PONTIANAK POST - Dosen IAIN Pontianak, Bella Yugi Fazny, M.Pd menjelaskan bahwa silent treatment bisa muncul dari kelelahan emosional dalam hubungan. Menurutnya, ada silent treatment yang terjadi ketika seseorang menjadi korban dalam hubungan yang mengontrol.
“Merasa lelah untuk memberikan respons apapun karena seolah-olah hubungan tersebut sudah diatur sepenuhnya oleh pasangannya," jelas Bella.
Selain itu, ada juga kondisi di mana pasangan yang melakukan silent treatment sebenarnya adalah pihak yang merasa menjadi korban.
Contohnya, ketika seorang laki-laki melakukan power abuse, yang mana pasangannya tidak diberikan kesempatan untuk berkomunikasi, berbicara, atau berpikir.
Dalam situasi konflik, si perempuan merasa tidak punya kesempatan menyampaikan pendapat karena pengalaman buruk di masa lalu, misalnya kekerasan fisik atau emosional.
Di luar kasus yang dipicu oleh pengalaman traumatis, ia menilai idealnya seseorang yang tumbuh dengan kesehatan mental yang baik akan mengomunikasikan masalah dengan sehat dan setara.
“Ambil waktu bersama pasangan mencari solusi, menjembatani ide bersama, dan respek dalam komunikasi,” imbuhnya.
Untuk membantu menyelesaikan masalah, seseorang bisa menggunakan media komunikasi yang lebih nyaman baginya. Misalnya, ada yang lebih nyaman menyampaikan perasaan melalui tulisan atau teks agar bisa lebih ekspresif dalam mendeskripsikan perasaannya.
Selain itu, menerapkan bahasa kasih juga dapat membantu dalam komunikasi, misalnya dengan memberikan afirmasi atau penghargaan kecil kepada pasangan yang bersedia berdiskusi. (sti)
Editor : Miftahul Khair