Dalam kehidupan rumah tangga, ada kalanya salah satu pasangan mengalami kelelahan yang mendalam, bukan hanya fisik, tapi juga mental dan emosional. Burnout pada istri bisa terjadi karena banyak hal seperti tekanan pekerjaan, kurangnya waktu untuk diri sendiri, bahkan perasaan tidak dihargai.
Oleh: Siti Sulbiyah
Istri, dalam banyak rumah tangga memegang begitu banyak peran sekaligus. Ia jadi pengatur rumah, pengasuh anak, pasangan hidup, juga tak jarang ikut menopang ekonomi keluarga. Dan hebatnya, ia menjalankan itu semua hampir tanpa henti. Tapi sesabar dan sekuat apapun seseorang, manusia tetap punya batas.
Bukan tak mungkin seorang istri mengalami burnout. Bukan cuma soal capek secara fisik, namun kondisi in tentang perasaan hampa, kehilangan energi, dan nggak tahu lagi harus mulai dari mana.
Psikolog Klinis, Ghulbuddin Himamy, M.Psi, Psikolog mengatakan burnout atau kelelahan mental bisa saja terjadi pada semua orang, apalagi seorang Istri. Bahkan, istri kerap menjadi kelompok yang rentan mengalami kondisi ini, terutama karena tekanan yang datang dari dalam rumah tangga.
“Tanda-tanda paling utama sang Istri mengalami burnout yaitu Istri selalu merasa kelelahan baik secara fisik, emosional dan mental,” katanya.
Ghulbuddin menjelaskan, meskipun seorang istri sudah mendapatkan waktu istirahat yang cukup, ia tetap bisa merasa lesu dan kehilangan semangat untuk menjalani aktivitas sehari-hari. Perubahan suasana hati yang drastis juga menjadi ciri khas burnout. Istri bisa menjadi sangat mudah tersinggung, bahkan terhadap candaan ringan, atau tiba-tiba menangis serta marah berlebihan dalam merespons situasi tertentu.
Tak jarang, perasaan bersalah dan tidak berguna pun turut menghantui, merepotkan dan merasa sedih serta kecewa terhadap keadaan. Keseimbangan pola tidur dan pola makan yang terganggu juga bisa menjadi indikator adanya burnout.
Lebih lanjut, Ghulbuddin menyebutkan bahwa faktor utama penyebab burnout pada istri bukan hanya berasal dari pekerjaan formal atau beban kantor, melainkan lebih banyak dipicu oleh situasi dan tekanan di dalam rumah.
Masalah finansial, kelelahan dalam mengurus anak, serta beban menjaga rumah tetap rapi menjadi pemicu. Tuntutan sosial yang tinggi terhadap peran istri, mulai dari menjadi ibu yang baik, istri yang siaga, hingga perempuan yang mandiri secara finansial, membuat banyak istri merasa tertekan dan kelelahan secara psikis.
“Tuntutan menjadi istri yang serba bisa dalam mengurus rumah rapi, anak yang sehat dan pintar mengurus suami serta pandai mencari uang membuat istri memiliki beban dan tantangan sendiri,” jelasnya.
Ungkapan “Happy Wife, Happy Life” bukan sekadar slogan manis semata. Menurutnya, kebahagiaan seorang istri ternyata memiliki dampak besar terhadap kondisi emosional dan kesehatan mental seluruh anggota keluarga, termasuk suami dan anak-anak.
Namun, ketika istri mulai menunjukkan tanda-tanda burnout, maka peran suami menjadi sangat krusial. Ghulbuddin menekankan pentingnya kepedulian dan kepekaan suami terhadap kondisi pasangannya.
“Maka dari itu, seorang suami sebaiknya memahami jika Istri sudah menunjukkan tanda-tanda ke arah burnout sebaiknya lebih peka dan peduli dikarenakan hal ini akan sangat mempengaruhi hubungan emosional dengan suami,” katanya.
Saat istri mulai sering mengeluh, mudah marah, atau merasa kewalahan, namun tidak mendapatkan empati, dihargai, atau didengarkan oleh pasangannya, stres pun tak terhindarkan. Dalam jangka panjang, stres yang terus menumpuk ini bisa berkembang menjadi burnout.
“Inilah kenapa begitu pentingnya dukungan suami atas apa yang istri rasa dan lakukan. Rasa saling mau mengerti, saling menghargai dan berbagi beban,” ujarnya.
Lebih dari sekadar persoalan kelelahan, burnout yang tidak ditangani bisa membawa dampak serius pada kelangsungan rumah tangga. Ghulbuddin mengingatkan, jangan sampai rasa lelah yang terus menerus tanpa adanya perubahan membuat istri berpikir bahwa perceraian adalah solusi terbaik.
Istri stres dengan rutinitas dan beban kerja di rumah yang tidak pernah selesai ditambah lagi kontribusi suami tidak sebanding, dan komunikasi yang tidak baik antara suami istri, lambat laun akan memperkeruh hubungan dengan pasangannya.
“Kurangnya hiburan sebagai ajang pelepas stres istri, sampai masalah finansial pun bisa membuat istri berpikir bahwa bercerai adalah jalan yang lebih baik dibandingkan mempertahankan pernikahan,” tuturnya. (*)
Editor : Miftahul Khair