Penggunaan antibiotik ini bisa menyebabkan resistensi serta gangguan pada ginjal apabila tidak di bawah pengawasan dokter.
“Penggunaan antibiotik yang terlampau bebas dan sembarangan juga dapat menyebabkan gangguan pada ginjal. Sebaiknya memang konsumsi antibiotik sesuai rekomendasi dokter,” ucapnya.
Selain itu, konsumsi obat herbal dalam jangka panjang juga dapat berdampak buruk pada kesehatan ginjal. Menurutnya, banyak kasus kerusakan ginjal yang berkaitan dengan penggunaan obat herbal yang tidak terkontrol.
“Tidak semua obat-obatan yang berlabel herbal terbuat dari tumbuhan yang aman dikonsumsi,” katanya.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat herbal dalam jangka panjang dapat menyebabkan perubahan struktur ginjal yang berujung pada kerusakannya. Karena itulah, ia menyarankan agar masyarakat bijak dalam mengonsumsi obat herbal dengan memastikan sudah memiliki izin BPOM, memahami dosisnya, dan tidak menggunakannya dalam jangka panjang jika keluhan sudah membaik. **
Editor : Miftahul Khair