Ada sejumlah atlet pencak silat remaja yang berprestasi dari Kalimantan Barat. Mereka mengukir capaian bergengsi baik di kancah lokal, nasional, maupun internasional. Bagaimana prestasi dan kisah mereka?
Oleh : Siti Sulbiyah
Seperti remaja dari Kubu Raya, Via Auriandari, yang telah mengenal pencak silat sejak masih taman kanak-kanak, dan mulai mengikuti pertandingan sejak duduk di bangku kelas empat sekolah dasar. Ketertarikannya terhadap pencak silat tidak datang begitu saja. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang memang akrab dengan olahraga bela diri tradisional tersebut.
"Dari ayah, abang, saya, dan adik, memang ikut silat. Abang saya sekarang sudah jadi tentara di TNI AU, itu juga berkat pencak silat," ucap remaja berusia 15 tahun ini.
Turnamen pertamanya adalah POPDA tahun 2019. Sejak itu, Via aktif mengikuti berbagai kompetisi, termasuk kejuaraan dunia di Sarawak, Malaysia, pada tahun 2023, yang diikuti oleh 22 negara. Ia turun di kategori laga remaja. "Semua lawan sulit," tuturnya singkat.
Via juga sudah pernah berlaga di POPDA 2023 dan kini tengah mempersiapkan diri untuk tampil di ajang POPNAS 2024 yang akan digelar di Solo. Ia berharap bisa menang dan lolos ke ASEAN Schools Games, sebagai jenjang tertinggi yang saat ini menjadi targetnya.
Saat ini, Via yang tergabung dalam Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah ini berada di kelas laga remaja. Sebelumnya, ia sudah melewati tahapan usia dini dan pra-remaja. Untuk mendukung penampilannya, latihan dilakukan setiap hari dengan durasi tiga hingga empat jam, yang dibagi dalam beberapa sesi.
"Kadang pagi, sore malam, kadang sore dan malam. Latihannya sama ayah yang juga coach silat," ungkapnya.
Untuk mengikuti sebuah kompetisi, persiapan yang dilakukan Via bisa memakan waktu hingga satu tahun. Apalagi, turnamen rutin digelar sehingga ia harus tetap menjaga performa.
Nama lain yang kerap mengharumkan nama Kalimantan Barat dalam olahraga pencak silat adalah Kanya Nadhira Delisha, siswi SMP Muhammadiyah 1 Pontianak.
"Dari SD sudah terbiasa lomba. Dari awal memang ke seni tunggal," kata Kanya yang bergabung dalam naungan Perguruan Pencak Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah ini.
Kendati demikian, Kanya mengaku sempat sulit menghafalkan gerakannya. "Lumayan susah menghafalkan, betulkan gerakannya sama ketepatan jurusnya, dan harus pas tiga menit," tuturnya.
Kanya sempat menjadi sorotan saat terpilih oleh Panglima Kodam XII Tanjungpura melalui proses seleksi dan verifikasi sebagai atlet binaan dalam Kejuaraan Terbuka Pencak Silat Piala KASAD ke-1 tahun 2023. Saat itu, Kanya yang baru berusia 11 tahun adalah kontingen termuda dari 36 atlet utusan Kodam XII/Tanjungpura. Hebatnya, ia meraih medali emas di kategori Seni Tunggal Putri tingkat SD.
Dalam seni tunggal, ia harus menguasai tujuh gerakan tangan kosong, empat golok, dan tiga toya. Semua digabung dalam satu penampilan yang berlangsung tiga menit. Salah satu gerakan tersulit baginya adalah tentangan kuda.
"Latihan hampir setiap hari dari setelah isya sampai jam 10 malam. Besok paginya sekolah, kadang mengantuk," ceritanya.
Meski sore masih harus ikut les, semangatnya tak pernah surut. Meski sempat menangis karena kelelahan, bahkan sampai harus istirahat latihan selama satu bulan, Kanya tetap gigih. Ia ingin menjadi atlet hingga dewasa. "Jadi atlet jadi lebih disiplin, mandiri, dan lainnya," ujarnya.
Saat turnamen bertepatan dengan ulangan sekolah, Kanya tetap berusaha maksimal meskipun harus ikut ujian susulan. "Targetnya dapat hasil maksimal sesuai dengan usaha," ucapnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kalimantan Barat, Lettu Sukino, menyebut bahwa pembinaan atlet tidak hanya fokus pada fisik, tetapi juga ada pelajaran tertulis. “Tapi memang banyak praktiknya,” ujarnya.
Menurutnya, atlet Kalbar yang sudah sampai ke jenjang nasional mungkin jumlahnya sudah mencapai ratusan. “IPSI sudah bisa mengirim atlet ke nasional maupun internasional. Sebelumnya Kalbar bisa mengirim satu atlet dalam ajang PON yang sebelumnya selama delapan tahun belum pernah berpartisipasi,” katanya.
Ia berharap di bawah kepemimpinan Gubernur Kalbar saat ini pembinaan pencak silat bisa lebih diperjuangkan. "Mudah-mudahan kepemimpinan Gubernur Kalbar Norsan sekarang bisa memperjuangkan (silat)," tuturnya.
Tantangan utama para atlet, menurutnya, adalah kedisiplinan. Namun sejauh ini tren menunjukkan arah positif. “Dulu banyak pelatih atau guru yang mencari atlet, sekarang yang terjadi sebaliknya. Artinya ada perkembangan, banyak yang memandang penting bela diri satu ini,” ungkapnya. Apalagi, banyak atlet silat yang berhasil masuk TNI/Polri lewat jalur prestasi.
"Di Kalbar ini atlet silat juga sangat potensial. Kami berharap pemerintah bisa memperhatikan atlet dengan memberikan fasilitas dan apresiasi yang semaksimal mungkin," pungkasnya.**
Editor : Hanif