Sepatu roda bukan lagi sekadar olahraga musiman, tetapi telah menjadi gaya hidup sehat yang menyenangkan bagi banyak warga Pontianak. Hal ini tergambar dalam geliat Komunitas Sepatu Roda Pontianak atau Pontianak Inline Community, sebuah komunitas yang menjadi wadah para pecinta sepatu roda dari berbagai usia, termasuk anak-anak dan orang tua.
Oleh : Siti Sulbiyah
PONTIANAK POST - Dengan raut wajah ceria dan penuh semangat, puluhan anak meluncur bebas di atas permukaan lantai di halaman lantai 1 Gaia Bumi Raya City, Jumat (2/5) malam. Sesekali mereka tertawa saat mencoba bermanuver dan beradu paling cepat dengan sesama mereka. Ada juga yang mencoba melewati halangan berbentuk zig-zag.
Suasana semakin meriah dengan sorakan kecil, menjadikan area tersebut bukan hanya tempat bermain, tetapi juga ruang tumbuh untuk keberanian dan keterampilan. Ini adalah kegiatan rutin anak-anak yang tergabung dalam Pontianak Inline Community.
Berdiri sejak tahun 2020, Komunitas Pontianak Inline Community berawal dari pertemuan santai beberapa orang yang memiliki hobi serupa, lalu membuat grup WhatsApp, hingga akhirnya membentuk komunitas.
Salah satu anggota komunitas, Indah, menyampaikan bahwa total anggota yang terlibat, termasuk anak-anak, telah mencapai lebih dari 200 orang. "Karena biasanya satu keluarga suka main sepatu roda," ujarnya.
Kecintaan Indah terhadap sepatu roda sudah dimulai sejak kecil. Kini, hobi itu ia wariskan kepada anaknya. “Anak ternyata suka juga. Pandemi kemarin jadi momen untuk hidup lebih sehat, saya pun cari olahraga yang disukai, dan sepatu roda jadi pilihan yang pas,” ungkapnya.
Meski tergolong olahraga yang punya risiko, sepatu roda tetap menjadi favorit. Indah sendiri belajar secara otodidak. “Kuncinya berani. Kalau takut-takut, nggak bakal bisa. Risiko jatuh itu pasti, yang jago-jago pun masih bisa jatuh.” katanya.
Salah satu kegiatan rutin yang dilaksanakan komunitas ini adalah Rebo Rolling, atau bersepatu roda bersama pada malam rabu. Titik kumpul utama komunitas ini berada di kawasan Universitas Tanjungpura (Untan). Rute yang dilalui bervariasi, meliputi jalan-jalan utama seperti Gajah Mada, Sungai Jawi, Ampera, hingga Kota Baru.
“Rutenya bisa berubah-ubah tiap pertemuan, yang penting jalannya layak dan aman untuk dilalui sepatu roda,” jelasnya.
Kegiatan rolling ini biasanya berlangsung selama dua jam, mulai pukul 19.30 hingga 20.00, yang diselingi dengan istirahat untuk minum bersama.
Rebo Rolling biasanya menempuh jarak sekitar 10 km. “Kalau dikumpulkan, peserta bisa sampai 30 orang, tapi yang rutin hadir tiap minggu sekitar 10 orang,” ujar Satria, anggota lainnya.
Kegiatan ini dilakukan di jalan raya, namun tetap mengedepankan keselamatan. “Yang ikut Rebo Rolling hanya orang dewasa yang sudah bisa mengerem dan paham penggunaan sepatu roda. Peserta yang lebih mahir akan menjaga di depan dan belakang. Kami juga pakai lampu hazard, dan kebetulan ada anggota yang polisi, jadi bisa bantu teknis pengamanan di jalan,” jelasnya.
Rute yang dipilih pun selektif. Mereka hanya melewati jalanan dengan aspal yang bagus dan menghindari trotoar yang tidak rata untuk mengurangi risiko terjatuh.
Uniknya, Rebo Rolling bukan hanya ada di Pontianak, tapi juga merupakan kegiatan yang dilakukan oleh komunitas sepatu roda di berbagai daerah di Indonesia.
Komunitas ini cukup terbuka. Hari Minggu misalnya, banyak orang dewasa yang baru ingin belajar. Meski belajar di usia dewasa lebih menantang karena masalah fisik. Walau begitu, mereka biasanya lebih mudah memahami instruksi.
"Belajar sepatu roda biasanya butuh 7 sesi, masing-masing 1,5 jam. Biasanya sebulan sudah bisa," terang Walin.
