Demam berdarah dengue (DBD) menjadi salah satu masalah kesehatan yang masih berkembang di berbagai wilayah, termasuk Indonesia. Penyakit ini menyebar dan menimbulkan risiko serius bagi kesehatan masyarakat. Karena itu, penting untuk mengenali gejala awal dari penyakit ini.
Oleh: Siti Sulbiyah
Kasus demam berdarah dengue (DBD) menunjukkan tren peningkatan secara global. Sepanjang tahun 2024, tercatat hampir 14 juta kasus dengan jumlah kematian lebih dari 10.000 jiwa. Hal ini menunjukkan ancaman serius dari penyakit dengue yang perlu mendapat perhatian bersama.
“Salah satu penyebabnya adalah perubahan iklim, dan urbanisasi menjadi penyebab,” ungkap Ketua Tim Kerja Arbovirosis Kementerian Kesehatan, Fadjar SM Silalahi dalam Webinar Upaya Bersama dalam Penanggulangan Dengue: Indonesia Menuju Nol Kematian Akibat Dengue, oleh Kementerian kesehatan RI, pekan lalu.
Ia menyebutkan bahwa hampir seluruh wilayah Indonesia telah tergolong merah. “Hampir semua wilayah Indonesia itu merah artinya merah sudah endemis, endemis yang sangat tinggi ya karena kasusnya banyak sekali,” katanya.
Tercatat pada 2024 terdapat 257.000 kasus dengan kematian 1400 orang yang meninggal. Karena itu, ia menekankan pentingnya pencegahan karena dengue merupakan penyakit yang sebenarnya bisa dihindari.
“Betapa banyaknya yang meninggal ya akibat denggi. Padahal sebenarnya dengge atau yang kita kenal di masyarakat adalah DBD itu adalah penyakit yang bisa kita cegah, bisa kita hindari bahkan bisa terhindar dari kematian,” tuturnya.
Untuk wilayah Kalimantan Barat, data Kemenkes RI mencatat sebanyak 209 kasus hingga April 2025, dengan nol kasus kematian.
Infeksi dengue disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk ini aktif menggigit di pagi hingga sore hari, saat aktivitas manusia cenderung tinggi.
Adapun jentik nyamuk penyebab infeksi dengue, lanjutnya, sering ditemukan pada genangan air atau air yang tidak mengalir.
Tentang mekanisme penularannya, Fadjar menjelaskan bahwa nyamuk sehat menggigit penderita DBD, lalu membawa virus tersebut dan menularkannya ke orang lain saat menggigit kembali
Ia menambahkan, satu ekor nyamuk bisa menggigit hingga enam orang atau lebih. “Nah, kalau enam orang itu terkena virus dengue dari nyamuk yang tadi menggigit, keenamnya itu bisa terkena DBD atau infeksi dengue. Makanya kenapa kasus kita ini sangat banyak karena memang pola kerja nyamuk seperti itu,” lanjutnya.
Lebih jauh, Fadjar juga mengingatkan tentang transmisi vertikal atau transovarial, di mana nyamuk sudah mengandung virus sejak dalam telur. Artinya, tanpa menggigit orang yang sakit pun, seekor nyamuk bisa menularkan virus dengue karena memang sudah membawa virus sejak awal.
Ia mengatakan bahwa nyamuk Aedes Aegypti cenderung tertarik pada tubuh manusia yang hangat dan berbau keringat. “Apalagi kalau orang yang sedang sakit demam. Atau juga pada kondisi gelap kemudian bau tubuh kita, atau pakaian-pakaian kita yang bawa keringat. Nah, itu biasanya dia suka nempel di situ,” paparnya.
Mengenai gejala awal infeksi dengue, Fadjar menjelaskan bahwa sebagian besar diawali dengan demam. Walaupun begitu, ada pula yang tidak mengalami demam, lantaran memiliki daya tahan tubuh yang bagus.
“Tetapi kalau yang yang menimbulkan gejala demam itu harus hati-hati. Jangan-jangan dia DBD. Kalau enggak diatasi akan menyebabkan kematian,” tuturnya.
Ia mengingatkan gejala demam dengue biasanya muncul mendadak dengan suhu tinggi. “Yang kita waspadai kalau ada demamnya, demam yang mendadak tinggi, kemudian lebih dari 39 derajat bahkan 40 derajat Celcius,” tambahnya.
Ia menjelaskan bahwa demam akibat virus umumnya muncul secara mendadak dengan suhu yang tinggi. Namun, terdapat banyak jenis virus, bukan hanya virus dengue. Karena itulah, ia mengimbau masyarakat untuk mengamati gejala-gejala penyerta DBD.
“Kita lihat gejala lain sakit kepala, sakit sendi, kalau ada bercak-bercak merah di kulit, bintik-bintik,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kondisi bisa menjadi serius apabila demam tersebut ternyata disebabkan oleh infeksi dengue, sehingga tidak boleh dianggap remeh. Ia menekankan pentingnya kewaspadaan, terutama jika demam berlangsung lebih dari dua hari dengan suhu yang sangat tinggi dan tidak juga turun meskipun sudah diberi obat penurun panas seperti parasetamol.
“Kemudian ada gejala-gejala tambahan, bahkan ada mual muntah, sakit perut. Hati-hati ini bisa saja demam karena infeksi dengue dan ini segera diperiksakan ke puskesmas, ke dokter atau ke rumah sakit untuk cepat mendapat diagnosa,” tuturnya. **
Editor : Miftahul Khair