Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Mengenal Silent Treatment: Si Dia Membisu Saat Hadapi Masalah

Miftahul Khair • Sabtu, 15 Maret 2025 | 15:37 WIB
Ilustrasi silent treatment.
Ilustrasi silent treatment.

Dalam sebuah hubungan romantis, komunikasi merupakan kunci utama dalam membangun kedekatan dan menyelesaikan konflik. Namun, tidak sedikit pasangan yang justru memilih untuk diam saat menghadapi masalah.

Oleh : Siti Sulbiyah

Silent treatment adalah tindakan mengabaikan atau tidak berbicara kepada pasangan sebagai bentuk respons terhadap konflik, ketidakpuasan, atau rasa marah. Dalam banyak kasus, tindakan ini justru dapat merusak hubungan dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Namun, dalam kasus lain, langkah ini diambil sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri.

Dosen IAIN Pontianak, Bella Yugi Fazny, M.Pd, menilai bahwa dalam ilmu kejiwaan, silent treatment dibahas dari berbagai sudut pandang. Ia menjelaskan bahwa dalam banyak kasus, silent treatment dapat dikategorikan sebagai bentuk kekerasan emosional.

Hal ini terjadi ketika seseorang mencoba menyelesaikan suatu masalah dengan tidak memberikan respons apa pun. “Pelaku secara sadar memutuskan untuk tidak merespons, bahkan menunjukkan bahasa tubuh yang tidak welcome," ujarnya.

Menurut Bella, tujuan dari silent treatment semacam ini adalah untuk memanipulasi pasangan. Hal ini masuk dalam unsur kekerasan, baik dalam hubungan pacaran maupun rumah tangga. Perilaku ini ditandai dengan menggantungkan solusi dari suatu masalah tanpa komunikasi yang terbuka, melainkan dengan menarik diri dan memilih diam.

“Ada masalah tapi tidak diselesaikan secara terbuka, tidak komunikatif, tapi memilih untuk menarik diri dan diam,” terangnya. 

Lebih lanjut, Bella mengungkapkan bahwa dalam beberapa kasus, pelaku silent treatment ingin merasa dibutuhkan dan dikejar oleh pasangannya. "Dia merasa, 'Apakah dia akan mencari saya atau tidak?', seolah-olah bumi berporos pada dirinya. Ini disebut sebagai silent treatment yang manipulatif," jelasnya.

Namun, tidak semua silent treatment bersifat negatif. Dalam konteks tertentu, perilaku ini bisa menjadi mekanisme pertahanan diri. Dalam kondisi ini, silent treatment yang terjadi secara tidak sadar, karena dipengaruhi oleh pengalaman traumatis masa lalu. Misalnya, seseorang yang tumbuh dalam lingkungan penuh konflik dan kekerasan cenderung mempertahankan pola ini.

“Silent treatment yang merupakan salah satu bentuk defense mechanism. Dia (pelaku) ke-trigger yang mengingat kejadian masa lalu,” tuturnya.

Bella menegaskan bahwa silent treatment yang sehat atau positif seharusnya bukan sebagai bentuk manipulasi atau pelarian dari masalah. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya butuh waktu untuk menenangkan diri, berpikir, dan kemudian berkomunikasi dengan pasangan tentang kapan waktu yang tepat untuk berbicara lebih serius.

“Mengkomunikasikan bahwa dirinya butuh waktu untuk menenangkan diri dan berpikir, memutuskan kapan untuk berbicara lebih serius. Bukan lari atau menghindari masalah,” katanya.

Bagaimana dampaknya? Bella menilai jika silent treatment dijadikan sebagai bentuk kekerasan, maka dampaknya bisa sangat merugikan pasangan. Dalam hal ini korban bisa merasa dipermainkan perasaannya. Tidak terdapatnya solusi bisa menyebabkan stres, kegalauan, dan kegelisahan.

Menurutnya, hubungan yang didasarkan pada silent treatment manipulatif akan menjadi tidak sehat. "Ini menjadi hubungan yang tidak sehat kalau memang tujuannya adalah manipulatif, untuk lari dari masalah, atau sebagai cara singkat untuk menyelesaikan konflik," katanya.

Dampak jangka panjang dari silent treatment manipulatif juga dapat merusak kualitas hubungan. Salah satunya pasangan bisa menjadi malas untuk berdialog atau menyelesaikan masalah karena terus-menerus menghadapi silent treatment. Padahal, dalam hubungan yang setara, harus ada keterbukaan dan kebebasan untuk berdiskusi.

Ia juga mengingatkan bahwa jika seseorang hidup bersama pasangan yang terus-menerus melakukan silent treatment manipulatif selama bertahun-tahun, pola ini akan menjadi siklus kekerasan emosional yang berulang dan melelahkan.

Bella menyarankan agar pasangan yang menghadapi silent treatment manipulatif bisa mencoba menyadarkan pasangannya. "Kalau bisa disadarkan saat itu juga, maka sadarkanlah bahwa perilaku tersebut tidak tepat dan bisa menyakiti pasangan," ujarnya.

Namun, jika pasangan terus-menerus menyangkal (denial) dan tidak mau berubah, maka perlu dipertimbangkan apakah hubungan tersebut masih layak dipertahankan atau lebih baik dilepaskan.

Di sisi lain, jika silent treatment terjadi sebagai bentuk mekanisme pertahanan diri, pasangan perlu diberi kesadaran dan dukungan. Jika individu yang melakukan silent treatment menyadari dan mampu mengomunikasikan dengan baik bahwa mereka butuh waktu untuk menenangkan diri, maka hal ini tidak akan berdampak negatif bagi hubungan.

Bella juga menambahkan bahwa ketika seseorang menyadari dirinya memiliki tipe silent treatment yang bersumber dari pengalaman masa lalu—baik itu trauma, situasi krisis yang menyebabkan stres, maupun tekanan hidup seperti kedukaan atau kehilangan—maka penting untuk mendapatkan dukungan. 

“Ada baiknya memberikan dukungan dan selesaikan permasalahan masa lalu pasangan melalui jalur profesional ahli entah konseling, atau layanan terapi,” ujarnya. **

Editor : Miftahul Khair
#Silent treatment #komunikasi #masalah