Walin, anggota lain yang aktif, menyebut bahwa ia kerap bermain sepatu roda bersama keluarganya. “Saya memang cari olahraga yang bisa dilakukan bareng anak-anak. Kalau harus olahraga sendiri, susah bagi waktu. Tapi dengan sepatu roda, bisa seru-seruan sekeluarga,” ungkap perempuan berusia 36 tahun ini.
Meski begitu, Walin mengakui ada tantangan tersendiri, terutama bagi yang mulai di usia dewasa. “Kadang semakin tua semakin takut, tubuh juga sudah kaku. Tapi tetap bisa kok, asal berani nyoba,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa ada standar tersendiri dalam memilih sepatu roda tergantung tempat bermain dan kebutuhan. “Kalau untuk main-main, biasanya dipakai di lantai yang agak licin. Tapi kalau di jalan raya, sepatu rodanya beda lagi. Untuk atlet juga beda tergantung cabang yang digeluti,” paparnya.
Para anggota komunitas ini lebih banyak bergerak di gaya bermain freestyle, bukan fokus pada turnamen. Walin berharap, ke depan, olahraga sepatu roda di Pontianak bisa lebih terorganisir.. Sebab bila melihat potensinya ia menilai cukup besar. “Sebenarnya ada anak-anak yang potensial, tapi karena kurang pelatih dan fasilitas, jadi sulit berkembang,” harapnya.**
Walin
Keseimbangan Jadi Tantangan
Olahraga sepatu roda bukan hanya menyenangkan dan memberikan manfaat besar bagi tubuh, tapi juga menantang. Walin, perempuan yang hobi bermain sepatu roda mengakui salah satu tantangan dalam memainkan olahraga ini adalah keseimbangan.
“Kesulitannya di keseimbangan. Kadang kalau kita jalannya tidak fokus, bisa langsung oleng. Untuk yang pertama kali main, pasti badan terasa sakit,” ungkap Walin.
Menurutnya, sepatu roda melibatkan kerja tubuh secara menyeluruh, bukan hanya kaki. Meski kaki harus kuat menahan, tapi seluruh badan juga bekerja menjaga keseimbangan supaya tidak jatuh. Aktivitas ini secara alami melatih otot dan koordinasi gerak.
Walin pun membagikan pengalamannya melihat perubahan positif pada anak-anak yang ikut bermain sepatu roda. Salah satu anak yang mengalami obesitas bahkan meminta bantuan untuk menurunkan berat badan. Setelah rutin bermain sepatu roda, berat badannya mulai turun. “
Anak-anak sekarang kurang bergerak, dan sepatu roda bisa jadi solusi. Mereka merasa sedang bermain, padahal sebenarnya sedang berolahraga,” ujarnya. Melalui kegiatan sepatu roda, ia ingin mendorong lebih banyak keluarga untuk aktif bergerak bersama anak-anak. (sti)
Satria
Tidak Mudah Sakit Pinggang
Sepatu roda bukan sekadar aktivitas rekreasi, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan nyata, terutama bagi kebugaran jantung dan kelenturan tubuh. Hal ini diungkapkan oleh Satria, pehobi sepatu roda sekaligus anggota Pontianak Inline Community, yang telah merasakan langsung perubahan positif setelah rutin bermain sepatu roda.
“Semenjak main sepatu roda ini saya sudah nggak gampang sakit pinggang. Umur saya sudah hampir empat puluh, tapi pinggang tetap terasa kuat,” ujar Satria.
Ia juga mengakui bahwa pernapasannya kini jauh lebih baik. “Dulu waktu main futsal gampang ngos-ngosan, tapi sekarang setelah rutin sepatu roda, nafas jadi lebih plong," katanya.
Menurutnya, manfaat sepatu roda tak hanya dirasakan oleh orang dewasa. Untuk anak-anak, olahraga ini dapat membantu pertumbuhan dan melatih kelenturan tubuh. Gerakan dinamis dan ritmis dalam bermain sepatu roda menstimulasi motorik, keseimbangan, dan fleksibilitas otot anak secara alami dan menyenangkan.
Namun, Satria menyayangkan masih minimnya dukungan dari pemerintah terhadap olahraga ini. “Saat ini belum ada arena khusus untuk sepatu roda. Memang ada skatepark, tapi itu lebih banyak dipakai pemain skateboard, bahkan pengunjung umum juga sering bermain di sana,” jelasnya.
Ia berharap ke depan akan ada arena khusus, terutama untuk freestyle skating. “Apalagi sekarang sepatu roda juga sudah berkembang jadi cabang olahraga resmi seperti speed skating. Harusnya ada perhatian lebih agar komunitas bisa berkembang,” tambahnya. (sti)
Editor : Hanif